Kamis, 23 November 2017

Mengenang dan Meluruskan Sejarah Muallim Haji Darip dan Pertempuran Klender 1945

Di Klender, Klari, Bekasi, Kebayoran lama, Tangerang, dan daerah Banten, para Kyai, dan Alim Ulama mulai menyusun kekuatan untuk menentang Jepang, kemudian juga menghadapi Belanda dan Sekutu. Disebarluaskan anjuran agar mempersenjatai diri dan membentuk Badan Keamanan Rakyat dan Komite Nasional Ranting yang diketuai oleh pimpinan setempat yang disegani. Tumbuhlah kemudian pasukan-pasukan seperti pasukan Muallim Haji Darip di Klender, Pemuda Sawah Besar yang dipimpin oleh Hamid Yunus Lubis, mahasiswa Yakugaku, Pemuda Pasar Senen, Pemuda Menteng, dan lain-lain yang kebanyakan dipimpin mahasiswa Ika Daigaku, Yakugaku, atau Sekolah Tinggi Islam. Dewasa itu Jakarta belum mempunyai pasukan bersenjata, kecuali Polisi Istimewa, antara lain "Barisan Macan" dari Inspektur Kusno Utomo. Kedatangan lebih kurang 500 pasukan dari Bekasi dan sekitarnya merupakan modal kekuatan yang pertama. Pasukan-pasukan ditempatkan dibagian ibukota. Antara lain, terkenal pula dewasa itu pasukan Muallim Haji Darip. Suatu malam terjadi pertempuran dengan NICA di Bidara Cina dan stasiun Jatinegara. Pasukan ini berada di ibukota lebih kurang setengah bulan dengan pos komando berganti-ganti di Pegangsaan 56, Seksi VII Jatinegara, kemudian di Hopbiro Polisi. Senjata-senjatanya bekas rampasan detasemen-detasemen Polisi diluar kota, hasil perlucutan kompi Jepang yang lewat dengan izin Menteri Subarjo di Bekasi, dan senjata bawaan bekas Syodanco Singgih dari Jawa Tengah. Dapur umumnya berada di markas "Merah Putih" Jatinegara. Kekuasaan bersenjata yang sedikit, barisan polisi istimewa dipergunakan untuk mengawal pribadi-pribadi pimpinan kita, karena offencife NICA sudah mulai merupakan teror untuk menggoncangkan batin kaum terpelajar kita. BKR diadakan, akan tetapi masih perlu waktu untuk menyusun diri dan masih perlu pula peralatan. Buat taraf yang pertama ia baru merupakan pos-pos pengurus belaka. Dalam vacuum ini didatangkan pasukan dari Klender, Bekasi, Cikarang, dan Cakung, yang dipimpin oleh Hasibuan dari Bekasi (yang secara populer dinamai "Panglima" dewasa itu) serta Muallim Haji Darip dan kemudian dikuasakan oleh pimpinan negara menanggung jawab pertahana Jakarta (Timur) dan sekitarnya. Lebih kurang setengah bulan pasukan-pasukan ini menduduki ibukota, khusus bagian-bagian Tenggara dan Timur.


Pada waktu itu BKR berkedudukan di pabrik es sebelah asrama brimob cipinang sekarang, sedangkan kesatuan-kesatuan yang dipimpin Muallim Haji Darip terpencar di seluruh Jatinegara dan Muallim Haji Darip tetap aktip melakukan tugas spionase untuk kepentingan pejuang-pejuang RI. Klender Waktu Itu Masih Sangat Sepi, Apalagi Malam Hari. Sekitar Daerah Sana Masih Merupakan Hutan Lebat. Pitoyo Yang Bersenjatakan Pistol Vickers Parabellum Berjaga-jaga Seorang Diri Di Teras Rumah. Ia Selalu Awas Dan Waspada. Menjelang Tengah Malam, Keluarga Haji Darip Menyajikan Nasi Hangat, Sayur, Emping Goreng, Dan Sambal Kemiri. "Nikmatnya masih terasa hingga sekarang" kata Pitoyo mengenang masa itu.



Pada tanggal 11 oktober 1945, serdadu-serdadu Belanda dan Inggris menggempur Klender. Selain mengerahkan Infanteri, mereka mengerahkan kendaraan-kendaraan berlapis baja dan pesawat terbang. Kekuatan musuh tertumpah ke daerah ini. Senjata-senjata berat musuh menghantam Klender sebagai pintu gerbang menuju Bekasi. Pasukan sekutu bergerak terus dengan didahului tank-tank raksasa. Muallim Haji Darip pemimpin laskar Klender yang sangat terkenal dan setia kepada Republik itu tidak dapat mempertahankan daerahnya. Klender jatuh ke tangan musuh dan dengan terpaksa daerah itu di tinggalkan oleh para laskar dan TKR.



19 Desember 1945 dengan menggunakan berpuluh-puluh truk serdadu Belanda yang dibantu serdadu Inggris dan Gurkha menggerebeg penjara Cipinang, pasukan Muallim Haji Darip menggagalkan usaha mereka. Maksudnya untuk membebaskan tawanan-tawanan Belanda. Penjara Cipinang adalah salah satu benteng pasukan-pasukan Bekasi. Markas pimpinan pertempuran biasanya bertempat di Seksi VII Polisi Jatinegara. Pada Waktu Pengakuan Kedaulatan R.I 1949, Muallim Haji Darip Kembali Ke Jatinegara, Menyusun Kekuatan Yang Ada, Dan Tidak Lupa Memberikan Penerangan-penerangan Yang Bermanfaat Bagi Pembangunan Kepada Rakyat. Muallim Haji Darip yang Selama Revolusi Fisik Aktif Berjuang, Berkorban, Giat Melancarkan Penyerbuan-penyerbuan, dengan Mempertaruhkan Jiwa Raganya untuk Kepentingan Nusa Dan Bangsanya, Karena Perjuangannya Itu Adalah Perjuangan Yang Suci Menegakkan Negara Republik Indonesia, Maka Selesai dalam Tugasnya, Ia Hidup Sebagai Rakyat Biasa, Ia Tidak Menuntut Jasa Dan Ia Tidak Menghendaki Balas Jasa.


Sumber : Dalam Gambar

Kisah Muallim Haji Darip dengan Pengawal Bung Karno

Sekali peristiwa, polisi pengawal pribadi selesai mengawal Bung Karno dan Bung Hatta dalam perjalanan ke Lemahabang. Di tengah jalan di stop oleh orang-orang bersenjata dan berusaha melucuti kami. Mereka menganggap perjalanan menuju Jakarta sangat berbahaya dan mungkin senjata kami akan dirampas oleh tentara Belanda. Mereka kemudian diberitahu bahwa kami adalah pengawal Presiden dan Wakil Presiden RI dan kalau tentara Belanda melucuti kami, maka kami akan melawan. Tidak jelas dari kesatuan apa mereka ini dan apakah mereka berniat jahat. Namun beberapa hari kemudian kami mendapat kiriman beras dari mereka yang jumlahnya cukup banyak. Pengiriman itu dengan kereta api dan tiba di stasiun Jatinegara. Ternyata mereka anak buah Haji Darif pemimpin rakyat Klender. Karena gerbong beras itu akan dirampok orang - maklum Jakarta sedang kekurangan beras - gerbong itu dipindah ke stasiun Manggarai yang letaknya lebih dekat dengan asrama kami. Dari stasiun Manggarai beras tersebut diangkut dengan truk ke asrama. Untuk sementara kami tidak kekurangan makan lagi.


Sumber : Kesaksian Tentang Bung Karno 1945 - 1967, Mangil Martowidjojo, Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia 1999, Halaman.17

Kamis, 09 November 2017

Selamat Hari Pahlawan

Dalam Rangka Mengenang Pahlawan Betawi Asal Klender Jakarta Timur Yang Tanpa Pamrih Tanpa Tanda Jasa...


Ulama Yang Jadi Jenderal Panglima Perang Pengusir Penjajah Jepang dan Belanda dari Bumi Indonesia...
Pendiri Barisan Rakyat (BARA) Indonesia Jakarta Raya...
Pendiri Barisan Perang Rakyat Indonesia (BPRI) Jakarta Jawa Barat...
Generalismo Klender 1945...


Al Fatihah Buat Segenap Para Pahlawan Diseluruh Pelosok Nusantara Indonesia, Khususnya Buat Almarhum Almaghfurlah Jenderal KH. Muhammad Arif bin H. Kurdin ( Kyai Haji Darip ) dan Bala Tentaranya di Klender Sekitarnya, dll.

