http://idprajuritpena.blogspot.com/2017/04/perjuangan-para-ulama-betawi.html?m=1
Perguruan Islam modern di Jakarta sudah ada pada awal abad ke-20. Murid-murid dibekali fasilitas yang lebih memadai dengan disediakannya kelas, tidak seperti umumnya yang hanya duduk beralas tikar. Ini dimulai dengan berdirinya Jamiatul Kheir pada tahun 1901 di Pekojan. Selanjutnya disusul Al-Irsyad dan Unwanul Falah yang berdiri di Kwitang.
Bagaikan jamur di musim hujan, seterusnya berdiri perguruan-perguruan yang lainnya, seperti Al-Marzukiyah di Rawabunga, Al- Mansyuriah, dan Al-Islamiyah. Dapat dikatakan bahwa di setiap kampung terdapat madrasah dan perguruan Islam. Ini juga berbanding dengan semangat para pemuda Betawi yang ingin menuntut ilmu di negara-negara Timur Tengah. KH Abdul Madjid merupakan contohnya yang berguru kepada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki di Masjidil Haram. Murid-murid beliau tersebar ke beberapa tempat, seperti di Paseban (KH Tabrani), Tegal Parang-Buncit (KH Abdul Rajak Ma’mun), dan Kuningan (KH Nahrawi).
Pada masa awal kemerdekaan, KH Abdullah Syafi’ie berdakwah keliling di Jakarta dengan mengendarai motor merk BSA. Pada usia 17 tahun beliau juga sudah mendapatkan Soerat Pemberitahoean boleh mengajar di langgar partikulir.
Ulama lain yang seangkatan dengan KH Abdullah Syafi’ie ialah KH Tohir Rohili. Beliau, KH Tohir Rohili merupakan pendiri perguruan Attahiriyah di Bukitduri. Dengan sepeda KH Tohir Rohili melakukan dakwah keliling. Perguruan Syafiyah dan Tahiriah menjadi penghasil utama ulama-ulama Betawi. Yang unik Habib Ali Kwitang yang merupakan guru dari para kiai Betawi juga berjualan kain di Pasar Tanah Abang.
Tidak sedikit ulama Betawi yang berasal lulusan dari Makkah dan Madinah. Seperti Muallim KH. Darip (Klender), guru Mansyur yang masjidnya ditembaki tentara NICA karena memasang bendera Merah Putih saat revolusi.
Ulama yang begitu terkenal ialah Habib Utsman bin Yahya yang lahir di Pekojan tahun 1822 M. Habib Utsman juga pernah berguru kepada Sayid Ahmad Zaini Dahlan yang merupakan seorang Mufti Syafi’iyah di Mekkah. Selain itu, dikabarkan Habib Utsman memiliki belasan guru yang tersebar di Madinah, Mekkah, Hadramaut, Tunisia, Aljazair, Turki, dan Suriah. Karena kedalaman ilmunya, Habib Utsman diangkat menjadi mufti Betawi menggantikan Syekh Abdul Gani. Tercatat, beliau merupakan ulama yang produktif menulis buku. Sebanyak 116 judul kitab telah dikarang oleh Habib Utsman. Yang paling tersohor ialah Sifat 20 yang tetap menjadi bacaan bagi majelis talim di Betawi.
Sumber: Republika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar