Seiring dengan berkepanjangannya tulisan-tulisan yang bersifat tendensius di media sosial mengenai Muallim Kyai Haji Darip kami mengajak dan menghimbau bagi siapa saja yang ingin menulis artikel di dunia maya dan media sosial lainnya atau melakukan riset, penelitian untuk karya ilmiah tentang kiprah pejuang kemerdekaan asal betawi Muallim Kyai Haji Darip Klender untuk mencermati beberapa literatur sejarah yang ada di blog ini yang direkomendasikan pihak keluarga Muallim Kyai Haji Darip.
Selasa, 31 Oktober 2017
Ulama Betawi : Kiprah Perjuangan Muallim Haji Darip Klender
H. Muhammad Arif atau biasa dipanggil H. Darip dilahirkan di Klender pada tahun 1886 dari pasangan H. Kurdin dan Hj. Nyai. Ia anak ketiga dari tiga bersaudara. Ia tidak menempuh pendidikan formal membaca dan menulis. Pelajaran membaca dan menulis huruf latin justru diperolehnya saat dipenjara dan belajar dari temannya. Dalam belajar agama, tidak diketahui kepada siapa H. Darip belajar agama akan tetapi ada kemungkinan ia belajar agama langsung kepada ayahnya.
Pada tahun 1914 ia pergi haji ke Makkah dan langsung menetap di sana untuk memperdalam ilmu agama hingga kurang lebih dua tahun setengah (1916). Pulang dari Mekah, H. Darip mengawali perjuangannya dengan berdakwah di sebuah mushalla kecil, yang kini menjadi Masjid Al-Makmur yang cukup megah di Klender dan berjuang bersama para ulama lain, yakni KH Mursyidi dan KH Hasbullah. Selain dikenal sebagai da’i, ia juga seorang yang memiliki ilmu main pukulan (ilmu silat) yang lihai. Ia adalah seorang tokoh yang disegani masyarakat, daerah kekuasaannya mencakup Klender, Pulogadung, Jatinegara hingga sampai Bekasi.
Pada saat terjadi revolusi fisik melawan Jepang dan Belanda, H. Darip membentuk BARA (Barisan Rakyat). Ia mengumpulkan para tokoh, pemuda dan jagoan yang tersebar di Klender dan sekitarnya. Di antara mereka yang ikut bergabung adalah H. Hasbullah (Kakak dari KH. Hasbiyallah) dan KH. Mursyidi. Mereka terlibat dalam pertempuran di beberapa front di kota Jakarta. H. Darip sendiri saat itu dijuluki "Panglima Perang dari Klender". Sebuah brosur dari Angkatan 45 DKI tanggal 17 Agustus 1985—empat tahun setelah Haji Darip meninggal dunia—menyebutkan, H. Darip pada zaman penjajahan Belanda (sebelum perang dunia kedua), berjuang bersama Soekarno bergerak di bawah tanah, terutama di Cilincing, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Ketika pendudukan Jepang, menyaksikan kekejaman pasukan Dai Nippon ini, H. Darip memimpin masyarakat di Klender dan menghimpun para jawara, narapidana dan napi Rutan Cipinang untuk melakukan perlawanan terhadap Jepang. Sewaktu dia masih memimpin pergerakan dari Klender, banyak para pemimpin yang datang bahkan menginap di kediamannya, di antaranya Soekarni, tokoh Murba, Kamaludin, Syamsuddin orang Padang, dan Pandu Kartawiguna. Mereka menginap di rumah H. Darip dan menyatakan kepadanya bahwa sebentar lagi Indonesia akan merdeka dan mereka membicarakan pengusiran orang Jepang.
Anak buah H. Darip yang tergabung dalam BARA dimandikan oleh H. Darip kemudian diisi badannya dengan ilmu kebal lalu dicoba dengan dibacok badannya dengan golok. Setelah dirasa memiliki ilmu kebal maka pasukan BARA diperbolehkan untuk berjuang mengusir Jepang. H. Darip memerintahkan anak buahnya untuk menyerbu dan mengusir tentara Jepang di Pangkalan Jati, Pondok Gede, Cipinang Cempedak, sepanjang Kali Cipinang dan lain-lain. Anak buah H. Darip bahkan sampai membunuh tentara Jepang. Hal tersebut dilakukan oleh anak buah H. Darip karena jika tentara Jepang tidak dibunuh maka anak buah H. Darip yang terbunuh karena tentara Jepang mempunyai senjata api sedang anak buah H. Darip hanya mempunyai kekuatan fisik dan golok saja. Beberapa sumur di Klender dan sekitarnya tidak ada yang mau minum airnya karena penuh dengan bangkai tentara Jepang, begitupula dengan sungai Sunter yang dipenuhi dengan mayat tentara Jepang.
Setelah berhasil mengerahkan rakyat yang dihimpun dan dipimpinnya untuk menghabiskan tentara Jepang yang bertugas di pinggiran, maka H. Darip menyadari bahwa kekuatan rakyat tidak akan berarti jika tidak dilengkapi dengan peralatan senjata, logistik dan persediaan makanan. Kira-kira seminggu sebelum Indonesia memproklamirkan kemerdekaan, H. Darip mendatangi Camat Klender dan meminta segala pakaian rakyat yang akan dibagikan jangan dikeluarkan sebelum saatnya tiba dan menunggu komando darinya.
H. Darip juga mendatangi kantor polisi yang masih di bawah kekuasaan Jepang. Ia meminta senjata-senjata yang ada di kantor polisi jangan diserahkan kepada Jepang, melainkan harus diserahkan kepada rakyat nanti. Lalu H. Darip menyuruh komandan polisi membuat pernyataan dan membubuhkan tanda tangannya untuk menyerahkan senjata kepada rakyat. Kemudian H. Darip pergi ke Seksi Tujuh. Ia bertemu dengan Darmatin dan Juhra anak Banten dan Sukahar dan meminta kepada mereka agar persenjataan yang ada di sana diserahkan kepada rakyat. Kemudian H. Darip menuju penjara Cipinang. Direkturnya diberi tahu hal yang sama dengan apa yang dikatakan pada Camat, Kepala polisi maupun Komandan Seksi VII. Pada saatnya pula nanti H. Darip meminta agar para tahanan dilepaskan. Ia juga datang ke Seksi V dan melakukan hal yang sama.
Hari Proklamasi makin dekat dan keadaan makin panas saja. Tetapi dia telah mempersiapkan anak buahnya. Dia juga mendatangi gudang-gudang beras di Klender untuk memblokir beras yang ada jangan sampai keluar dari Klender. Maka jadilah Klender wilayah pertahanan yang merupakan gudang makanan dan persenjataan ala kadarnya.
H. Darip mempersiapkan hal tersebut di atas setelah mendapat informasi dari Soekarni bahwa Indonesia sebentar lagi akan merdeka. Informasi itu diperoleh ketika terjadi serangan bom atom di Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan Nagasaki pada 9 Agustus 1945 oleh Amerika Serikat atas perintah Presiden Amerika Serikat Harry S. Truman. Setelah pengeboman tersebut maka pada 15 Agustus, Jepang mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Berita ini diketahui oleh kalangan pemuda bangsa Indonesia melalui berita siaran radio BBC (British Broadcasting Corporation) London. Pada saat yang sama Soekarno dan Hatta baru kembali ke tanah air memenuhi panggilan Panglima Mandala Asia Tenggara, Marsekal Terauchi di Saigon, Vietnam.
Saat kembali ke tanah air, Soekarno ditemui para pemuda untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB, Soekarno dan Hatta "diculik" dan dibawa ke Rengasdengklok, Karawang oleh para pemuda di antaranya Soekarni, Chaerul Saleh dan lain-lain. Dalam peristiwa Rengasdengklok itu, H. Darip menjadi saksi hidup ketika para pemuda mendesak Soekarno Hatta agar mempercepat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.
Kemudian Soekarno Hatta ditempatkan di suatu rumah yang tidak layak di pinggir kali. Lalu H. Darip meminta kepada Soekarni dan kawan-kawannya agar Soekarno Hatta di tempatkan di rumah yang layak karena Soekarno Hatta adalah calon pemimpin yang harus dihormati. Atas permintaan H. Darip maka Soekarni dan kawan-kawan menempatkan Soekarno Hatta di rumah perkampungan milik warga Tionghoa, Djiaw Kie Siong.
Pada waktu itu Soekarno dan Hatta menginginkan agar proklamasi dilakukan melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) sementara golongan pemuda menginginkan agar proklamasi dilakukan secepatnya tanpa melalui PPKI yang dianggap sebagai badan buatan Jepang. Selain itu, hal tersebut dilakukan agar Soekarno dan Hatta tidak terpengaruh oleh Jepang. Para golongan pemuda khawatir apabila kemerdekaan yang sebenarnya merupakan hasil dari perjuangan bangsa Indonesia, menjadi seolah-olah merupakan pemberian dari Jepang.
Setelah melalui perundingan yang panjang akhirnya disepakati bahwa proklamasi kemerdekaan dilaksanakan pada 17 Agustus di Jakarta kemudian bendera Merah Putih dikibarkan para pejuang di Rengasdengklok pada Rabu tanggal 16 Agustus, sebagai persiapan untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Pada akhirnya, tepatnya hari Jumat, 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan 09 Ramadlan 1364 H, Soekarno dan Muhammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia. Proklamasi kemerdekaan tersebut disambut suka cita oleh seluruh rakyat Indonesia, tak ketinggalan rakyat yang berada di Klender dan sekitarnya. Setelah proklamasi kemerdekaan, Soekarno berkunjung ke Klender dan memimpin rapat akbar di sana serta meminta rakyat Klender ikut membantu mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Selanjutnya H. Darip memerintahkan rumah-rumah di Klender menaikkan bendera merah putih. Pabrik-pabrik di Klender, Cipinang, Jatinegara dan lain-lain diperintahkan mengganti bendera Jepang dengan merah putih. H. Darip juga meminta agar pabrik tidak mengeluarkan beras kecuali untuk makan laskar rakyat. Setelah berhasil menghimpun senjata, makanan dan pakaian, H. Darip memerintahkan anak buahnya untuk menjaga ketat wilayah Klender agar tidak dimasuki tentara Jepang atau mata-mata Jepang.
Setelah Jepang menyerah dan kembali ke negerinya, Belanda dan tentara sekutu berusaha kembali menjajah Bangsa Indonesia. H. Darip bersama pasukan BARA bersiap-siap untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia sebagaimana yang diamanatkan oleh Soekarno saat rapat akbar di Klender.
Pada suatu penyerangan, Klender berhasil diduduki Belanda dan sekutu sehingga H. Darip dan pasukan BARA hijrah ke beberapa tempat seperti Tambun, Cikarang, Lemah Abang, Bekasi, Cikampek, Karawang hingga ke Purwakarta dan membentuk BPRI (Barisan Pejuang Rakyat Indonesia) Jakarta Raya. Dari tempat persembunyiannya—dengan pangkat Letnan Kolonel Tituler—ia bermarkas di Purwakarta dan menyusun strategi melawan NICA Belanda.
Suatu ketika benteng pertahanan di Purwakarta diserang oleh Belanda melalui hujan bom dan peluru dari udara dan darat sehingga H. Darip dan pasukannya harus mengungsi ke hutan. Perjalanan ke hutan sangat memprihatinkan, terlebih di antara 4 (empat) isteri H. Darip ada yang sedang hamil dan ada yang mempunyai bayi yang masih kecil. Mereka harus turun naik bukit, menyebrang sungai dan menahan lapar dan dahaga. Jika rasa lapar dan dahaga tidak tertahankan mereka singgah ke rumah penduduk setempat untuk meminta makanan dan minuman. Di kemudian hari untuk keselamatan anak dan isteri-isterinya, H. Darip mengirimkan mereka ke Klender dan berpesan agar tidak memberitahukan kepada siapapun tentang posisi H. Darip dan pasukannya.
Pada saat memasuki bulan puasa, H. Darip dan pasukannya tetap berpuasa dan berjuang melawan Belanda. Mereka dari Parakan Lima menuju hutan Cempaka, hutan Bendul, Kembang Kuning dan Cibatu. Di hutan Cempaka H. Darip menghimpun kekuatan dan mengatur strategi untuk menyerang musuh. Pertahanan Belanda di Purwakarta kerapkali dibuat panik oleh serangan mendadak yang tidak terduga di malam hari atau menjelang subuh hingga suatu ketika Jayusman, anak buah H. Darip yang berasal dari Banten tertangkap. Ia ditembak tetapi tidak mempan dan akhirnya ia tewas setelah dipulir kepalanya.
Belanda berusaha keras untuk menangkap H. Darip akan tetapi usaha itu sia-sia. Bahkan Belanda menjanjikan hadiah besar bagi orang yang bisa menangkap H. Darip. Pada akhirnya Belanda mengirim mata-mata untuk bergabung dan menjadi anak buah H. Darip. Tersebutlah Jami dan Sarosa yang menjebak dan membujuk H. Darip agar pergi ke Jogjakarta untuk kembali dekat dengan Soekarno. Sejak Januari 1946 Ibukota memang pindah dari Jakarta ke Jogjakarta.
Sarosa berangkat mendahului. Kemudian menyusul H. Darip, Jami dan Entong, anak perawat kuda yang berumur 13 tahun. Ketika malam hari melewati hutan Jati, Sadang Purwakarta H. Darip disergap Belanda. H. Darip diikat erat dengan kabel listrik dan dibawa memakai mobil Jeep. Jami tidak terlihat ditangkap. Akhirnya ia menyadari bahwa ia dijebak dan dikhianati oleh Jami. Dari Sadang H. Darip dibawa ke Jakarta kemudian dimasukkan ke sel Polisi I Kebayoran selama tiga hari lalu dipindah ke Ancol. Dalam kondisi tetap diikat dengan kabel listrik, H. Darip disiksa dengan gagang senapan dan dipukul bertubi-tubi sampai akhirnya H. Darip dijebloskan ke tahanan Glodok, Jakarta Kota (kini merupakan bagian dari pertokoan Harco) pada tahun 1948.
Berita tertangkapnya H. Darip sampai ke anak buahnya. Mereka sangat marah ternyata pimpinannya tertangkap karena dijebak dan dikhianati oleh Jami. Kemudian anak buahnya mencari-cari Jami hingga akhirnya Jami ditangkap dan tewas dibunuh oleh anak buah H. Darip yang setia.
Pada akhir tahun 1949 H. Darip menulis surat kepada Soekarno agar ia dibebaskan dari penjara. Konon surat tersebut diterima oleh Fatmawati, istri Soekarno di Istana Negara. Tetapi Soekarno tidak bisa membebaskan H. Darip. Setelah penyerahan kedaulatan pada akhir Desember 1949, H. Darip akhirnya dibebaskan dari penjara. Para anak buahnya yang hampir 100 orang menyambut H. Darip di luar penjara dan membawa ke rumah Ghozali di Kebon Jahe kemudian ke Klender. Rumahnya di Klender sudah habis dibakar oleh Belanda saat ia di penjara. Lalu bersama-sama anak buahnya dan rakyat Klender secara gotong royong membuat rumah sederhana untuk H. Darip.
Pada Mei atau Juni 1950 H. Darip dipanggil Soekarno ke Istana Cipanas. Ia dijemput oleh Letnan Ishaq Latief. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Hamengkubuwono. Soekarno menyambut dan memeluk H. Darip sambil menangis. Soekarno lalu menjelaskan surat H. Darip yang dikirimkan untuknya. Soekarno merasa yakin bahwa H. Darip akan bebas dan tidak akan mati di penjara.
Pada tahun 1950 ketika keamanan Jakarta belum sepenuhnya stabil, foto H. Darip terjual habis. Masyarakat Jakarta, khususnya Klender dan terutama keturunan Cina akan merasa aman jika rumahnya terpampang foto H. Darip. Para pencoleng dan gerombolan penjahat tidak akan menggangu rumah atau toko yang terpampang foto H. Darip.
H. Darip adalah rakyat biasa yang kemudian memimpin rakyat untuk melawan dan mengusir penjajah. Ia memiliki wibawa sehingga bisa menggerakan api semangat perlawanan terhadap penjajah. Ia juga berjuang tanpa pamrih sehingga ia tidak memperdulikan gelar veteran dan pahlawan. Di akhir masa hidupnya, ia menghabiskan waktu untuk berdakwah di Klender dan sekitarnya untuk mengamalkan ilmu yang ia dapat saat belajar di Makkah.
H. Darip meninggal di Jakarta pada 13 Juni 1981 dan dimakamkan di Pemakaman Wakaf Ar-Rahman Jalan Tanah Koja II, Jatinegara Kaum, Pulogadung Jakarta Timur bersebelahan dengan makam salah satu istrinya, Hj. Hamidah.
SUMBER :
Judul Buku:
ULAMA BETAWI
(Studi Tentang Jaringan Ulama Betawi dan Kontribusinya Terhadap Perkembangan Islam Abad ke-19 dan 20).
Penulis: Ahmad Fadli HS
Penerbit: Manhalun Nasyi-in Press, Jakarta, 2011
ISBN:
978-602-98466-1-4
Prajurit Pena : Perjuangan Para Ulama Betawi
http://idprajuritpena.blogspot.com/2017/04/perjuangan-para-ulama-betawi.html?m=1
Perguruan Islam modern di Jakarta sudah ada pada awal abad ke-20. Murid-murid dibekali fasilitas yang lebih memadai dengan disediakannya kelas, tidak seperti umumnya yang hanya duduk beralas tikar. Ini dimulai dengan berdirinya Jamiatul Kheir pada tahun 1901 di Pekojan. Selanjutnya disusul Al-Irsyad dan Unwanul Falah yang berdiri di Kwitang.
Bagaikan jamur di musim hujan, seterusnya berdiri perguruan-perguruan yang lainnya, seperti Al-Marzukiyah di Rawabunga, Al- Mansyuriah, dan Al-Islamiyah. Dapat dikatakan bahwa di setiap kampung terdapat madrasah dan perguruan Islam. Ini juga berbanding dengan semangat para pemuda Betawi yang ingin menuntut ilmu di negara-negara Timur Tengah. KH Abdul Madjid merupakan contohnya yang berguru kepada Sayid Alwi bin Abbas Al-Maliki di Masjidil Haram. Murid-murid beliau tersebar ke beberapa tempat, seperti di Paseban (KH Tabrani), Tegal Parang-Buncit (KH Abdul Rajak Ma’mun), dan Kuningan (KH Nahrawi).
Pada masa awal kemerdekaan, KH Abdullah Syafi’ie berdakwah keliling di Jakarta dengan mengendarai motor merk BSA. Pada usia 17 tahun beliau juga sudah mendapatkan Soerat Pemberitahoean boleh mengajar di langgar partikulir.
Ulama lain yang seangkatan dengan KH Abdullah Syafi’ie ialah KH Tohir Rohili. Beliau, KH Tohir Rohili merupakan pendiri perguruan Attahiriyah di Bukitduri. Dengan sepeda KH Tohir Rohili melakukan dakwah keliling. Perguruan Syafiyah dan Tahiriah menjadi penghasil utama ulama-ulama Betawi. Yang unik Habib Ali Kwitang yang merupakan guru dari para kiai Betawi juga berjualan kain di Pasar Tanah Abang.
Tidak sedikit ulama Betawi yang berasal lulusan dari Makkah dan Madinah. Seperti Muallim KH. Darip (Klender), guru Mansyur yang masjidnya ditembaki tentara NICA karena memasang bendera Merah Putih saat revolusi.
Ulama yang begitu terkenal ialah Habib Utsman bin Yahya yang lahir di Pekojan tahun 1822 M. Habib Utsman juga pernah berguru kepada Sayid Ahmad Zaini Dahlan yang merupakan seorang Mufti Syafi’iyah di Mekkah. Selain itu, dikabarkan Habib Utsman memiliki belasan guru yang tersebar di Madinah, Mekkah, Hadramaut, Tunisia, Aljazair, Turki, dan Suriah. Karena kedalaman ilmunya, Habib Utsman diangkat menjadi mufti Betawi menggantikan Syekh Abdul Gani. Tercatat, beliau merupakan ulama yang produktif menulis buku. Sebanyak 116 judul kitab telah dikarang oleh Habib Utsman. Yang paling tersohor ialah Sifat 20 yang tetap menjadi bacaan bagi majelis talim di Betawi.
Sumber: Republika
Portal Betawi : Karomah Muallim Haji Darip Klender
Nyak Sarfinah adalah atu-atunye saksi mate nyang masih idoep atas perjuangan ame kesaktian Muallim H. Darip (alm). Umurnye sekarang sekitar 85 taon. Nyak Sarfinah entu bini ketiga atawa keempat dari Muallim H. Darip, gak ade yang tau berapa tepatnye semue bini dari Muallim H. Darip.
Tempo zaman Belande, kalo terang bulan di Betawi, biasanye bocah-bocah ame remaja Betawi pade ngumpul dan maen di plataran rume, nyang rate-rate emang loas. Orang tue perempuan ame perawan Betawi biasanye pade nganam (menganyam) tiker pandan di paseban rume. Sebage kembang kampung waktu ntu, banyak lelaki nyang pade dekitin sambil pura-pura bantuin Sarfinah mude nganam tiker.
Bebenye Nyak Sarfinah punya name Babe Sarbinih pedagang beras. Pade suatu kutika, Nyak Sarfinah di suruh ngirim beras ke Jatinegara Kaum, buat laskar Klender pimpinan Muallim H. Darip. Tempo entu banyak orang nyang suka rela ngasih hasil bumi buat perjuangan rakyat. Sekarung beras nyang dibawa Nyak Sarfinah dari kampung Bulak diterime Muallim H. Darip di rumenye. Ngeliat Sarfinah mude nyang jadi kembang kampung, demenlah Muallim H.Darip. trus nulis surat buat Babe Sarbinih dan ngasi duit ame Sarfinah muda.
“ Kate babe, nih beras buat pasukan, Bang, jadi gak usah bayar, “ kate Sarfinah mude.
“ Bukan, ntu buat elu jajan, pegang aje, trus kasi nih surat buat babe luh!” jawab Muallim H. Darip.
Sejak ntu, tiap bulan puname di rume Nyak Sarfinah jadi sepi, rupenye Babe Sarbinih nerima surat pinangan dari Muallim H. Darip. Kaga ade lagi anak mude nyang berani deketin Sarfinah mude. Kutika nike dengan Muallim H. Darip umur Nyak Sarfinah baru limabelas taon. Muallim H. Darip sendiri ude berumur 50 atawa 60 taon.
Kaga sempet bulan madu, karena suasane perang dengan Belande, menuntut Muallim H. Darip buat pinde ke Purwakarte. Di Purwakarte juga belon kondusif bener. Perne waktu lagi masak, Nyak Sarfinah disuruh kemas-kemas buat pinde, barang-barang suruh ditinggalin aje. Kate Muallim H. Darip bentar lagi Belande mao nyerang. Bener aje, waktu mereka meninggalkan kire-kire satu kilometer, ntu rume ude dibom Belande. Tapi Sarfinah mude dan Muallim H. Darip selamet. Dalam perjuangan enilah, H. Uung anak lelaki pertama Muallim H. Darip lahir.
Setelah kejadian entu, mereka akhirnye pindah ke suatu tempat (masih tetap di wilayah Purwakarte sekarang) di sebuah rume besar milik orang Belanda yang mampu di usir pasukan Muallim H. Darip. Di situ tinggal Muallim H. Darip bersama empat orang bininye.
Bukan cuman ntu cerita tentang Muallim H. Darip nyang ke luar dari cerita Nyak Sarfinah. Perne suatu kutika Nyak Sarfinah diajak ke Jakarte buat ketemu- pasukan pasukan laen, dari macem-macem daerah di Betawi. Pas pulang ke Purwakarta, sepuluh pasukan nyang ikut dipertemuan itu keponggok Belande, sepuluh orang pasukan Muallim H. Darip tewas, Nyak Sarfinah ngumpet di semak-semak. Cerita nyang ke luar dari mulut Nyak Sarfinah adalah Muallim H. Darip kaga mempan ditembak. Sepuluh pasukannye mati ama Belanda, Tapi Se-truk pasukan Belande juga mati di tangan Muallim H. Darip. Akhirnye mereka cuman pulang bedua ke rume di Purwakarte.
Belande kaga perne bise nangkep Muallim H. Darip, kecuali mereka make tipu muslihat. Seminggu seude entu dateng tiga orang ke rume Muallim H. Darip. Mereka bilang mao ade lagi pertemuan di Jakrate, orang nyang dateng ngaku sama-sama pejuang dari Betawi. Berangkatlah Muallim H. Darip ke Kota. Cuman kali ini die berangkat ditemenin sedikit pasukan. Sesampenye di Kota ternyate ude siap Belande ame sekian banyak pasukannye. Muallim H. Darip akhirnye ditangkep dan dipenjara di Glodok selame dua taon. Enilah nyang akhirnye bikin Nyak Sarfinah berpisah dari Muallim H. Darip. Enih cuman sedikit dari cerita perjuangan Muallim H. Darip di masa Belande, belon masuk ke zaman Jepang ame pasca kemerdekaaan.
Muallim H. Darip ntu adalah fakta sejarah, die beber-bener perne ade di Betawi, di meninggal taon 1981 di Klender. Pasca kemerdekaan Muallim H. Darip lebih banyak ngajar ngaji ame ngajar maen pukul (silat) di Klender. Maen pukul Muallim H. Darip beda dari aliran maen pukul nyang laen. Mangkenya namenye jadi “Maen Pukul Gaye Muallim H. Darip” bukan aliran Cingkrik, Beksi atawa nyang laen. Peninggalannya ntu masih terus dilakonin anak cucu Muallim H. Darip sampe sekarang. (H/H).
Sumber : http://portalbetawi.com/blog/nyak-sarfinah-baba-luh-kaga-mempan-ditembak-tong/
Tempo zaman Belande, kalo terang bulan di Betawi, biasanye bocah-bocah ame remaja Betawi pade ngumpul dan maen di plataran rume, nyang rate-rate emang loas. Orang tue perempuan ame perawan Betawi biasanye pade nganam (menganyam) tiker pandan di paseban rume. Sebage kembang kampung waktu ntu, banyak lelaki nyang pade dekitin sambil pura-pura bantuin Sarfinah mude nganam tiker.
Bebenye Nyak Sarfinah punya name Babe Sarbinih pedagang beras. Pade suatu kutika, Nyak Sarfinah di suruh ngirim beras ke Jatinegara Kaum, buat laskar Klender pimpinan Muallim H. Darip. Tempo entu banyak orang nyang suka rela ngasih hasil bumi buat perjuangan rakyat. Sekarung beras nyang dibawa Nyak Sarfinah dari kampung Bulak diterime Muallim H. Darip di rumenye. Ngeliat Sarfinah mude nyang jadi kembang kampung, demenlah Muallim H.Darip. trus nulis surat buat Babe Sarbinih dan ngasi duit ame Sarfinah muda.
“ Kate babe, nih beras buat pasukan, Bang, jadi gak usah bayar, “ kate Sarfinah mude.
“ Bukan, ntu buat elu jajan, pegang aje, trus kasi nih surat buat babe luh!” jawab Muallim H. Darip.
Sejak ntu, tiap bulan puname di rume Nyak Sarfinah jadi sepi, rupenye Babe Sarbinih nerima surat pinangan dari Muallim H. Darip. Kaga ade lagi anak mude nyang berani deketin Sarfinah mude. Kutika nike dengan Muallim H. Darip umur Nyak Sarfinah baru limabelas taon. Muallim H. Darip sendiri ude berumur 50 atawa 60 taon.
Kaga sempet bulan madu, karena suasane perang dengan Belande, menuntut Muallim H. Darip buat pinde ke Purwakarte. Di Purwakarte juga belon kondusif bener. Perne waktu lagi masak, Nyak Sarfinah disuruh kemas-kemas buat pinde, barang-barang suruh ditinggalin aje. Kate Muallim H. Darip bentar lagi Belande mao nyerang. Bener aje, waktu mereka meninggalkan kire-kire satu kilometer, ntu rume ude dibom Belande. Tapi Sarfinah mude dan Muallim H. Darip selamet. Dalam perjuangan enilah, H. Uung anak lelaki pertama Muallim H. Darip lahir.
Setelah kejadian entu, mereka akhirnye pindah ke suatu tempat (masih tetap di wilayah Purwakarte sekarang) di sebuah rume besar milik orang Belanda yang mampu di usir pasukan Muallim H. Darip. Di situ tinggal Muallim H. Darip bersama empat orang bininye.