"SELAMAT HARI PAHLAWAN"
10 NOVEMBER 1945
10 NOVEMBER 2017


Jumat, 03 November 2017

Ulama Akherat Pewaris Nabi Besar Muhammad Saw


Dalam Kitab Risalah Dua Ilmu Karangan Assayyid Al 'Allaamah Al Habib Utsman bin Abdulloh bin Aqil bin Yahya R.A (Mufti Betawi), Disebutkan Ulama itu Terbagi Dua, yakni Ulama Dunia (Su u'/Jelek/Buruk/Membawa Ke Neraka) dan Ulama Akherat (Baik/Bagus/Membawa Ke Surga).
Muslimin Muslimat Wajib Tau Biar Gak Tertipu.
Segera Beli Kitabnya dan Baca Agar Sodara Selamat Dunia Akherat...

Selasa, 31 Oktober 2017

Ulama Betawi : Kiprah Perjuangan Muallim Haji Darip Klender


H. Muhammad Arif atau biasa dipanggil H. Darip dilahirkan di Klender pada tahun 1886 dari pasangan H. Kurdin dan Hj. Nyai. Ia anak ketiga dari tiga bersaudara. Ia tidak menempuh pendidikan formal membaca dan menulis. Pelajaran membaca dan menulis huruf latin justru diperolehnya saat dipenjara dan belajar dari temannya. Dalam belajar agama, tidak diketahui kepada siapa H. Darip belajar agama akan tetapi ada kemungkinan ia belajar agama langsung kepada ayahnya.
            Pada tahun 1914 ia pergi haji ke Makkah dan langsung menetap di sana untuk memperdalam ilmu agama hingga kurang lebih dua tahun setengah (1916). Pulang dari Mekah, H. Darip mengawali perjuangannya dengan berdakwah di sebuah mushalla kecil, yang kini menjadi Masjid Al-Makmur yang cukup megah di Klender dan berjuang bersama para ulama lain, yakni KH Mursyidi dan KH Hasbullah. Selain dikenal sebagai da’i, ia juga seorang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai. Ia adalah seorang tokoh yang disegani masyarakat, daerah kekuasaannya mencakup Klender, Pulogadung, Jatinegara hingga sampai Bekasi.
            Pada saat terjadi revolusi fisik melawan Jepang dan Belanda, H. Darip membentuk BARA (Barisan Rakyat). Ia mengumpulkan para tokoh, pemuda dan jagoan yang tersebar di Klender dan sekitarnya. Di antara mereka yang ikut bergabung adalah H. Hasbullah (Kakak dari KH. Hasbiyallah) dan KH. Mursyidi. Mereka terlibat dalam pertempuran di beberapa front di kota Jakarta. H. Darip sendiri saat itu dijuluki "Panglima Perang dari Klender". Sebuah brosur dari Angkatan 45 DKI tanggal 17 Agustus 1985—empat tahun setelah Haji Darip meninggal dunia—menyebutkan, H. Darip pada zaman penjajahan Belanda (sebelum perang dunia kedua), berjuang bersama Soekarno bergerak di bawah tanah, terutama di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
            Ketika pendudukan Jepang, menyaksikan kekejaman pasukan Dai Nippon ini, H. Darip memimpin masyarakat di Klender dan menghimpun para jawara, narapidana dan napi Rutan Cipinang untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang. Sewaktu dia masih memimpin pergerakan dari Klender, banyak para pemimpin yang datang bahkan menginap di kediamannya, di antaranya  Soekarni, tokoh Murba, Kamaludin, Syamsuddin orang Padang, dan Pandu Kartawiguna. Mereka menginap di rumah H. Darip dan menyatakan kepadanya bahwa sebentar lagi Indonesia akan merdeka dan mereka membicarakan pengusiran orang Jepang.
            Anak buah H. Darip yang tergabung dalam BARA dimandikan oleh H. Darip kemudian diisi badannya dengan ilmu kebal lalu dicoba dengan dibacok badannya dengan golok. Setelah dirasa memiliki ilmu kebal maka pasukan BARA diperbolehkan untuk berjuang mengusir Jepang. H. Darip memerintahkan anak buahnya untuk menyerbu dan mengusir tentara Jepang di Pangkalan Jati, Pondok Gede, Cipinang Cempedak, sepanjang Kali Cipinang dan lain-lain. Anak buah H. Darip bahkan sampai membunuh tentara Jepang. Hal tersebut dilakukan oleh anak buah H. Darip karena jika tentara Jepang tidak dibunuh maka anak buah H. Darip yang terbunuh karena tentara Jepang mempunyai senjata api sedang anak buah H. Darip hanya mempunyai kekuatan fisik dan golok saja. Beberapa sumur di Klender dan sekitarnya tidak ada yang mau minum airnya karena penuh dengan bangkai tentara Jepang, begitupula dengan sungai Sunter yang dipenuhi dengan mayat tentara Jepang.