Bukan cuman ntu cerita tentang Muallim H. Darip nyang ke luar dari cerita Nyak Sarfinah. Perne suatu kutika Nyak Sarfinah diajak ke Jakarte buat ketemu- pasukan pasukan laen, dari macem-macem daerah di Betawi. Pas pulang ke Purwakarta, sepuluh pasukan nyang ikut dipertemuan itu keponggok Belande, sepuluh orang pasukan Muallim H. Darip tewas, Nyak Sarfinah ngumpet di semak-semak. Cerita nyang ke luar dari mulut Nyak Sarfinah adalah Muallim H. Darip kaga mempan ditembak. Sepuluh pasukannye mati ama Belanda, Tapi Se-truk pasukan Belande juga mati di tangan Muallim H. Darip. Akhirnye mereka cuman pulang bedua ke rume di Purwakarte.
Belande kaga perne bise nangkep Muallim H. Darip, kecuali mereka make tipu muslihat. Seminggu seude entu dateng tiga orang ke rume Muallim H. Darip. Mereka bilang mao ade lagi pertemuan di Jakrate, orang nyang dateng ngaku sama-sama pejuang dari Betawi. Berangkatlah Muallim H. Darip ke Kota. Cuman kali ini die berangkat ditemenin sedikit pasukan. Sesampenye di Kota ternyate ude siap Belande ame sekian banyak pasukannye. Muallim H. Darip akhirnye ditangkep dan dipenjara di Glodok selame dua taon. Enilah nyang akhirnye bikin Nyak Sarfinah berpisah dari Muallim H. Darip. Enih cuman sedikit dari cerita perjuangan Muallim H. Darip di masa Belande, belon masuk ke zaman Jepang ame pasca kemerdekaaan.
Muallim H. Darip ntu adalah fakta sejarah, die beber-bener perne ade di Betawi, di meninggal taon 1981 di Klender. Pasca kemerdekaan Muallim H. Darip lebih banyak ngajar ngaji ame ngajar maen pukul (silat) di Klender. Maen pukul Muallim H. Darip beda dari aliran maen pukul nyang laen. Mangkenya namenye jadi “Maen Pukul Gaye Muallim H. Darip” bukan aliran Cingkrik, Beksi atawa nyang laen. Peninggalannya ntu masih terus dilakonin anak cucu Muallim H. Darip sampe sekarang. (H/H).
Sumber : http://portalbetawi.com/blog/nyak-sarfinah-baba-luh-kaga-mempan-ditembak-tong/
Muallim Haji Darip Diantara Berkas dan Atlas (Kaca Mata Dunia)
Berkas yang menandakan bahwa Muallim Haji Darip yang peran perjuangannya sangat besar yang di baktikan untuk bangsa dan negara pada masa sebelum dan sesudah revolusi fisik melawan penjajah Jepang dan Belanda. Pemimpin BARA (Barisan Rakyat) Indonesia di Jakarta (Klender), Pemimpin BPRI (Barisan Perang Rakyat Indonesia) Jakarta raya di Cikarang (Bekasi), Pemimpin laskar Banteng Hitam (arsip Belanda), dalam arsip DHD 45 Jakarta berpangkat Letnan Kolonel.Penasehat Batalyon AMPI Divisi 1 Siliwangi Di Purwakarta Jawa Barat dan julukan Generalismo Klender 1945 dengan kata lain Panglima Perang.
Generalismo, menurut Gusman Natawidajaja (G.J. Nawi) seorang penulis buku maen pukulan pencak silat khas betawi terbitan O'ong Maryono pencak silat award, kata Generalismo itu di ambil dari bahasa Italia yang artinya panglima gabungan militer tertinggi yang istilahnya biasa di gunakan oleh kalangan sayap-sayap militer negara yang sedang berontak. Kedudukan Generalismo di zaman penjajahan Jepang di Indonesia kira-kira setingkat dengan jenderal Imamura pemimpin pasukan Gunseikan Jepang di tanah Jawa. "Pantes Jadi Orang Buruan Nomor Satu Di Jakarta", Kata Gusman setelah mengetahui julukan Muallim Haji Darip berdasarkan arsip DHD 45 Jakarta. Begitu pula dalam arsip/catatan sebuah koran media masa yang beredar di Australia yang terbit pada 03 desember 1945 bernama The Sydney Morning Herald terkait berita jatuhnya pesawat RAF Dakota Inggris di Rawa gatel Cakung dan pembunuhan terhadap 22 tentara Inggris di kali Bekasi, mengutip keterangan seperti di bawah ini :
"Inggris dan Belanda di Jawa Barat tahu, Haji Darip seorang Jenderal Indonesia sebagai musuh ekstremis nomor satu yang dipercaya menjadi pemimpin sekitar 6000 pengikut/anak buah yang memakai kaos/baju putih dan termasuk anggota masyarakat rahasia Jawa. Sebagian besar pemuda diliputi oleh fanatisme religius yang hebat yang telah bersembunyi di bagian selatan Batavia sejak pertempuran dimulai. Selengkapnya di, (https://javapost.nl/2012/01/25/bekasi-een-brits-rawagede/).
Namun setelah wafatnya, berkas catatan inilah (pangkat kapten) yang di tulis dan di berikan pihak pemerintah terkait, kepada Muallim Haji Darip.
Kini kita semua tahu, dan benar-benar menyaksikan niat dan ketulusan
Muallim Haji Darip dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia 1945 itu adalah betul-betul ikhlas hanya karna Alloh Swt. Begitu pula ahli waris Muallim Haji Darip, tak pernah memikirkan dan mempersoalkan pangkat dan jabatannya, karna sudah menjadi wasiatnya. Akan tetapi bukan berarti bisa sembarang dan memperlakukan semau-maunya kepada Muallim Haji Darip dan keluarganya,pent., terutama dalam hal penulisan sejarah sekitar proklamasi kemerdekaan 1945 di Jakarta dan sekitarnya.
Perjuangan Muallim Haji Darip dari Klender sampai Purwakarta
- Perpustakaan Universitas Indonesia
- UI
- Skripsi
- Dari Klender sampai Purwakarta Perjuangan Haji Darip Dalam Mempertahankan Kemerdekaan 1945 1947
- Soibah Hasni Fitrida
Deskripsi Dokumen : http://lib.ui.ac.id/opac/ui/detail.jsp…
- Abstrak
Penulisan ini mengangkat permasalahan mengenai perjuangan yang dilakukan oleh seorang tokoh Betawi asal Klender bernama Muallim Haji Darip, mulai dari awal revolusi kemerdekaan Indonesia di Klender sampai setelah tertangkapnya ia oleh tentara Belanda di Purwakarta.
Diantaranya tentang latar belakang Muallim Haji Darip, yang merupakan rakyat biasa tanpa dasar pendidikan politik apapun, ikut berjuang melawan tentara sekutu Inggris dan Belanda NICA (Netherlands Indies Civil Administration); dan potensi-potensi yang ada di Klender yang menjadi faktor pendukung perjuangan Muallim Haji Darip dan rakyat Klender.
Tujuan penulisan ini ialah untuk menampilkan kisah perjuangan seorang Tokoh lokal Muallim Haji Darip dalam memimpin Barisan rakyat (BARA) dan berhasil membuat Klender menjadi daerah pertahanan yang kuat sampai akhir tahun 1945.
Syarat dan Ritual Tradisi Perguruan Silat Kong Haji Darip
Jakarta - Muallim Haji Darip merupakan pendekar Betawi yang sangat lihai dalam ilmu silat. Pria bernama lengkap Mohammad Arif itu kemudian menurunkan keahliannya kepada keturunannya dan generasi muda.
Sepeninggal Muallim Haji Darip pada tahun 1981, adalah Haji Uung, anak Muallim Haji Darip yang kemudian menjadi pengasuh aliran silat ayahnya itu. Haji Uung mengajarkan silat di sekitar kediamannya di daerah Jatinegara Kaum, Jatinegara, Jakarta Timur.
Peserta latihan sejauh ini, menurut Haji Uung, mulai dari murid SD hingga orang dewasa. Rupanya, ada syarat unik jika seseorang berminat untuk menjadi peserta latihan.
\\\"Sebelum mulai latihan, peserta baru harus terlebih dahulu diurut pakai ayam,\\\" ujar Haji Uung, kepada detikcom, di kediamannya di kawasan, Jatinegara Kaum, Jakarta Timur.
Haji Uung menjelaskan, pijat dengan ayam di sini maksudnya benar-benar menggunakan ayam yang masih hidup untuk mengurut anggota tubuh calon peserta. Misalnya menginjak-injakkan kaki ayam ke tangan calon peserta dengan maksud agar gerakan tangannya menjadi luwes.
\\\"Nanti saya yang urut. Tempat latian kan emang ada di beberapa tempat, bahkan di luar Jakarta, tapi kalo soal ngurut ini harus sama saya dulu,\\\" ujarnya.
Menurut Haji Uung, ayam yang digunakan bukanlah ayam sembarangan. Haruslah ayam jantan yang sehat dan tidak cacat.
\\\"Ayamnya dari mereka, mereka yang beli, kita nggak sediain. Nanti tinggal dibawa aja kemari,\\\" tambahnya.
Haji Uung tak menjelaskan lebih jauh makna dari ritual urut ayam ini. Menurutnya ritual ini sudah ada sejak zaman ayahnya dulu dan menjadi syarat wajib. Anda berminat?
Selasa 18 Jun 2013, 14:52 WIB
Napak Tilas Jakarta (10)
- detikNews
(nwk/nrl)
Senin, 30 Oktober 2017
Maen Pukulan (Pencak Silat Khas Betawi) Muallim Haji Darip Klender
Oleh : GJ. Nawi (Gusman Natawidjaja)
- Maen Pukulan H.Darip Klender
Kampung Klender merupakan rawa-rawa tak bertuan. Riwayat keberadaannya tak lepas dari di bukanya daerah jatinegara kaum oleh Pangeran Jayakarta dan para pengikutnya. Kini kampung Klender merupakan daerah setingkat kelurahan di kecamatan Klender. Tidak diketahui asal mula nama Klender. Menurut tuturan lisan yang masih perlu di kaji kebenarannya, kata Klender berasal dari kalender.
Pada masa revolusi fisik, Klender menjadi ajang pertempuran pasukan belanda dan laskar rakyat. Pasukan belanda menempatkan batalyon lengkap disana. Bahkan di tahun 1947 dibentuk pasukan elit HAMMOT ( Hare Majesteit's Ongeregelde Troepen ) atau pasukan liar ratu, bermarkas di kampung sumur Klender. Anggotanya direkrut dari warga Indonesia.
1. Riwayat Maen Pukulan Kong H.Darip
H.Darip adalah sosok fenomenal dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Pemimpin front perjuangan daerah timur ini dikenal berdedikasi tinggi, pantang menyerah, dan tanpa tedeng aling-aling terhadap penjajah. Sepak terjangnya sebagai jago maen pukulan tak diragukan lagi. Ia mampu menghimpun dan mengkoordinasikan para jago dan jagoan untuk patuh dan menjadi anak buahnya. Itu sebabnya ia dijuluki Panglima Perang dari Klender atau BPPP Angkatan 45 menganugerahinya dengan gelar Generalismo Van Klender 1945. Lahir di Klender pada tahun 1886 dengan nama Muhammad Arif, dari pasangan H.Kurdin(١٣٦) bin Derun dan Hj. Nyai. Bungsu dari tiga bersodara ini tidak mengenyam pendidikan formal. Pendidikan non formal agama Islam ia dapat dari ayahandanya. Entah kepada siapa dia menimba ilmu maen pukulan (١٣٧). Salah satu yang paling sering disebut sumber keilmuannya berasal dari Pangeran Kuncung. Konon sumber keilmuannya masih sejalur dengan banten dan cirebon, mengingat kumpi-kumpi (Leluhur) orang Klender masih keturunan jatinegara kaum. Pada tahun 1914 H.Darip menunaikan ibadah haji, lalu menetap dimekkah selama dua tahun untuk menuntut ilmu agama. Dalam perjalanan pulang dari mekkah, H.Darip transit dipulau sumatera. Beberapa kota sempat disinggahi termasuk Pangkal Pinang. Untuk kelangsungan hidupnya H.Darip bekerja sebagai kontraktor bangunan, tinggal di masjid dan terkadang menjadi marbot.di perantauan ilmu maen pukulan nya kian matang, berkat sering diuji oleh para praktisi berbagai aliran maen pukulan dari daerah lain. Sepulang dari rantau, di kampung halamannya, Klender, H.Darip bersama KH.Hasbiyallah dan KH.Mursyidi, mengawali perjuangannya disebuah musholla yang sekarang bernama Masjid Al Makmur. Pada masa revolusi fisik kemerdekaan RI, bersama rekan seperjuangan yang juga seorang jago, H.Hasbullah (Kakak KH.Hasbiyallah), Ia terpanggil untuk memimpin laskar rakyat BARA (Barisan Rakyat), yang beranggotakan para jago dan jagoan yang menguasai Klender, Pulogadung, hingga Bekasi. Karna karisma dan karomah ilmu yang dimilikinya, banyak jago dan jagoan tunduk kepadanya. Rumor yang berkembang saat itu, H.Darip memiliki ilmu supranatural dan kesaktian tinggi, sehingga membuat anak buahnya memiliki keberanian dan kebal terhadap senjata tajam serta peluru. Robert Cribb dalam bukunya sempat menyinggung soal "kesaktian" laskar BARA yang didapat dengan cara yang tidak wajar. Menurut rumor H.Darip menyuntikkan cairan merkuri ke pembuluh darah para anggota laskarnya, supaya memiliki ilmu kebal (١٣٨). Keluarga H.Darip, yang diwakili H.U'ung menyanggah keras rumor tersebut. Sebagai orang yang memiliki karomah, H.Darip memberikan spirit, biasanya dalam bentuk ritual membacakan doa pada air yang akan digunakan untuk mensucikan diri, termasuk mandi dan wudhu. Para anggota laskar yang akan berperang di mandikan dengan air tersebut, selanjutnya dites dengan bacokkan golok disekujur badan sebagai bukti air itu meresap kedalam tubuh. Hal ini digunakan semata-mata ikhtiar meminta perlindungan Allah Swt. Upaya mengimbangi tentara jepang dan belanda yang lebih kuat dibidang persenjataan modern, sementara laskar BARA hanya bermodal keberanian, golok, serta tangan kosong. Usai perang kemerdekaan dan masa revolusi, timbul masalah baru menyangkut keamanan di ibukota dan sekitarnya, yang disebabkan masalah sosial (social malaise) kemiskinan, ketiadaan lapangan kerja, dan aparat kemanan serta pemerintahan yang belum berfungsi sepenuhnya. Zaman itu dikenal sebagai zaman Nogut (No Good). Kriminalitas dan dunia bawah / Onderwereld merajalela, mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat terutama di bidang ekonomi dan perniagaan. Tokoh sekelas H.Darip menjadi andalan para pelaku ekonomi dalam mencari perlindungan. Popularitas H.Darip sebagai jago mampu memberikan rasa aman dari gangguan para bandit, jagoan, dan tukang peras. Fotonya terpampang di toko-toko terutama milik pedagang dari kalangan etnis tionghoa. Para pelaku kriminal akan berpikir seribu kali untuk beraksi jika di sebuah toko terpampang fotonya.
Di mata keluarga H.Darip dikenal tertutup dan tidak pernah menceritakan perjuangannya dimasa lalu. Ia berbuat demi kemaslahatan masyarakat tanpa pamrih. Kehebatannya dimasa perjuangan lebih banyak diceritakan oleh Orang-orang diluar lingkungan keluarga, yang mungkin pernah berjuang bersamanya. Itupun kerap disangkal oleh H.Darip yang lebih memilih tawadhu. H.Darip bahkan enggan dan melarang anak-anaknya untuk menuntut kepada pemerintah agar diakui sebagai pejuang kemerdekaan atau pahlawan nasional. Walau demikian nama H.Darip secara administratif tercatat dalam Badan Penggerak Pembina Potensi Angkatan 45 / BPPP ANGKATAN 45. Di akhir hidupnya H.Darip Lebih banyak berdakwah di Masjid Al Makmur. Pejuang sejati ini wafat pada hari sabtu 13 juni 1981, dan di makamkan di tanah wakaf Ar Rahman, Jl. Tanah Koja, Jatinegara Kaum, di samping makam salah seorang istrinya, Hj.Hamidah.
Bendera Merah Putih menghiasi pusaranya, sebagai tanda Ia seorang pejuang kemerdekaan.
Maen pukulan H. Darip awalnya tidak bernama. Para murid yang terdiri dari kerabat dan putranya, di antaranya H.U'ung menyebutnya hanya maen pukulan H. Darip.
2. Jurus-jurus Maen Pukulan H. Darip
Maen Pukulan H. Darip memiliki 15 Jurus dasar berikut ini :
1. Jurus Satu
2. Jurus Dua
3. Jurus Tiga
4. Empat Persegi
5. Empat Double
6. Binti Atas
7. Binti Bawah
8. Binti Double
9. Tiga Manis Atas
10. Tiga Manis Bawah
11. Ansena
12. Pancer Satu
13. Pancer Dua
14. Monyet Satu
15. Monyet Dua
Masing-masing jurus memiliki banyak pecahan dan aplikasi yang dapat terus di gali oleh setiap praktisi. Maen pukulan ini memiliki nilai estetis tinggi ketika di tampilkan dalam bentuk pertunjukan kesenian Palang Pintu.
3. Ritual Tradisi Maen Pukulan H. Darip
Ritual tradisi dalam maen pukulan H. Darip berupa persyaratan yang harus di penuhi calon murid sebelum belajar, yakni membayar mahar sepasang ayam kampung ( jago dan biang ), kemudian menjalani pengurutan. Zaman dulu, untuk syarat ayam kampung sebisa mungkin yang tinggalnya acap kali di atas pohon, hal ini di maksudkan ayam kampung yang masih liar, lincah dari segi gerakan.
4. Ciri Khas Maen Pukulan H. Darip
Maen pukulan H. Darip memiliki ciri khas dan karakter :
- Atraktif dengan konsep serang elak "hit and run" yang merupakan aplikasi dari filosofi ayam petarung dan jurus monyet.
- kecepatan serang elak, di sertai gerakan-gerakan estetis.
- Kuda-kuda variatif dari tinggi, sedang, hingga rendah.
Selesai...
Note :
(١٣٦) H. Kurdin memiliki nama poyokan Bengkur, yang di kenal sebagai jago maen pukulan dan centeng di Stasiun Kereta Api Klender.
(١٣٧) Kemungkinan H. Darip di ajari maen pukulan oleh ayahnya. Hal yang wajar pada masyarakat betawi apabila seorang jago maen pukulan menurunkan ilmu kepada anak lelakinya.
(١٣٨) Robert Cribb, Para Jago Dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949, jakarta 2010, hlm. 108, terjemahan dari buku asli (Gangster and Revolusionaries The Jakarta People's Militia and The Indonesian Revolution 1945-1949) North Sydney, NSW: Asian Studies Association Of Australia, 1991.
Sumber Tulisan : G.J Nawi Buku Maen Pukulan "Pencak Silat Khas Betawi", Hlm. 191 - 200, Jakarta 2016.
Ringkasan Sejarah Pertempuran Rakyat Klender 1945
⌚ Sekitar Proklamasi Kemerdekaan RI 1945, Jakarta Raya ⌚
👣 Napak Tilas Muallim Haji Darip 👣
👉 Pahlawan Betawi Tanpa Pamrih Tanpa Tanda Jasa 👈
✊ Panglima Perang dari Klender ✊
💂 Pemimpin BARA (Barisan Rakyat) Indonesia Jakarta Raya 1945 💂
📚 Dokter Gerilya 📚
👥 Kesaksian Para Pelaku Peristiwa 👥
👮 Dr. Satrio 👮
👉 Pahlawan Nasional Kesehatan 1945 👈
📝 By : Matia Madjiah 📝
⚠ PT. Balai Pustaka (Hak Cipta) ⚠
📅 1997 📅
👌 Semoga Bermanfaat 👌
Pada tanggal 05 Oktober 1945, di Tanjung Priuk telah merapat 7 buah kapal Belanda berisi penuh dengan serdadu-serdadu dan Korps Marinir bersenjata lengkap dan modern. Mereka diangkut dengan mobil-mobil palang merah Belanda ke tangsi-tangsi jagamonyet, Gunung Sahari, dan lain-lain dibawah perlindungan tentara Inggris.
Pada tanggal 12 Oktober 1945 tangsi jagamonyet mendapat serangan dari para pemuda Petojo yang bekerjasama dengan para pemuda Senen dari pasukan OPI (Oesaha Pemuda Indonesia), API batak (Angkatan Pemuda Indonesia), dan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi). Pertempuran berkobar sampai ke Harmoni dan Pintu Air.
Pihak NICA membalas dengan aksi-aksi pembersihan, menggempur markas-markas pemuda kita. Akibatnya setiap hari berkobar pertempuran seru, terutama di daerah-daerah Tanah Tinggi, Senen, Kramat, Gang Sentiong, Jatinegara, Rawa Bangke (sekarang Rawa Bunga), Cilincing, Klender, Kalibaru, Menteng, Jagamonyet, Kebayoran, Kalibata, Cililitan, dan Pondok Gede.
Pada tanggal 15 oktober 1945 ketika tentara Inggris hendak menduduki Klender, tiba-tiba dari rumah-rumah penduduk bermunculan barisan-barisan rakyat yang bersenjatakan golok dan bambu runcing, menyerang mereka. Ternyata barisan rakyat itu dipimpin oleh Muallim Haji Darip. Mereka melakukan penyerangan dengan gagah berani dan mendapat bantuan dari satu kompi TKR yang bersenjatakan karaben. Maka berkobarlah pertempuran hebat, di mana kelewang dan sangkur ikut digunakan dalam pertempuran jarak dekat seorang lawan seorang. Banyak korban yang jatuh akibat pertempuran tersebut. Untuk menghormati jasa-jasa mereka yang gugur dalam peristiwa tersebut, pemerintah dan rakyat jakarta mengibarkan bendera setengah tiang. Tentara Inggris rupanya tidak menduga akan mendapat serangan semacam itu. Banyak di antara mereka yang gugur menghadapi serangan massal dari segala jurusan sehingga mereka tidak dapat bertempur sebagaimana mestinya. Akibatnya di pihak Inggris pun tidak sedikit jatuh korban. Mereka kemudian melakukan serangan balasan yang menimbulkan tidak sedikit korban di kalangan rakyat, dan akhirnya mereka berhasil juga menduduki Klender. Akan tetapi di malam hari tentaranya selalu di tarik kembali ke dalam kota. Mungkin mereka masih kuatir akan menghadapi lagi serangan massal seperti tempo hari, karena rakyat tidak lagi menghiraukan bahaya.
Pada tanggal 16 Oktober 1945 pangkalan Belanda di pondok gede mendapat giliran serangan rakyat. Dan bersamaan dengan itu kedudukan musuh di Pasar Minggu dan Klender juga di serang. Serangan terhadap Pondok Gede di pelopori dengan tiga kompi pasukan penggempur yang bersenjata lengkap, terdapat pula senapan-senapan otomatis. Pasukan Belanda yang akan di serang. Kekuatannya terdiri dari dua kompi bersenjata lengkap. Mereka telah membangun perbentengan di sekeliling tangsinya.
BARA yang di persenjatai dengan bom-bom batok (sebutan untuk ranjau darat) dan granat tangan di tempatkan antara Cawang dan Pondok Gede dengan tujuan untuk menghadang musuh atau bala bantuan musuh yang mungkin di datangkan dari Jatinegara.
Pertempuran segera berkobar. Dan setelah berlangsung kurang lebih 3 Jam, BARA berhasil memperoleh kemajuan. Mereka berhasil merampas beberapa pucuk senapan dan membakar tiga buah truk musuh. Tetapi mereka tidak berhasil memasuki perbentengan.
Akibat pertempuran-pertempuran itu regu-regu gerak cepat dari PMI yang dipimpin oleh Dr.Satrio setiap hari sibuk terus. Mereka bukan saja bergerak secara mobil untuk memberikan pertolongan terhadap korban-korban pertempuran, tetapi juga sibuk melatih PPPK kepada para pemuda pemudi anggota PMI di seluruh pelosok Jakarta.
Pada waktu Dr.Satrio membentuk pasukan gerak cepat PMI, perlengkapan yang dimilikinya hanyalah berupa man power yang dipenuhi dengan tekad untuk mengabdi di lapangan yang sesuai dengan kecakapannya. Perlengkapan lainnya belum ada dan masih harus di usahakan.
Melalui CBZ (Centraal Burgerlijk Ziekenhuis / Rumah Sakit Umum Pusat) sekarang RSCM, diusahakan obat-obatan dan perlengkapan keperluan PPPK. Kendaraan-kendaraan untuk keperluan regu-regu gerak cepat diperoleh sebagai pinjaman dari instansi lain dengan jalan diplomasi. Sebagian lagi diperoleh dengan menyerobot kendaraan Jepang dan kendaraan yang dianggap tidak bertuan. Usaha untuk memperoleh kendaraan itu dipelopori oleh mahasiswa Djaka Sutadiwira seorang pemuda energik dengan pembawaan periang. Pemuda ini sangat lincah dalam bergerak dan mudah menarik simpati orang dalam bergaul. Ia memiliki kesanggupan untuk melakukan macam-macam tugas. Menolong yang luka-luka dari medan pertempuran, menjadi pengemudi, berdiplomasi, dan kalau perlu ia juga berani menyerempet-nyerempet bahaya masuk ke daerah musuh. Pemuda inilah yang menjadi pembantu utama Dr.Satrio.
Untuk meningkatkan perlawanan rakyat, maka pada bulan November 1945, wakil presiden Muhammad Hatta, mengadakan pertemuan dengan para pemuka perjuangan seluruh Jakarta dalam rangka mengkoordinasi mereka. Pertemuan itu di langsung kan di rumah kediaman beliau (Bung Hatta) sendiri. Hadir dalam pertemuan itu para utusan badan-badan perjuangan Jakarta dan sekitarnya. Jakarta diwakili oleh Kusno Utomo, Pohan, dan Hasibuan, Klender diwakili oleh Muallim Haji Darip dan Pak Asa, Jatinegara diwakili oleh Tohir Mangkudijaya dan Simbangan, Tanjung Priuk diwakili oleh Abdul Malik dan Abdul Rakhman, Bekasi diwakili oleh Muhayyar, Tambun diwakili oleh Tabrani, Cibarusa dan Cileungsi diwakili oleh Manaf Roni, Pak Macan, dan Wahidin, Menteng 31 diwakili oleh Amir Syarifuddin dan Hendromartono.
Petang harinya pertemuan itu dilanjutkan di kediaman Bung Karno dan dipimpin sendiri oleh Bung Karno. Semua anggota kabinet ikut hadir. Juga Kepala Kepolisian Negara ikut hadir.
Dalam pertemuan itu Bung Karno meminta agar gerakan menghadapi NICA diperhebat. Tetapi disamping itu usaha untuk mencegah terjadinya penggedoran-penggedoran, juga harus di perhebat. Peristiwa penggedoran di daerah Jatinegara dan Bekasi, menurut Bung Karno sangat memalukan dan karenanya harus diusahakan agar jangan sampai terulang kembali. Untuk memudahkan koordinasi, maka rapat memutuskan menetapkan pemuda Wahidin untuk duduk mewakili badan-badan perjuangan di pemerintah pusat.
Pasukan Muallim Haji Darip Klender.
Tentara Inggris Menduduki Klender.
Tentara Inggris mendapat serangan rakyat.
Pemeriksaan yang dilakukan pihak tentara Inggris kepada rakyat Klender.
Setelah pertempuran.
Saksi yang sunyi puing puing bekas pertempuran Klender.
Piagam penghargaan sebagai tanda Muallim Haji Darip seorang Pejuang.
Sumber foto : sobatsbollenstreek.nl , national archief , keluarga Muallim Haji Darip.
Minggu, 29 Oktober 2017
BPRI Muallim Haji Darip Klender
🔊 BPRI
👉 Barisan Perang Rakyat Indonesia
🌎 JAKARTA RAYA
👮 Pimpinan Letnan Kolonel KH Darip
👳 Penasehat Batalion Divisi 1 Siliwangi
📆 1947
🌐 Putra Betawi Klender
Dikarenakan banyaknya penulis buku sejarah yang keliru menuliskan singkatan BPRI Muallim Haji Darip yang dibentuk saat beliau hijrah dan tiba di daerah pedalaman Cikarang. Maka sekedar meluruskan bahwasanya BPRI Muallim Haji Darip itu singkatan dari "Barisan Perang Rakyat Indonesia". Dan tidak ada kaitannya dengan BPRI-nya Bung Tomo.