            Setelah berhasil mengerahkan rakyat yang dihimpun dan dipimpinnya untuk menghabiskan tentara Jepang yang bertugas di pinggiran, maka H. Darip menyadari bahwa kekuatan rakyat tidak akan berarti jika tidak dilengkapi dengan peralatan senjata, logistik dan persediaan makanan. Kira-kira seminggu sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, H. Darip mendatangi Camat Klender dan meminta segala pakaian rakyat yang akan dibagikan jangan dikeluarkan sebelum saatnya tiba dan menunggu komando darinya.
            H. Darip juga mendatangi kantor polisi yang masih di bawah kekuasaan Jepang. Ia meminta senjata-senjata yang ada di kantor polisi jangan diserahkan kepada Jepang, melainkan harus diserahkan kepada rakyat nanti. Lalu H. Darip menyuruh komandan polisi membuat pernyataan dan membubuhkan tanda tangannya untuk menyerahkan senjata kepada rakyat. Kemudian H. Darip pergi ke Seksi Tujuh. Ia bertemu dengan Darmatin dan Juhra anak Banten dan Sukahar dan meminta kepada mereka agar persenjataan yang ada di sana diserahkan kepada rakyat. Kemudian H. Darip menuju penjara Cipinang. Direkturnya diberi tahu hal yang sama dengan apa yang dikatakan pada Camat, Kepala polisi maupun Komandan Seksi VII. Pada saatnya pula nanti H. Darip meminta agar para tahanan dilepaskan. Ia juga datang ke Seksi V dan melakukan hal yang sama.
            Hari Proklamasi makin dekat dan keadaan makin panas saja. Tetapi dia telah mempersiapkan anak buahnya. Dia juga mendatangi gudang-gudang beras di Klender untuk memblokir beras yang ada jangan sampai keluar dari Klender. Maka jadilah Klender wilayah pertahanan yang merupakan gudang makanan dan persenjataan ala kadarnya.
            H. Darip mempersiapkan hal tersebut di atas setelah mendapat informasi dari Soekarni bahwa Indonesia sebentar lagi akan merdeka. Informasi itu diperoleh ketika terjadi serangan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945 oleh Amerika Serikat atas perintah Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman. Setelah pengeboman tersebut maka pada 15 Agustus, Jepang mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Berita ini diketahui oleh kalangan pemuda bangsa Indonesia melalui berita siaran radio BBC (British Broadcasting Corporation) London. Pada saat yang sama Soekarno dan Hatta baru kembali ke tanah air memenuhi panggilan Panglima Mandala Asia Tenggara, Marsekal Terauchi di Saigon, Vietnam.
            Saat kembali ke tanah air, Soekarno ditemui para pemuda untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB, Soekarno dan Hatta "diculik" dan dibawa ke Rengasdengklok, Karawang oleh para pemuda di antaranya Soekarni, Chaerul Saleh dan lain-lain. Dalam peristiwa Rengasdengklok itu, H. Darip menjadi saksi hidup ketika para pemuda mendesak Soekarno Hatta agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
          Kemudian Soekarno Hatta ditempatkan di suatu rumah yang tidak layak di pinggir kali. Lalu H. Darip meminta kepada Soekarni dan kawan-kawannya agar Soekarno Hatta di tempatkan di rumah yang layak karena Soekarno Hatta adalah calon pemimpin yang harus dihormati. Atas permintaan H. Darip maka Soekarni dan kawan-kawan menempatkan Soekarno Hatta di rumah perkampungan milik warga Tionghoa, Djiaw Kie Siong.
          Pada waktu itu Soekarno dan Hatta menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sementara golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Selain itu, hal tersebut dilakukan agar Soekarno dan Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Para golongan pemuda khawatir  apabila kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan bangsa Indonesia, menjadi seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang.
          Setelah melalui perundingan yang panjang akhirnya disepakati bahwa proklamasi kemerdekaan dilaksanakan pada 17 Agustus di Jakarta kemudian bendera Merah Putih dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Rabu tanggal 16 Agustus, sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.
            Pada akhirnya, tepatnya hari Jumat, 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan 09 Ramadlan 1364 H, Soekarno dan Muhammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Proklamasi kemerdekaan tersebut disambut suka cita oleh seluruh rakyat Indonesia, tak ketinggalan rakyat yang berada di Klender dan sekitarnya. Setelah proklamasi kemerdekaan, Soekarno berkunjung ke Klender dan memimpin rapat akbar di sana serta meminta rakyat Klender ikut membantu mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selanjutnya H. Darip memerintahkan rumah-rumah di Klender menaikkan bendera merah putih. Pabrik-pabrik di Klender, Cipinang, Jatinegara dan lain-lain diperintahkan mengganti bendera Jepang dengan merah putih. H. Darip juga meminta agar pabrik tidak mengeluarkan beras kecuali untuk makan laskar rakyat. Setelah berhasil menghimpun senjata, makanan dan pakaian, H. Darip memerintahkan anak buahnya untuk menjaga ketat wilayah Klender agar tidak dimasuki tentara Jepang atau mata-mata Jepang.
            Setelah Jepang menyerah dan kembali ke negerinya, Belanda dan tentara sekutu berusaha kembali menjajah Bangsa Indonesia. H. Darip bersama pasukan BARA bersiap-siap untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia sebagaimana yang diamanatkan oleh Soekarno saat rapat akbar di Klender.
            Pada suatu penyerangan, Klender berhasil diduduki Belanda dan sekutu sehingga H. Darip dan pasukan BARA hijrah ke beberapa tempat seperti Tambun, Cikarang, Lemah Abang, Bekasi, Cikampek, Karawang hingga ke Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia) Jakarta Raya. Dari tempat persembunyiannya—dengan pangkat Letnan Kolonel Tituler—ia bermarkas di Purwakarta dan menyusun strategi melawan NICA Belanda.
            Suatu ketika benteng pertahanan di Purwakarta diserang oleh Belanda melalui hujan bom dan peluru dari udara dan darat sehingga H. Darip dan pasukannya harus mengungsi ke hutan. Perjalanan ke hutan sangat memprihatinkan, terlebih di antara 4 (empat) isteri H. Darip ada yang sedang hamil dan ada yang mempunyai bayi yang masih kecil. Mereka harus turun naik bukit, menyebrang sungai dan menahan lapar dan dahaga. Jika rasa lapar dan dahaga tidak tertahankan mereka singgah ke rumah penduduk setempat untuk meminta makanan dan minuman. Di kemudian hari untuk keselamatan anak dan isteri-isterinya, H. Darip mengirimkan mereka ke Klender dan berpesan agar tidak memberitahukan kepada siapapun tentang posisi H. Darip dan pasukannya.
            Pada saat memasuki bulan puasa, H. Darip dan pasukannya tetap berpuasa dan berjuang melawan Belanda. Mereka dari Parakan Lima menuju hutan Cempaka, hutan Bendul, Kembang Kuning dan Cibatu. Di hutan Cempaka H. Darip menghimpun kekuatan dan mengatur strategi untuk menyerang musuh. Pertahanan Belanda di Purwakarta kerapkali dibuat panik oleh serangan mendadak yang tidak terduga di malam hari atau menjelang subuh hingga suatu ketika Jayusman, anak buah H. Darip yang berasal dari Banten tertangkap. Ia ditembak tetapi tidak mempan dan akhirnya ia tewas setelah dipulir kepalanya.