Adapun sepak terjang perjuangan BPRI Muallim Haji Darip itu mulai dari Jakarta (Klender), Cakung, Kranji, Bekasi, Tambun, Cikarang, Karawang, Cikampek, Purwakarta, Bandung, hingga Cirebon.
Dan pada akhirnya kembali dilebur menjadi badan kesatuan TKR yang kemudian berganti TRI hingga TNI, sebagaimana ketika Muallim Haji Darip membentuk BARA (Barisan Rakyat) Indonesia di Klender/Jakarta timur pada 20 Agustus 1945 dan setahun kemudian (pertengahan tahun 1946) dengan rela Muallim Haji Darip membubarkan pasukan BARA untuk digabungkan kedalam TKR. Karna memang sebelumnya pada tanggal 05 oktober 1945 pemerintah pusat telah mengeluarkan maklumat untuk mentranformasi BKR menjadi TKR. BPRI Muallim Haji Darip dilebur ada yang berupa Batalion sendiri dan langsung dilantik oleh Kolonel A.H. Nasution pada tanggal 02 Februari 1947 dan bertempat dilapangan Kian Santang Purwakarta, dan ada pula yang berupa Resimen yaitu ketika terjadi penertiban laskar rakyat di Karawang yang dilakukan oleh Mayor Omon dari Resimen 6 dan Mayor Sadikin dari Resimen 7, maka BPRI Muallim Haji Darip itu dimasukkan kedalam kesatuan Resimen 7 Divisi 1 Siliwangi dibawah Mayor Sadikin saat itu.
Semoga Alloh berkenan mengampuni segala dosa dan memaafkan segala kesalahan para pahlawan NKRI dan memasukannya kedalam surga...aamiin.
Muallim Haji Darip Dengan Sang Murid
☝Kong Imam Sya'fi'ie Jawara Pejuang Daerah Senen Jakarta Pusat Rohimahullohu Ta'ala.
✌Kong Haji Nausan Jawara Pejuang Daerah Gabus Bekasi Jawa Barat Rohimahulloh Ta'ala.
🤞Dll, Rohimahumullohu Ta'ala.
1. Kong Imam Syafi'ie lahir di Kampung Bangka, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 27 Agustus 1918.
Bang Pi'ie begitu dia hangat disapa merupakan salah satu pahlawan negeri ini. Dia bekas jawara Pasar Senen di Jakarta Pusat dan satu-satunya jagoan yang sempat menjabat Menteri Keamanan Rakyat dalam Kabinet Dwikora bentukan Presiden Soekarno.
Lulus Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) 1958 dengan pangkat Letkol, Syafi'ie yang memiliki 16 anak sering mengawal perjalanan Presiden Sukarno.
Pada tanggal 09 September 1982, Bang Pi’ie pun tutup usia. Dia meninggal di kediamannya di Jalan Wijaya 9, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebelum dimakamkan, iring-iringan jenazah Bang Pi’ie sempat dibawa mengitari daerah Senen hingga Kemayoran, sebelum akhirnya disemayamkan di Gedung Dewan Harian Daerah 45 Jakarta. Dalam pidato sebelum pemakaman Bang Pi’ie, mendiang Jenderal AH Nasution pun memberi sambutan. Pak Nasution bilang (dalam pidatonya) "Jasa-jasa beliau semasa pertempuran, sangat besar untuk negara, untuk kemerdekaan. Di masa itu orang seperti Pak Syafei ini dibutuhkan oleh bangsa,” ujar Edi. Prosesi pemakaman Bang Pi’ie pun dilakukan secara militer.
2. Masyarakat Kampung Gabus mengenal/menyebutnya dengan panggilan Papi. Dia adalah Haji Nausan, pria asli Betawi kelahiran Kampung Gabus, Desa Sriamur, Tambun Utara, Bekasi. Bapaknya bernama Haji Rindon, dikenal mempunyai tanah tercecer ratusan hektare dari wilayah Bekasi sampai Kalimaya, Cikampek.
Lahir dari keturunan tuan tanah asli Kampung Gabus. Namun perilakunya bersahaja dan mau merakyat. Pada zaman kemerdekaan ikut menjadi berjuang melawan penjajah. Semua jawara segan terhadap dia.
Haji Nausan seangkatan dengan tiga pejuang Bekasil lainnya, yakni Kiai Noer Alie yang dijuluki Singa Kerawang, Haji Jolie, dan kalangan militer keturunan Tionghoa Mayor Oking.
Sekitar 1950-an Haji Nausan didapuk sebagai kepala daerah Bekasi pertama setingkat wali kota. Dulu Bekasi mencakup hingga wilayah Batavia, termasuk Jatinegara sekarang
ini.
Sekarang nama Papi atau Haji Nausan diabadikan menjadi nama jalan membentang antara Desa Sriamur dan Desa Srimahi.
Haji Nausan bin Rindon, kelahiran Bekasi, 10 april 1911 dan wafat 18 oktober 1989.
Demikianlah biografi singkat perjalanan dua dari ratusan bahkan ribuan orang-orang yang pernah mengambil ilmu dan kemanfaatan, keberkahan serta keteladanan daripada Kong Haji Darip. Hanya saja diantara keturunan-keturunan mereka orang-orang yang dibesarkan namanya karna Kong Haji Darip, hanya dari keturunan dua orang ini yakni Kong Pi'ie dan Kong H.Nausan yang tak segan-segan dan malu/gengsi menyebutkan/menceritakannya dimuka umum dan tanpa memutar balik fakta sejarah, Wallohu A'lam. Semoga mereka Alloh Ta'ala pertemukan dan persatukan kembali di Alam Barzakh hingga Akhirat dalam karunia, Rohmat dan AmpunanNYA, sebagaimana Alloh Ta'ala pertemukan dan persatukan mereka saat di Dunia. Aamiin.
Muallim Haji Darip dan KH.M. Hasan Armin Banten
Dikisahkan dari putra ketiga daripada Muallim Haji Darip yakni H.Qomaruddin dengan dua orang rekannya yakni H.Farah dari Kp.Tanah 80, KH. Thohir Cipinang Muara.
Pada tahun 1971 mereka bertiga pergi ke daerah Banten, Kemudian mereka singgah di pondok pesantren di desa Cibuntu Pandeglang Banten peninggalan salah satu Ulama besar Banten yang bernama KH. Muhammad Hasan Armin yang biasa dipanggil Abuya Armin. Mereka bertiga pun pergi menghadap dan menemui Abuya Armin. Setelah mereka bertiga berjumpa dengan Abuya, kemudian mereka bertiga diberi satu cerita singkat/riwayat tanah Banten pada masa penjajahan 1945 - 1949, dan adanya hubungan (kongsi) dengan salah satu tokoh pejuang dari Klender yakni Muallim Haji Darip. Seraya Abuya Armin berkata kepada mereka bertiga, "Haji Darip itu Wali Alloh". Dan Abuya menjelaskan, bahwasanya pada masa penjajahan dulu itu di tanah Banten luar biasa ketat penjagaan bala tentara Nica dan Inggris. Namun, Muallim Haji Darip bisa datang seorang diri memenuhi permintaan Abuya Armin menempuh jarak antara Klender dan Banten itu dalam waktu/kecepatan yang tidak disangka oleh Abuya. Banten waktu itu sebagaimana daerah-daerah lain di Indonesia, masih merupakan hutan-hutan yang lebat dan jarak tempuh yang cukup jauh dengan Klender. Namun Abuya Armin bisa menjalin hubungan komunikasi, berkongsi, berjanjian untuk ketemuan, dan mengatur waktu, dengan Muallim Haji Darip yang padahal masa itu belum ada telpon celular atau alat komunikasi apapun. Pertemuan mereka seperti pertemuan para Wali Alloh yang dianugerahi ilmu yang langsung diberikan kepada mereka dengan izin dan sebagai karunia Alloh Swt, Wallohu A'lam.
Semoga Bermanfaat...aamiin.,
(Bersambung).
Intisari Manaqib Muallim Haji Darip Klender
Kedua orang tuanya adalah orang yang taat beragama. Ketika ia menginjak usia remaja, dikirimkannya ke Mekkah untuk Belajar Agama. Selama kurang lebih empat tahun dia tinggal disana. Pada Tahun 1916, sekembalinya dari menimba ilmu agama dan beribadah haji di Mekkah dan Madinah Arab Saudi, dalam Usianya yang genap mencapai 30 tahun adalah bertepatan dengan pecahnya perang dunia pertama menjadi salah satu bekal kepahitan hidup yang ia bawa pulang kerumahnya. Dalam keadaan negrinya yang sedang terjajah, penderitaan saudaranya seagama, sebangsa, dan setanah air yang tidak luput dari pandangan matanya karna kesewenang-wenangan dan kebiadaban penjajah kolonial beserta kaki tangannya yang menyebabkan kematian, kemiskinan, kesulitan hidup, dan kelaparan, hingga menjadikan saudaranya sebangsa, seagama ditanah kelahirannya terpaksa harus melakukan tindak kriminal (bajingan, maling, pencoleng, dan perampok) demi menghidupi keluarganya dan menuruti hawa nafsunya, namun demikian tidak menyurutkan niatnya untuk berdakwah menyebarkan ilmu agama islam sebagai amanat Tuhannya untuk disampaikan kepada saudaranya seagama muslimin muslimat tanpa memandang status sosialnya yang berbeda-beda ditanah kelahirannya. Berbekal dari ilmu yang didapatnya saat bermukim di tanah suci Mekkah dan Madinah, Ia pun memulai dakwah dan perjuangannya itu dari musholla yang terdekat dengan rumahnya yang kini telah menjadi masjid megah bernama Al Makmur, dan dari musholla ke musholla antar desa di sekitar tanah kelahirannya. Dia adalah H. Muhammad Arif yang dilahirkan di Klender pada tahun 1886, yang kemudian menjadi terkenal dengan panggilan Muallim Haji Darip sebagai salah satu pelopor perjuangan rakyat Jakarta melawan penjajah dari Klender sebelah timur kota Jakarta. Seorang putra bungsu dari pasangan H. Kurdin dan Hj. Ma 'ih yang juga sebagai pemuka agama sekaligus orang berpengaruh (jago pukul) di Klender.
Hiduplah Muallim Haji Darip sebagai pribadi yang jujur, polos, sederhana, santun, rendah hati, beradab, murah tangan, penolong, dan sangat menyayangi ayah ibunya serta kerabat dan sanak saudaranya, diiringi pula dengan sifat baktinya yang tinggi kepada ibu dan ayahnya hingga kedua orang tuanya wafat. Selain mengemban tugas dakwah, Muallim Haji Darip juga terpaksa harus mengemban tugas lain dengan membantu memberikan rasa aman kepada penduduk Klender dari para bajingan, maling, pencoleng, dan perampok yang kian mengganggu dan menimbulkan keresahan serta membuat Muallim Haji Darip risau. Ayahnya yang memang dikenal juga sebagai Jawara (Jago Pukul/Silat), rupanya menitis kepadanya. Muallim Haji Darip sendiri kala itu belum dikenal sebagai jago silat seperti sang ayah. Tetapi, penduduk banyak yang minta bantuannya karna dipercaya bisa membantu mengatasi persoalan bandit, perampok, dan pencoleng. Hingga akhirnya masyarakat Klender meminta kesediaan Muallim Haji Darip untuk menjadi pelindung pedagang beras di stasiun Klender. Permintaan itu kemudian dipenuhi oleh Muallim Haji Darip. Walau dengan terpaksa harus menempuh jalan perkelahian sebagai upaya mengurangi aksi tindak kriminal, semata-mata demi ketenteraman warga masyarakat Klender, sekalipun harus berurusan dengan kepolisian dibawah pemerintahan Hindia Belanda saat itu sampai rela dimasukkan ke penjara, dipukuli, berulang-ulang kali.
Setelah di rasa diperlakukan secara tidak adil oleh pihak kepolisian dan membuat Muallim Haji Darip sangat kesal. "Saya ini bukan pencoleng, tetapi dipenjara kumpul sama mereka, mendapat pukulan seperti juga bajingan-bajingan itu" kisahnya, maka Muallim Haji Darip memutuskan untuk meninggalkan Klender (Jakarta) dan terpaksa menunda perjalanan Dakwahnya. Ditujunyalah tanah Sumatera tepatnya Palembang, Pangkal Pinang, Jambi, dll, dengan menumpang kapal laut tanpa ongkos/tiket bercampur dengan binatang ternak kiriman di kapal tersebut. Kemudian Muallim Haji Darip bekerja sebagai kuli kontrak. Selain itu, selama di Sumatera Muallim Haji Darip mengajar mengaji, menjadi merbot musholla, hingga sampai diangkat menantu oleh kepala suku (orang terpandang) di Pangkal Pinang karna telah berhasil memenangkan proses adu ilmu bela diri/pencak silat (sayembara) yang berlaku kala itu, sebagai budaya melayu berbalas pantun dll. Kira-kira satu setengah tahun kemudian Muallim Haji Darip dipindah kerja ke Martapura, kemudian dipindah dan dipindah lagi, dan berakhir di Tanjung Raja. Sesuatu yang tak disangka datang kepadanya, Muallim Haji Darip bertemu sahabat lama dari Betawi bernama 'Mat Piki' dan menawarkan rumahnya untuk Muallim Haji Darip tinggal selama disana. Namun sahabat yang dikenalnya baik itu ternyata menyimpan rencana tidak baik yang tidak sempat diperhitungkan Muallim Haji Darip. Mat Piki mengajaknya untuk merampok dan tentu saja Muallim Haji Darip menolak dan menasehatinya hingga akhirnya Mat Piki mengurungkan niat dan rencananya itu. Selama di Tanjung Raja, lagi-lagi Muallim Haji Darip mendapat perlakuan semena-mena diantara kuli kontrak yang sok jagoan. Jalan perkelahian pun kembali tak terhindarkan sampai akhirnya Muallim Haji Darip dipanggil atasannya lalu dipindah ditempat lain dan akhirnya Muallim Haji Darip kembali pulang ke Jakarta (Klender).