            Belanda berusaha keras untuk menangkap H. Darip akan tetapi usaha itu sia-sia. Bahkan Belanda menjanjikan hadiah besar bagi orang yang bisa menangkap H. Darip. Pada akhirnya Belanda mengirim mata-mata untuk bergabung dan menjadi anak buah H. Darip. Tersebutlah Jami dan Sarosa yang menjebak dan membujuk H. Darip agar pergi ke Jogjakarta untuk kembali dekat dengan Soekarno. Sejak Januari 1946 Ibukota memang pindah dari Jakarta ke Jogjakarta.
            Sarosa berangkat mendahului. Kemudian menyusul H. Darip, Jami dan Entong, anak perawat kuda yang berumur 13 tahun. Ketika malam hari melewati hutan Jati, Sadang Purwakarta H. Darip disergap Belanda. H. Darip diikat erat dengan kabel listrik dan dibawa memakai mobil Jeep. Jami tidak terlihat ditangkap. Akhirnya ia menyadari bahwa ia dijebak dan dikhianati oleh Jami. Dari Sadang H. Darip dibawa ke Jakarta kemudian dimasukkan ke sel Polisi I Kebayoran selama tiga hari lalu dipindah ke Ancol.  Dalam kondisi tetap diikat dengan kabel listrik, H. Darip disiksa dengan gagang senapan dan dipukul bertubi-tubi sampai akhirnya H. Darip dijebloskan ke tahanan Glodok, Jakarta Kota (kini merupakan bagian dari pertokoan Harco) pada tahun 1948.
            Berita tertangkapnya H. Darip sampai ke anak buahnya. Mereka sangat marah ternyata pimpinannya tertangkap karena dijebak dan dikhianati oleh Jami. Kemudian anak buahnya mencari-cari Jami hingga akhirnya Jami ditangkap dan tewas dibunuh oleh anak buah H. Darip yang setia.    
            Pada akhir tahun 1949 H. Darip menulis surat kepada Soekarno agar ia dibebaskan dari penjara. Konon surat tersebut diterima oleh Fatmawati, istri Soekarno di Istana Negara. Tetapi Soekarno tidak bisa membebaskan H. Darip. Setelah penyerahan kedaulatan pada akhir Desember 1949, H. Darip akhirnya dibebaskan dari penjara. Para anak buahnya yang hampir 100 orang menyambut H. Darip di luar penjara dan membawa ke rumah Ghozali di Kebon Jahe kemudian ke Klender. Rumahnya di Klender sudah habis dibakar oleh Belanda saat ia di penjara. Lalu bersama-sama anak buahnya dan rakyat Klender secara gotong royong membuat rumah sederhana untuk H. Darip.
            Pada Mei atau Juni 1950 H. Darip dipanggil Soekarno ke Istana Cipanas. Ia dijemput oleh Letnan Ishaq Latief. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Hamengkubuwono. Soekarno menyambut dan memeluk H. Darip sambil menangis. Soekarno lalu menjelaskan surat H. Darip yang dikirimkan untuknya. Soekarno merasa yakin bahwa H. Darip akan bebas dan tidak akan mati di penjara.
            Pada tahun 1950 ketika keamanan Jakarta belum sepenuhnya stabil, foto H. Darip terjual habis. Masyarakat Jakarta, khususnya Klender dan terutama keturunan Cina akan merasa aman jika rumahnya terpampang foto H. Darip. Para pencoleng dan gerombolan penjahat tidak akan menggangu rumah atau toko yang terpampang foto H. Darip.
            H. Darip adalah rakyat biasa yang kemudian memimpin rakyat untuk melawan dan mengusir penjajah. Ia memiliki wibawa sehingga bisa menggerakan api semangat perlawanan terhadap penjajah. Ia juga berjuang tanpa pamrih sehingga ia tidak memperdulikan gelar veteran dan pahlawan. Di akhir masa hidupnya, ia menghabiskan waktu untuk berdakwah di Klender dan sekitarnya untuk mengamalkan ilmu yang ia dapat saat belajar di Makkah.
            H. Darip meninggal di Jakarta pada 13 Juni 1981 dan dimakamkan di Pemakaman Wakaf Ar-Rahman Jalan Tanah Koja II, Jatinegara Kaum, Pulogadung Jakarta Timur bersebelahan dengan makam salah satu istrinya, Hj. Hamidah.



SUMBER :

Judul Buku:
ULAMA BETAWI
(Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20).
Penulis: Ahmad Fadli HS
Penerbit: Manhalun Nasyi-in Press, Jakarta, 2011
ISBN:
978-602-98466-1-4

Prajurit Pena : Perjuangan Para Ulama Betawi

http://idprajuritpena.blogspot.com/2017/04/perjuangan-para-ulama-betawi.html?m=1


Perguruan Islam modern di Jakarta sudah ada pada awal abad ke-20. Murid-murid dibekali fasilitas yang lebih memadai dengan disediakannya kelas, tidak seperti umumnya yang hanya duduk beralas tikar. Ini dimulai dengan berdirinya Jamiatul Kheir pada tahun 1901 di Pekojan. Selanjutnya disusul Al-Irsyad dan Unwanul Falah yang berdiri di Kwitang.

Bagaikan jamur di musim hujan, seterusnya berdiri perguruan-perguruan yang lainnya, seperti Al-Marzukiyah di Rawabunga, Al- Mansyuriah, dan Al-Islamiyah. Dapat dikatakan bahwa di setiap kampung terdapat madrasah dan perguruan Islam. Ini juga berbanding dengan semangat para pemuda Betawi yang ingin menuntut ilmu di negara-negara Timur Tengah. KH Abdul Madjid merupakan contohnya yang berguru kepada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki di Masjidil Haram. Murid-murid beliau tersebar ke beberapa tempat, seperti di Paseban (KH Tabrani), Tegal Parang-Buncit (KH Abdul Rajak Ma’mun), dan Kuningan (KH Nahrawi).

Pada masa awal kemerdekaan, KH Abdullah Syafi’ie berdakwah keliling di Jakarta dengan mengendarai motor merk BSA. Pada usia 17 tahun beliau juga sudah mendapatkan Soerat Pemberitahoean boleh mengajar di langgar partikulir.

Ulama lain yang seangkatan dengan KH Abdullah Syafi’ie ialah KH Tohir Rohili. Beliau, KH Tohir Rohili merupakan pendiri perguruan Attahiriyah di Bukitduri. Dengan sepeda KH Tohir Rohili melakukan dakwah keliling. Perguruan Syafiyah dan Tahiriah menjadi penghasil utama ulama-ulama Betawi. Yang unik Habib Ali Kwitang yang merupakan guru dari para kiai Betawi juga berjualan kain di Pasar Tanah Abang.

Tidak sedikit ulama Betawi yang berasal lulusan dari Makkah dan Madinah. Seperti Muallim KH. Darip (Klender), guru Mansyur yang masjidnya ditembaki tentara NICA karena memasang bendera Merah Putih saat revolusi.

Ulama yang begitu terkenal ialah Habib Utsman bin Yahya yang lahir di Pekojan tahun 1822 M. Habib Utsman juga pernah berguru kepada Sayid Ahmad Zaini Dahlan yang merupakan seorang Mufti Syafi’iyah di Mekkah. Selain itu, dikabarkan Habib Utsman memiliki belasan guru yang tersebar di Madinah, Mekkah, Hadramaut, Tunisia, Aljazair, Turki, dan Suriah. Karena kedalaman ilmunya, Habib Utsman diangkat menjadi mufti Betawi menggantikan Syekh Abdul Gani. Tercatat, beliau merupakan ulama yang produktif menulis buku. Sebanyak 116 judul kitab telah dikarang oleh Habib Utsman. Yang paling tersohor ialah Sifat 20 yang tetap menjadi bacaan bagi majelis talim di Betawi.