Sesampainya di Jakarta Muallim Haji Darip terpanggil untuk melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. berangkat dari keridloan ibu, ayah, dan guru-guru, serta orang-orang yang dicintainya, Muallim Haji Darip pergi berjuang bersama-sama Soekarno melawan Belanda di Tanjung Priuk dan Cilincing Jakarta utara, bergerak dibawah tanah. Sejak itulah terjalin hubungan kedekatan dan komunikasi Muallim Haji Darip dengan Soekarno serta tokoh pejuang lainnya dengan sangat baik dan mulai dikenali potensi dan dedikasinya yang tinggi terhadap perjuangan. Muallim Haji Darip pantang menyerah dan tanpa tedeng aling-aling terhadap penjajah. Pada tahun 1942, Jepang berhasil menduduki Indonesia setelah mengalahkan Belanda dalam perebutan kekuasaan. Namun Walau dalam keadaan yang masih terjajah oleh Jepang, bahkan Klender dijadikan sebagai salah satu wilayah Romusha oleh Jepang. Muallim Haji Darip menyempatkan diri untuk melanjutkan dakwahnya dan menambah ilmunya dengan berguru kepada ulama yang berada disekitar Jakarta. Diantara Guru-guru Muallim Haji Darip yang menonjol ialah Al Habib Abdul Qodir bin Muhammad Al Haddad/Wan Kadir (Kp Melayu), Al Habib Abdulloh bin Salim Al Athos (Kebon Nanas), bahkan Al Habib Alwi bin Ahmad Jamalullail (Mangga Besar) sampai mengajar di rumahnya dan berkawan baik dengan para Ulama Tanah Betawi. Tatkala Muallim Haji Darip tak kuasa menyaksikan kebiadaban penjajah Dai Nippon Jepang yang semakin merajalela, korban-korban pembunuhan, penyiksaan, dan pemerkosaan, yang terus berjatuhan, terlebih lagi dengan peristiwa penyuntikan vaksin tetanus yang dilakukan pihak Jepang kepada rakyat di Klender yang sampai memakan korban kurang lebih 1000 orang, ditambah lagi dengan Pidato-pidato Bung Karno yang semakin berkobar-kobar di radio yang didengar Muallim Haji Darip. Maka Muallim Haji Darip kembali menunda dakwah dan belajarnya. Lalu Beliau pun kembali mengejar keridloan orang-orang yang dicintainya, dan memutuskan serta mengambil langkah untuk turut berjuang mengorbankan sepenuh jiwa, raga, harta, dan nyawanya, demi kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia sebagaimana yang di lakukan oleh para pejuang di seluruh Indonesia. Tokoh-tokoh pejuang yang telah melihat potensi Muallim Haji Darip ketika peristiwa perang di Tanjung Priuk melawan Belanda pun datang menemui Muallim Haji Darip mengajaknya untuk sama-sama berjuang mengusir Jepang. Diantaranya Sukarni, Kamaluddin, Pandu Kartawiguna, yang dianggap sebagai tokoh penting dalam pergerakan mewakili golongan muda dari pejuang diseluruh Indonesia serta lainnya. Kemudian Muallim Haji Darip mengumpulkan pengikutnya yang terdiri dari murid dan jamaahnya, pemuda pemudi, yang masih berusia belasan hingga puluhan tahun, dan mengajak para Tokoh-tokoh agama di Klender serta menghimpun narapidana rutan Cipinang dan bajingan-bajingan (buaye-buaye) yang berada dihutan-hutan yang telah tunduk oleh Muallim Haji Darip. Maka terbentuklah BARA (Barisan Rakyat) Indonesia Jakarta raya yang dibentuk dan dipimpin oleh Muallim Haji Darip sendiri. Sebelum berperang, sebagai orang yang mengerti agama, terlebih dahulu ia berdoa dan berikhtiar, berupaya untuk dapat mengimbangi kekuatan musuh (Jepang dan Belanda yang memiliki persenjataan lengkap dan modern), sedangkan Muallim Haji Darip dan Laskarnya yang hanya bermodal keberanian, golok, dan bambu runcing, serta tangan kosong. maka Muallim Haji Darip melakukan ritual membacakan doa dan meminta perlindungan dan keselamatan kepada Alloh SWT untuknya dan anggota BARA melalui wasilah air (air sumur) yang biasa digunakan untuk mensucikan diri, seperti mandi hadats dan wudhu. Kemudian setelah air tersebut telah selesai di doakan, Muallim Haji Darip memandikan seluruh anggota BARA yang telah siap berperang. Selanjutnya sebagai wujud dan untuk meyakinkan dirinya dan Anggota BARA bahwa doanya itu terkabul dan bahwa air yang dibacakan doa itu telah meresap kedalam tubuh, maka Muallim Haji Darip menguji cobanya dengan membacokkan golok disekujur badan anggota laskar BARA. Alhasil, Ikhtiar dan doanya itupun berhasil. Anggota laskar BARA telah mengaugerahi kekebalan dari senjata tajam dan api dari Alloh Swt. Selain itu Muallim Haji Darip juga memberikan modal spiritual lainnya melalui penanaman prinsip perjuangan sebagaimana ajaran agama islam kepada anggota BARA yang diambilnya dari salah satu hadits Nabi Muhammad Saw yang berbunyi "Cinta Tanah Air itu Sebagian Dari Iman," agar kiranya mereka yang terlibat dan dilibatkan Muallim Haji Darip dalam berjuang mengusir penjajah bisa dimengerti anggotanya, bahwasanya perbuatan membela negara dengan mengorbankan nyawa, itu adalah satu diantara jalan menyempurnakan iman umat islam dan memiliki nilai dan kedudukan pangkat yang tinggi serta pahala yang besar disisi Alloh Swt. Muallim Haji Darip juga melarang mereka didalam peperangan melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama yang dapat menodai dan mencederai kemurnian perjuangannya, serta tidak bertindak melainkan atas perintah darinya. Maka setelah Muallim Haji Darip merasa telah cukup membekali secara mental dan spiritual bagi laskar BARA, mereka mulai melakukan penyerangan terhadap bala tentara Jepang dan bertempur diseluruh front dikota Jakarta. Terutama di daerah Sunter, Jatinegara, Cipinang Cempedak, Pangkalan Jati, Pondok Gede, dll. Menerima serangan dari BARA, pihak Jepang menjadi geram dan membuatnya merasa terancam. Pihak Jepang kemudian melakukan siasat untuk menundukkan Muallim Haji Darip dengan bujuk rayu harta dan jabatan kepada Muallim Haji Darip. Namun usaha Jepang tidak berhasil, karna Muallim Haji Darip tidak bisa di tundukkan dengan pemberian harta dan jabatan agar menghentikan perjuangannya. Maka Jepang mengambil langkah penangkapan terhadap Muallim Haji Darip sebagai sang ketua BARA. Setelah diketahui bahwa dirinya akan ditangkap, Muallim Haji Darip melarikan diri dan bersembunyi mulai dari daerah Klender, Pulogadung, Bekasi, Karawang, Cikampek, hingga Purwakarta sekitar tahun 1943. Namun akhirnya Jepang berhasil menangkap Muallim Haji Darip, setelah di khianati oleh kawannya sendiri yang memberitahukan tempat persembunyiannya. Dua tahun Muallim Haji Darip mendekam dipenjara dan terpidana mati. Sebelum di eksekusi mati, Muallim Haji Darip menerima penyiksaan secara tak manusiawi dari tentara Jepang. Selama dipenjara Muallim Haji Darip tetap menjadi pribadi yang sabar dan tetap taat beribadah. Menjelang eksekusi mati, tentara Jepang menawarkan satu permintaan terakhir kepada Muallim Haji Darip. Lantas tawaran tentara Jepang langsung disambut dengan perkataan Muallim Haji Darip dengan menyatakan bahwa dirinya bukan Darip yang kalian cari, tapi saya Muhammad Arif. Ternyata Perkataan Muallim Haji Darip membuat bimbang tentara Jepang dan mereka segera mengecek dokumen tentang Muallim Haji Darip. Alhasil tentara yang menyimpan dokumen Muallim Haji Darip sedang pulang ke Jepang, Muallim Haji Darip pun selamat dari eksekusi mati dan dimasukan lagi kedalam tahanan. Ketika tragedi bom atom yang menimpa Hiroshima jatuh pada awal agustus 1945, sebagian tentara Jepang memilih kembali ke negrinya. melihat tentara Jepang yang tersisa di penjara tinggal sedikit, anak buah Muallim Haji Darip kemudian menyusun strategi untuk membebaskan sang pimpinan. perjuangan pun tak sia-sia, akhirnya Muallim Haji Darip berhasil dibebaskan. Setelah bebas dari penjara, Soekarno datang menemui Muallim Haji Darip untuk berkomunikasi mengatur strategi peperangan. Setelah itu Muallim Haji Darip bersama BARA melakukan pembersihan tentara Jepang yang bertugas didaerah pinggiran-pinggiran kota. Sukarni pun datang menemui Muallim Haji Darip dan memberitahukan bahwa Indonesia sebentar lagi akan merdeka. Mendengar berita dari Sukarni, Muallim Haji Darip mengerahkan segenap kekuatan yang ada untuk mempersiapkan Kemerdekaan dengan segala keperluan yang dibutuhkan dan memerintahkan BARA untuk menjaga ketat Klender yang telah menjadi gudang persenjataan dan logistik bagi keperluan para pejuang di Jakarta dari hasil rampasan tentara Jepang. Seiring dengan keberaniannya dalam aksi-aksi heroik yang dilakukan Muallim Haji Darip bersama BARA, membuat reputasinya menjulang tinggi dan terkenal keseluruh pelosok Jakarta. Julukan Panglima Perang pun disandangnya, Generalismo Klender 1945. Tokoh-tokoh seperti Jo Abdurrachman, Kartini Radjasa, Zus Ratulangie, Lasmidjah Hardi, Erna Djajadiningrat, datang kepada Muallim Haji Darip untuk menyampaikan dan membicarakan siasat perjuangan sekitar masalah pertahanan, dan bagaimana koordinasi meningkatkan efisiensi mencari bahan persediaan makanan dan pakaian untuk disuplay kepada pejuang yang bertugas di Jakarta. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat, Sukarni, Chaerul Saleh, dll melakukan penculikan terhadap Soekarno-Hatta, untuk dibawa ke Rengas Dengklok, Soekarno meminta agar mereka mengajak Muallim Haji Darip. Maka perjalanan terhenti di Klender untuk menjemput Muallim Haji Darip. Saat tiba di Rengas Dengklok, Soekarno-Hatta ditempatkan dirumah yang tidak layak dipinggir kali. Lalu Muallim Haji Darip mengusulkan kepada Sukarni dan kawan-kawannya agar menempatkan Soekarno-Hatta dirumah yang layak. Maka ditujunyalah rumah warga etnis tionghoa yang bernama Djie Kiaw Siong. Hal itu dilakukan Muallim Haji Darip sebagai bentuk penghormatan Muallim Haji Darip kepada Soekarno-Hatta yang dianggap sebagai calon pemimpin bangsa yang harus dihormati. Setelah proklamasi kemerdekaan berhasil diselenggarakan dikediaman Bung Karno pada 17 Agustus 1945, Soekarno berkunjung ke Klender dan memimpin rapat akbar dalam rangka persiapan menghadapi Belanda yang telah diketahui Soekarno akan kembali menjajah. Soekarno mengobarkan semangat perjuangan rakyat Klender untuk tetap turut mempertahankan kemerdekaan. Kemudian Muallim Haji Darip dan BARA yang mengemban tugas untuk melakukan mobilisasi ke seluruh Jakarta dan sekitarnya, mulai membentuk jaringan-jaringan antar pejuang di Jakarta dan Badan-badan perjuangan pun dibentuk dalam rangka bersiap. Pada tanggal 05 Oktober 1945, di Tanjung Priuk telah merapat 7 buah kapal Belanda berisi penuh dengan serdadu-serdadu dan Korps Marinir bersenjata lengkap dan modern. Mereka diangkut dengan mobil-mobil palang merah Belanda ke tangsi-tangsi jagamonyet, Gunung Sahari, dan lain-lain dibawah perlindungan tentara Inggris.
Pada tanggal 12 Oktober 1945 tangsi jagamonyet mendapat serangan dari para pemuda Petojo yang bekerjasama dengan para pemuda Senen dari pasukan OPI (Oesaha Pemuda Indonesia), API batak (Angkatan Pemuda Indonesia), dan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi). Pertempuran berkobar sampai ke Harmoni dan Pintu Air.
Pihak NICA membalas dengan aksi-aksi pembersihan, menggempur markas-markas pemuda kita. Akibatnya setiap hari berkobar pertempuran seru, terutama di daerah-daerah Tanah Tinggi, Senen, Kramat, Gang Sentiong, Jatinegara, Rawa Bangke (sekarang Rawa Bunga), Cilincing, Klender, Kalibaru, Menteng, Jagamonyet, Kebayoran, Kalibata, Cililitan, dan Pondok Gede.
Pada tanggal 15 oktober 1945 ketika tentara Inggris hendak menduduki Klender, Muallim Haji Darip bersama BARA melakukan penyerangan dengan gagah berani dan mendapat bantuan dari satu kompi TKR yang bersenjatakan karaben. Maka berkobarlah pertempuran hebat, di mana kelewang dan sangkur ikut digunakan dalam pertempuran jarak dekat seorang lawan seorang. Banyak korban yang jatuh akibat pertempuran tersebut. Untuk menghormati jasa-jasa mereka yang gugur dalam peristiwa tersebut, pemerintah dan rakyat jakarta mengibarkan bendera setengah tiang. Tentara Inggris rupanya tidak menduga akan mendapat serangan semacam itu. Banyak di antara mereka yang gugur menghadapi serangan massal dari segala jurusan sehingga mereka tidak dapat bertempur sebagaimana mestinya. Akibatnya di pihak Inggris pun tidak sedikit jatuh korban. Mereka kemudian melakukan serangan balasan yang menimbulkan tidak sedikit korban di kalangan rakyat, dan akhirnya mereka berhasil juga menduduki Klender. Akan tetapi di malam hari tentaranya selalu di tarik kembali ke dalam kota. Mungkin mereka masih kuatir akan menghadapi lagi serangan massal seperti tempo hari, karena rakyat tidak lagi menghiraukan bahaya.