Sumber: Republika

Portal Betawi : Karomah Muallim Haji Darip Klender

Nyak Sarfinah adalah atu-atunye saksi mate nyang masih idoep atas perjuangan ame kesaktian Muallim H. Darip (alm). Umurnye  sekarang sekitar 85 taon. Nyak Sarfinah entu bini ketiga atawa keempat dari Muallim H. Darip, gak ade yang tau berapa tepatnye semue bini dari Muallim H. Darip.
Tempo zaman Belande, kalo terang bulan di Betawi, biasanye bocah-bocah ame remaja Betawi pade ngumpul dan maen di plataran rume,  nyang rate-rate emang loas. Orang tue perempuan ame perawan Betawi biasanye pade nganam  (menganyam) tiker pandan di paseban rume. Sebage kembang kampung waktu ntu, banyak lelaki nyang pade dekitin sambil pura-pura bantuin  Sarfinah mude nganam tiker.
Bebenye Nyak Sarfinah punya name Babe Sarbinih pedagang beras. Pade suatu kutika, Nyak Sarfinah di suruh ngirim beras ke Jatinegara Kaum, buat laskar Klender pimpinan Muallim H. Darip. Tempo entu banyak orang nyang suka rela ngasih hasil bumi buat perjuangan rakyat. Sekarung beras nyang dibawa Nyak Sarfinah dari kampung Bulak  diterime Muallim H. Darip di rumenye. Ngeliat Sarfinah mude nyang jadi kembang kampung, demenlah Muallim H.Darip. trus  nulis surat buat Babe Sarbinih dan ngasi duit ame Sarfinah muda.
“ Kate babe, nih beras buat pasukan, Bang, jadi gak usah bayar, “ kate Sarfinah mude.
“ Bukan, ntu buat elu jajan, pegang aje, trus kasi nih surat buat babe luh!” jawab Muallim H. Darip.
Sejak ntu, tiap bulan puname di rume Nyak Sarfinah jadi sepi, rupenye Babe Sarbinih nerima surat pinangan dari Muallim H. Darip. Kaga ade lagi anak mude nyang berani deketin Sarfinah mude. Kutika nike dengan Muallim H. Darip umur Nyak Sarfinah baru limabelas taon. Muallim H. Darip sendiri ude berumur 50 atawa 60 taon.
Kaga sempet bulan madu, karena suasane perang dengan Belande, menuntut Muallim H. Darip buat pinde ke Purwakarte. Di Purwakarte juga belon kondusif bener. Perne waktu lagi masak, Nyak Sarfinah disuruh kemas-kemas buat pinde, barang-barang suruh ditinggalin aje. Kate Muallim H. Darip bentar lagi Belande mao nyerang. Bener aje, waktu mereka meninggalkan kire-kire satu kilometer, ntu rume ude dibom Belande. Tapi Sarfinah mude dan Muallim H. Darip selamet. Dalam perjuangan enilah, H. Uung anak lelaki pertama Muallim H. Darip lahir.
Setelah kejadian entu, mereka akhirnye pindah ke suatu tempat (masih tetap  di wilayah Purwakarte sekarang) di sebuah rume besar milik orang Belanda yang mampu di usir pasukan Muallim H. Darip. Di situ tinggal Muallim H. Darip bersama empat orang bininye.
Bukan cuman ntu cerita tentang Muallim H. Darip nyang ke luar dari cerita Nyak Sarfinah. Perne suatu kutika Nyak Sarfinah diajak ke Jakarte buat ketemu- pasukan pasukan laen, dari macem-macem daerah di Betawi. Pas pulang ke Purwakarta, sepuluh pasukan nyang ikut dipertemuan itu keponggok Belande, sepuluh orang pasukan Muallim H. Darip tewas, Nyak Sarfinah ngumpet di semak-semak. Cerita nyang ke luar dari mulut Nyak Sarfinah adalah Muallim H. Darip kaga mempan ditembak. Sepuluh pasukannye mati ama Belanda, Tapi Se-truk pasukan Belande juga mati di tangan Muallim H. Darip. Akhirnye mereka cuman pulang bedua ke rume di Purwakarte.
Belande kaga perne bise nangkep Muallim H. Darip, kecuali mereka make tipu muslihat. Seminggu seude entu dateng tiga orang ke rume Muallim H. Darip. Mereka bilang mao ade lagi pertemuan di Jakrate, orang nyang dateng ngaku sama-sama pejuang dari Betawi. Berangkatlah Muallim H. Darip ke Kota. Cuman kali ini die berangkat ditemenin sedikit pasukan. Sesampenye di Kota ternyate ude siap Belande ame sekian banyak pasukannye. Muallim H. Darip akhirnye ditangkep dan dipenjara di Glodok selame dua taon. Enilah nyang akhirnye bikin Nyak Sarfinah berpisah dari Muallim H. Darip. Enih cuman sedikit dari cerita perjuangan Muallim H. Darip di masa Belande, belon masuk ke zaman Jepang ame pasca kemerdekaaan.
Muallim H. Darip ntu adalah fakta sejarah, die beber-bener perne ade di Betawi, di meninggal taon 1981 di Klender. Pasca kemerdekaan Muallim H. Darip lebih banyak ngajar ngaji ame ngajar maen pukul (silat) di Klender. Maen pukul Muallim H. Darip beda dari aliran maen pukul nyang laen. Mangkenya namenye jadi “Maen Pukul Gaye Muallim H. Darip” bukan aliran Cingkrik, Beksi atawa nyang laen. Peninggalannya ntu masih terus dilakonin anak cucu Muallim H. Darip sampe sekarang. (H/H).


Sumber : http://portalbetawi.com/blog/nyak-sarfinah-baba-luh-kaga-mempan-ditembak-tong/

Mengenang dan Meluruskan Sejarah Muallim Haji Darip dan Pertempuran Klender 1945

Di Klender, Klari, Bekasi, Kebayoran lama, Tangerang, dan daerah Banten, para Kyai, dan Alim Ulama mulai menyusun kekuatan untuk menentang ...