Pada tanggal 16 Oktober 1945 pangkalan Belanda di pondok gede mendapat giliran serangan rakyat. Dan bersamaan dengan itu kedudukan musuh di Pasar Minggu dan Klender juga di serang. Serangan terhadap Pondok Gede di pelopori dengan tiga kompi pasukan penggempur yang bersenjata lengkap, terdapat pula senapan-senapan otomatis. Pasukan Belanda yang akan di serang. Kekuatannya terdiri dari dua kompi bersenjata lengkap. Mereka telah membangun perbentengan di sekeliling tangsinya.
BARA yang di persenjatai dengan bom-bom batok (sebutan untuk ranjau darat) dan granat tangan di tempatkan antara Cawang dan Pondok Gede dengan tujuan untuk menghadang musuh atau bala bantuan musuh yang mungkin di datangkan dari Jatinegara.
Pertempuran segera berkobar. Dan setelah berlangsung kurang lebih 3 Jam, BARA berhasil memperoleh kemajuan. Mereka berhasil merampas beberapa pucuk senapan dan membakar tiga buah truk musuh. Tetapi mereka tidak berhasil memasuki perbentengan.
Untuk meningkatkan perlawanan rakyat, maka pada bulan November 1945, wakil presiden Muhammad Hatta, mengadakan pertemuan dengan para pemuka perjuangan seluruh Jakarta dalam rangka mengkoordinasi mereka. Pertemuan itu di langsung kan di rumah kediaman beliau (Bung Hatta) sendiri. Hadir dalam pertemuan itu para utusan badan-badan perjuangan Jakarta dan sekitarnya. Jakarta diwakili oleh Kusno Utomo, Pohan, dan Hasibuan. Klender diwakili oleh Muallim Haji Darip dan Pak Asa. Jatinegara diwakili oleh Tohir Mangkudijaya dan Simbangan; Tanjung Priuk diwakili oleh Abdul Malik dan Abdul Rakhman. Bekasi diwakili oleh Muhayyar. Tambun diwakili oleh Tabrani. Cibarusa dan Cileungsi diwakili oleh Manaf Roni, Pak Macan, dan Wahidin. Menteng 31 diwakili oleh Amir Syarifuddin dan Hendromartono.
Petang harinya pertemuan itu dilanjutkan di kediaman Bung Karno dan dipimpin sendiri oleh Bung Karno. Semua anggota kabinet ikut hadir. Juga Kepala Kepolisian Negara ikut hadir.
Dalam pertemuan itu Bung Karno meminta agar gerakan menghadapi NICA diperhebat. Tetapi disamping itu usaha untuk mencegah terjadinya penggedoran-penggedoran, juga harus di perhebat. Peristiwa penggedoran di daerah Jatinegara dan Bekasi, menurut Bung Karno sangat memalukan dan karenanya harus diusahakan agar jangan sampai terulang kembali. Untuk memudahkan koordinasi, maka rapat memutuskan menetapkan pemuda Wahidin untuk duduk mewakili badan-badan perjuangan di pemerintah pusat. Ketika situasi Jakarta semakin memanas, maka untuk menjaga jangan sampai kehabisan peluru dan menghindarkan jatuhnya korban lebih banyak lagi, API, Menteng31, terpaksa mengundurkan diri ke Klender dan menghimpun kekuatan. atas perintah pemerintah BARA bersama laskar pejuang lainnya terpaksa mengundurkan diri ke pedalaman Tambun, Cikarang, Bekasi, Karawang, hingga Purwakarta. Pada tahun 1946, Muallim Haji Darip dengan rela membubarkan pasukannya untuk di gabungkan dengan TKR. Begitu pula saat Muallim Haji Darip membentuk BPRI (Barisan Perang Rakyat Indonesia) di Cikarang Bekasi yang tersebar hingga ke Karawang, Cikampek, Purwakarta, Bandung dan Cirebon Jawa barat. dengan pangkat Letkol. Penasehat Batalyon AMPI/Res.7/Divisi 1 Siliwangi. Dan ketika resimen Sadikin melakukan penertiban terhadap laskar rakyat jakarta raya (LRJR) di Karawang, BPRI Muallim Haji Darip dilebur menjadi TKR dan masuk kedalam Resimen 7 Divisi 1 Siliwangi dibawah komando Mayor Sadikin. Pada tahun 1948, Muallim Haji Darip tertangkap Belanda di Purwakarta. Lagi-lagi karna di Khianati oleh kawan seperjuangannya sendiri. Namun kali ini, orang yang telah mengkhianati Muallim Haji Darip harus mati ditangan orang-orang yang setia kepada Muallim Haji Darip. Saat dipenjara Muallim Haji Darip mengirim surat kepada Soekarno agar membebaskannya, konon surat itu diterima oleh Fatmawati istri Soekarno di istana negara. namun Soekarno tidak bisa memenuhi permintaan Muallim Haji Darip karna Soekarno yakin bahwa Muallim Haji Darip akan bebas dalam waktu dekat dan tidak akan mati dipenjara. Akhirnya setelah penyerahan kedaulatan pada akhir bulan desember tahun 1949, Muallim Haji Darip bebas dari penjara dan disambut rasa suka cita oleh rakyat Klender.
Kira-kira bulan mei dan Juni 1950, Muallim Haji Darip dipanggil Soekarno ke Istana Cipanas. Beliau dijemput oleh Letnan Ishaq Latief. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Hamengkubuwono. Soekarno menyambut dan memeluk Muallim Haji Darip sambil menangis. Soekarno lalu menjelaskan tentang surat Muallim Haji Darip yang dikirimkan untuknya. Usai perang kemerdekaan dan masa revolusi, timbul masalah baru menyangkut keamanan di ibukota dan sekitarnya, yang disebabkan masalah sosial (social malaise), kemiskinan, ketiadaan lapangan kerja, dan aparat keamanan serta pemerintahan yang belum berfungsi sepenuhnya. Zaman itu dikenal sebagai zaman Nogut (No Good) kriminalitas dan dunia bawah (onderwereld) merajalela, mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat terutama dibidang ekonomi dan perniagaan. Situasi ini pula membuat Muallim Haji Darip didatangi warga masyarakat Klender dan sekitarnya terutama warga dari etnis tionghoa untuk mencari solusinya karna dianggap bisa diandalkan. Maka Muallim Haji Darip memerintahkan warga masyarakat agar memasang foto-foto dirinya dirumah-rumah mereka. Dan ternyata perintah Muallim Haji Darip untuk memasang foto dirinya didalam memberikan solusi bagi masyarakat yang merasa resah membuahkan solusi yang ampuh. Maka tersebar luaslah foto-foto Muallim Haji Darip di Klender, Jatinegara, Pulogadung dan sekitarnya. Dimana Bandit-bandit, pencoleng, maling, perampok, akan berpikir seribu kali jika ingin beraksi pada rumah yang terpampang foto Muallim Haji Darip. Kemudian pada saat pemerintah pusat sedang menghadapi persoalan pemberontakan Kartosoewiryo (DI/TII), Soekarno mengirim surat kepada Muallim Haji Darip. Didalam isi surat itu Soekarno meminta tolong kepada Muallim Haji Darip untuk membantunya menyelesaikan persoalan pemberontakan gerombolan Kartosoewiryo (DI/TII) yang berada dihutan-hutan dan gunung-gunung di Jawa barat. Dan permintaan Soekarno dipenuhi oleh Muallim Haji Darip dan dilaksanakan. Setelah Muallim Haji Darip sampai di markas Kartosoewiryo tiba-tiba, "Jangan Bergerak....Angkat Tangan...!!!!, Siapa Kamu ? " saya Haji Darip...Ohh...Pak Haji...lalu sang penjaga melapor kepada Kartosoewiryo, bahwa Muallim Haji Darip ingin bertemu dengannya. Kemudian Kartosoewiryo memerintahkan anak buahnya untuk mengantar Muallim Haji Darip....terjadilah dialog antara Muallim Haji Darip dan Kartosoewiryo...didalam dialog itu Muallim Haji Darip meminta kepada Kartosoewiryo agar turut bergabung dengan pemerintahan Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Soekarno-Hatta". Namun usaha Muallim Haji Darip tidak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Hingga Pemerintah menggunakan cara yang lebih tegas lagi kepada Kartosoewiryo dan akhirnya ia pun ditangkap dan dihukum mati. Didalam menghabisi masa tuanya Muallim Haji Darip lebih banyak berdakwah, mengajar mengaji, sambil berdagang kelontong dan kain sarung di Pasar Klender yang berdekatan dengan rumahnya. Dan Muallim Haji Darip lebih memilih jalan tawadlu dan tidak ingin terlalu muncul di pemerintahan. Bahkan, dia rela tunjangan dan pensiunnya dicabut dan rumahnya tergusur. Yang perpenting baginya berjuang lillahi ta'ala. "Beliau tidak memiliki tanda jasa karna tak mau mengurusnya. Perjuangannya semata-mata karena Alloh Swt," kata Soetopo Sekretaris umum DHD 45 DKI Jakarta. Namun Muallim Haji Darip tetap memperhatikan nasib anak buahnya yang membutuhkan pensiunan veteran pejuang. Karena ketika anak buahnya akan mengurus pensiunan veteran pejuang harus mendapatkan tanda tangan Muallim Haji Darip selaku atasannya. Sikapnya yang tak mau menonjol, tercermin pula ketika berulang kali menolak untuk diwawancarai wartawan. Tapi pada tahun 1976, berkat bantuan Pak Aseni kawan seperjuangan Muallim Haji Darip, Titiek WS Redaktur Pelaksana Majalah DEWI yang kemudian beralih ke Majalah SERASI, satu-satunya wartawati yang berhasil mewawancarainya. "Kala itu saya bertandang ke rumahnya di belakang Pasar Klender. Sungguh sederhana, sikap hidupnya. Rumahnya pun tak mencerminkan bahwa beliau memiliki kisah perjuangan yang sangat berarti bagi nusa dan bangsanya," kesan Titiek WS. "Puluhan wartawan datang kemari untuk mewawancarai saya, tetapi saya tolak. Perjuangan yang saya baktikan bukan untuk dibicarakan. Saya berjuang semata-mata demi kemerdekaan bangsa dan negara," kata Muallim Haji Darip, seperti yang dikutip Titiek WS. Pada hari sabtu pukul 00.00 dinihari tanggal 13 Juni 1981, Muallim Haji Darip menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta selama beberapa hari. Mendengar berita meninggalnya Muallim Haji Darip yang disiarkan radio RRI, maka pemerintah bersama DHD Angkatan 45 Jakarta melayat dan meminta agar jenazahnya disemayamkan di TMP Kalibata bersama para pejuang lainnya. Namun keluarga Muallim Haji Darip menolak atas wasiat Muallim Haji Darip sebelum meninggalnya agar jasadnya di semayamkan bersama-sama dengan kerabat dan sanak family Muallim Haji Darip di TPU Arrahman Kp.Tanah Koja Jatinegara Kaum Pulogadung. Kemudian pemerintah tetap menghargai wasiat Muallim Haji Darip yang disampaikan keluarganya dan pemerintah pun memberikan penghormatan yang terakhir kalinya untuk Muallim Haji Darip dengan membantu proses pemakaman Muallim Haji Darip yang dilakukan secara militer sebagaimana umumnya para pejuang yang dimakamkan di TMP Kalibata. Demikianlah pemerintah mengenal dan mencatatnya sebagai tokoh pejuang yang dikenal baik oleh kawan seperjuangan Angkatan 45 diseluruh Indonesia, bahkan oleh lawan, terutama tentara Inggris dan Belanda/NICA yang pernah berhadapan dalam medan pertempuran. Muallim Haji Darip tidak memiliki catatan kejahatan sepanjang perjalanan menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan wafatnya Muallim Haji Darip, rakyat dan Bangsa Indonesia kehilangan seorang pejuang yang betul-betul penuh ketauladanan. Pangkat, jabatan, simpati, puja puji manusia, dan penghargaan apapun tak pernah melintasi benak hati dan pikirannya. Bahkan Muallim Haji Darip berpesan kepada keluarganya agar tidak perlu menuntut apa-apa kepada pemerintah atas segenap perjuangan, pengorbanan, dan pengabdiannya untuk Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bersambung...
Hiduplah Muallim Haji Darip sebagai pribadi yang jujur, polos, sederhana, santun, rendah hati, beradab, murah tangan, penolong, dan sangat menyayangi ayah ibunya serta kerabat dan sanak saudaranya, diiringi pula dengan sifat baktinya yang tinggi kepada ibu dan ayahnya hingga kedua orang tuanya wafat. Selain mengemban tugas dakwah, Muallim Haji Darip juga terpaksa harus mengemban tugas lain dengan membantu memberikan rasa aman kepada penduduk Klender dari para bajingan, maling, pencoleng, dan perampok yang kian mengganggu dan menimbulkan keresahan serta membuat Muallim Haji Darip risau. Ayahnya yang memang dikenal juga sebagai Jawara (Jago Pukul/Silat), rupanya menitis kepadanya. Muallim Haji Darip sendiri kala itu belum dikenal sebagai jago silat seperti sang ayah. Tetapi, penduduk banyak yang minta bantuannya karna dipercaya bisa membantu mengatasi persoalan bandit, perampok, dan pencoleng. Hingga akhirnya masyarakat Klender meminta kesediaan Muallim Haji Darip untuk menjadi pelindung pedagang beras di stasiun Klender. Permintaan itu kemudian dipenuhi oleh Muallim Haji Darip. Walau dengan terpaksa harus menempuh jalan perkelahian sebagai upaya mengurangi aksi tindak kriminal, semata-mata demi ketenteraman warga masyarakat Klender, sekalipun harus berurusan dengan kepolisian dibawah pemerintahan Hindia Belanda saat itu sampai rela dimasukkan ke penjara, dipukuli, berulang-ulang kali.
Setelah di rasa diperlakukan secara tidak adil oleh pihak kepolisian dan membuat Muallim Haji Darip sangat kesal. "Saya ini bukan pencoleng, tetapi dipenjara kumpul sama mereka, mendapat pukulan seperti juga bajingan-bajingan itu" kisahnya, maka Muallim Haji Darip memutuskan untuk meninggalkan Klender (Jakarta) dan terpaksa menunda perjalanan Dakwahnya. Ditujunyalah tanah Sumatera tepatnya Palembang, Pangkal Pinang, Jambi, dll, dengan menumpang kapal laut tanpa ongkos/tiket bercampur dengan binatang ternak kiriman di kapal tersebut. Kemudian Muallim Haji Darip bekerja sebagai kuli kontrak. Selain itu, selama di Sumatera Muallim Haji Darip mengajar mengaji, menjadi merbot musholla, hingga sampai diangkat menantu oleh kepala suku (orang terpandang) di Pangkal Pinang karna telah berhasil memenangkan proses adu ilmu bela diri/pencak silat (sayembara) yang berlaku kala itu, sebagai budaya melayu berbalas pantun dll. Kira-kira satu setengah tahun kemudian Muallim Haji Darip dipindah kerja ke Martapura, kemudian dipindah dan dipindah lagi, dan berakhir di Tanjung Raja. Sesuatu yang tak disangka datang kepadanya, Muallim Haji Darip bertemu sahabat lama dari Betawi bernama 'Mat Piki' dan menawarkan rumahnya untuk Muallim Haji Darip tinggal selama disana. Namun sahabat yang dikenalnya baik itu ternyata menyimpan rencana tidak baik yang tidak sempat diperhitungkan Muallim Haji Darip. Mat Piki mengajaknya untuk merampok dan tentu saja Muallim Haji Darip menolak dan menasehatinya hingga akhirnya Mat Piki mengurungkan niat dan rencananya itu. Selama di Tanjung Raja, lagi-lagi Muallim Haji Darip mendapat perlakuan semena-mena diantara kuli kontrak yang sok jagoan. Jalan perkelahian pun kembali tak terhindarkan sampai akhirnya Muallim Haji Darip dipanggil atasannya lalu dipindah ditempat lain dan akhirnya Muallim Haji Darip kembali pulang ke Jakarta (Klender).
Sesampainya di Jakarta Muallim Haji Darip terpanggil untuk melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. berangkat dari keridloan ibu, ayah, dan guru-guru, serta orang-orang yang dicintainya, Muallim Haji Darip pergi berjuang bersama-sama Soekarno melawan Belanda di Tanjung Priuk dan Cilincing Jakarta utara, bergerak dibawah tanah. Sejak itulah terjalin hubungan kedekatan dan komunikasi Muallim Haji Darip dengan Soekarno serta tokoh pejuang lainnya dengan sangat baik dan mulai dikenali potensi dan dedikasinya yang tinggi terhadap perjuangan. Muallim Haji Darip pantang menyerah dan tanpa tedeng aling-aling terhadap penjajah. Pada tahun 1942, Jepang berhasil menduduki Indonesia setelah mengalahkan Belanda dalam perebutan kekuasaan. Namun Walau dalam keadaan yang masih terjajah oleh Jepang, bahkan Klender dijadikan sebagai salah satu wilayah Romusha oleh Jepang. Muallim Haji Darip menyempatkan diri untuk melanjutkan dakwahnya dan menambah ilmunya dengan berguru kepada ulama yang berada disekitar Jakarta. Diantara Guru-guru Muallim Haji Darip yang menonjol ialah Al Habib Abdul Qodir bin Muhammad Al Haddad/Wan Kadir (Kp Melayu), Al Habib Abdulloh bin Salim Al Athos (Kebon Nanas), bahkan Al Habib Alwi bin Ahmad Jamalullail (Mangga Besar) sampai mengajar di rumahnya dan berkawan baik dengan para Ulama Tanah Betawi. Tatkala Muallim Haji Darip tak kuasa menyaksikan kebiadaban penjajah Dai Nippon Jepang yang semakin merajalela, korban-korban pembunuhan, penyiksaan, dan pemerkosaan, yang terus berjatuhan, terlebih lagi dengan peristiwa penyuntikan vaksin tetanus yang dilakukan pihak Jepang kepada rakyat di Klender yang sampai memakan korban kurang lebih 1000 orang, ditambah lagi dengan Pidato-pidato Bung Karno yang semakin berkobar-kobar di radio yang didengar Muallim Haji Darip. Maka Muallim Haji Darip kembali menunda dakwah dan belajarnya. Lalu Beliau pun kembali mengejar keridloan orang-orang yang dicintainya, dan memutuskan serta mengambil langkah untuk turut berjuang mengorbankan sepenuh jiwa, raga, harta, dan nyawanya, demi kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia sebagaimana yang di lakukan oleh para pejuang di seluruh Indonesia. Tokoh-tokoh pejuang yang telah melihat potensi Muallim Haji Darip ketika peristiwa perang di Tanjung Priuk melawan Belanda pun datang menemui Muallim Haji Darip mengajaknya untuk sama-sama berjuang mengusir Jepang. Diantaranya Sukarni, Kamaluddin, Pandu Kartawiguna, yang dianggap sebagai tokoh penting dalam pergerakan mewakili golongan muda dari pejuang diseluruh Indonesia serta lainnya. Kemudian Muallim Haji Darip mengumpulkan pengikutnya yang terdiri dari murid dan jamaahnya, pemuda pemudi, yang masih berusia belasan hingga puluhan tahun, dan mengajak para Tokoh-tokoh agama di Klender serta menghimpun narapidana rutan Cipinang dan bajingan-bajingan (buaye-buaye) yang berada dihutan-hutan yang telah tunduk oleh Muallim Haji Darip. Maka terbentuklah BARA (Barisan Rakyat) Indonesia Jakarta raya yang dibentuk dan dipimpin oleh Muallim Haji Darip sendiri. Sebelum berperang, sebagai orang yang mengerti agama, terlebih dahulu ia berdoa dan berikhtiar, berupaya untuk dapat mengimbangi kekuatan musuh (Jepang dan Belanda yang memiliki persenjataan lengkap dan modern), sedangkan Muallim Haji Darip dan Laskarnya yang hanya bermodal keberanian, golok, dan bambu runcing, serta tangan kosong. maka Muallim Haji Darip melakukan ritual membacakan doa dan meminta perlindungan dan keselamatan kepada Alloh SWT untuknya dan anggota BARA melalui wasilah air (air sumur) yang biasa digunakan untuk mensucikan diri, seperti mandi hadats dan wudhu. Kemudian setelah air tersebut telah selesai di doakan, Muallim Haji Darip memandikan seluruh anggota BARA yang telah siap berperang. Selanjutnya sebagai wujud dan untuk meyakinkan dirinya dan Anggota BARA bahwa doanya itu terkabul dan bahwa air yang dibacakan doa itu telah meresap kedalam tubuh, maka Muallim Haji Darip menguji cobanya dengan membacokkan golok disekujur badan anggota laskar BARA. Alhasil, Ikhtiar dan doanya itupun berhasil. Anggota laskar BARA telah mengaugerahi kekebalan dari senjata tajam dan api dari Alloh Swt. Selain itu Muallim Haji Darip juga memberikan modal spiritual lainnya melalui penanaman prinsip perjuangan sebagaimana ajaran agama islam kepada anggota BARA yang diambilnya dari salah satu hadits Nabi Muhammad Saw yang berbunyi "Cinta Tanah Air itu Sebagian Dari Iman," agar kiranya mereka yang terlibat dan dilibatkan Muallim Haji Darip dalam berjuang mengusir penjajah bisa dimengerti anggotanya, bahwasanya perbuatan membela negara dengan mengorbankan nyawa, itu adalah satu diantara jalan menyempurnakan iman umat islam dan memiliki nilai dan kedudukan pangkat yang tinggi serta pahala yang besar disisi Alloh Swt. Muallim Haji Darip juga melarang mereka didalam peperangan melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama yang dapat menodai dan mencederai kemurnian perjuangannya, serta tidak bertindak melainkan atas perintah darinya. Maka setelah Muallim Haji Darip merasa telah cukup membekali secara mental dan spiritual bagi laskar BARA, mereka mulai melakukan penyerangan terhadap bala tentara Jepang dan bertempur diseluruh front dikota Jakarta. Terutama di daerah Sunter, Jatinegara, Cipinang Cempedak, Pangkalan Jati, Pondok Gede, dll. Menerima serangan dari BARA, pihak Jepang menjadi geram dan membuatnya merasa terancam. Pihak Jepang kemudian melakukan siasat untuk menundukkan Muallim Haji Darip dengan bujuk rayu harta dan jabatan kepada Muallim Haji Darip. Namun usaha Jepang tidak berhasil, karna Muallim Haji Darip tidak bisa di tundukkan dengan pemberian harta dan jabatan agar menghentikan perjuangannya. Maka Jepang mengambil langkah penangkapan terhadap Muallim Haji Darip sebagai sang ketua BARA. Setelah diketahui bahwa dirinya akan ditangkap, Muallim Haji Darip melarikan diri dan bersembunyi mulai dari daerah Klender, Pulogadung, Bekasi, Karawang, Cikampek, hingga Purwakarta sekitar tahun 1943. Namun akhirnya Jepang berhasil menangkap Muallim Haji Darip, setelah di khianati oleh kawannya sendiri yang memberitahukan tempat persembunyiannya. Dua tahun Muallim Haji Darip mendekam dipenjara dan terpidana mati. Sebelum di eksekusi mati, Muallim Haji Darip menerima penyiksaan secara tak manusiawi dari tentara Jepang. Selama dipenjara Muallim Haji Darip tetap menjadi pribadi yang sabar dan tetap taat beribadah. Menjelang eksekusi mati, tentara Jepang menawarkan satu permintaan terakhir kepada Muallim Haji Darip. Lantas tawaran tentara Jepang langsung disambut dengan perkataan Muallim Haji Darip dengan menyatakan bahwa dirinya bukan Darip yang kalian cari, tapi saya Muhammad Arif. Ternyata Perkataan Muallim Haji Darip membuat bimbang tentara Jepang dan mereka segera mengecek dokumen tentang Muallim Haji Darip. Alhasil tentara yang menyimpan dokumen Muallim Haji Darip sedang pulang ke Jepang, Muallim Haji Darip pun selamat dari eksekusi mati dan dimasukan lagi kedalam tahanan. Ketika tragedi bom atom yang menimpa Hiroshima jatuh pada awal agustus 1945, sebagian tentara Jepang memilih kembali ke negrinya. melihat tentara Jepang yang tersisa di penjara tinggal sedikit, anak buah Muallim Haji Darip kemudian menyusun strategi untuk membebaskan sang pimpinan. perjuangan pun tak sia-sia, akhirnya Muallim Haji Darip berhasil dibebaskan. Setelah bebas dari penjara, Soekarno datang menemui Muallim Haji Darip untuk berkomunikasi mengatur strategi peperangan. Setelah itu Muallim Haji Darip bersama BARA melakukan pembersihan tentara Jepang yang bertugas didaerah pinggiran-pinggiran kota. Sukarni pun datang menemui Muallim Haji Darip dan memberitahukan bahwa Indonesia sebentar lagi akan merdeka. Mendengar berita dari Sukarni, Muallim Haji Darip mengerahkan segenap kekuatan yang ada untuk mempersiapkan Kemerdekaan dengan segala keperluan yang dibutuhkan dan memerintahkan BARA untuk menjaga ketat Klender yang telah menjadi gudang persenjataan dan logistik bagi keperluan para pejuang di Jakarta dari hasil rampasan tentara Jepang. Seiring dengan keberaniannya dalam aksi-aksi heroik yang dilakukan Muallim Haji Darip bersama BARA, membuat reputasinya menjulang tinggi dan terkenal keseluruh pelosok Jakarta. Julukan Panglima Perang pun disandangnya, Generalismo Klender 1945. Tokoh-tokoh seperti Jo Abdurrachman, Kartini Radjasa, Zus Ratulangie, Lasmidjah Hardi, Erna Djajadiningrat, datang kepada Muallim Haji Darip untuk menyampaikan dan membicarakan siasat perjuangan sekitar masalah pertahanan, dan bagaimana koordinasi meningkatkan efisiensi mencari bahan persediaan makanan dan pakaian untuk disuplay kepada pejuang yang bertugas di Jakarta. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat, Sukarni, Chaerul Saleh, dll melakukan penculikan terhadap Soekarno-Hatta, untuk dibawa ke Rengas Dengklok, Soekarno meminta agar mereka mengajak Muallim Haji Darip. Maka perjalanan terhenti di Klender untuk menjemput Muallim Haji Darip. Saat tiba di Rengas Dengklok, Soekarno-Hatta ditempatkan dirumah yang tidak layak dipinggir kali. Lalu Muallim Haji Darip mengusulkan kepada Sukarni dan kawan-kawannya agar menempatkan Soekarno-Hatta dirumah yang layak. Maka ditujunyalah rumah warga etnis tionghoa yang bernama Djie Kiaw Siong. Hal itu dilakukan Muallim Haji Darip sebagai bentuk penghormatan Muallim Haji Darip kepada Soekarno-Hatta yang dianggap sebagai calon pemimpin bangsa yang harus dihormati. Setelah proklamasi kemerdekaan berhasil diselenggarakan dikediaman Bung Karno pada 17 Agustus 1945, Soekarno berkunjung ke Klender dan memimpin rapat akbar dalam rangka persiapan menghadapi Belanda yang telah diketahui Soekarno akan kembali menjajah. Soekarno mengobarkan semangat perjuangan rakyat Klender untuk tetap turut mempertahankan kemerdekaan. Kemudian Muallim Haji Darip dan BARA yang mengemban tugas untuk melakukan mobilisasi ke seluruh Jakarta dan sekitarnya, mulai membentuk jaringan-jaringan antar pejuang di Jakarta dan Badan-badan perjuangan pun dibentuk dalam rangka bersiap. Pada tanggal 05 Oktober 1945, di Tanjung Priuk telah merapat 7 buah kapal Belanda berisi penuh dengan serdadu-serdadu dan Korps Marinir bersenjata lengkap dan modern. Mereka diangkut dengan mobil-mobil palang merah Belanda ke tangsi-tangsi jagamonyet, Gunung Sahari, dan lain-lain dibawah perlindungan tentara Inggris.
Pada tanggal 12 Oktober 1945 tangsi jagamonyet mendapat serangan dari para pemuda Petojo yang bekerjasama dengan para pemuda Senen dari pasukan OPI (Oesaha Pemuda Indonesia), API batak (Angkatan Pemuda Indonesia), dan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi). Pertempuran berkobar sampai ke Harmoni dan Pintu Air.
Pihak NICA membalas dengan aksi-aksi pembersihan, menggempur markas-markas pemuda kita. Akibatnya setiap hari berkobar pertempuran seru, terutama di daerah-daerah Tanah Tinggi, Senen, Kramat, Gang Sentiong, Jatinegara, Rawa Bangke (sekarang Rawa Bunga), Cilincing, Klender, Kalibaru, Menteng, Jagamonyet, Kebayoran, Kalibata, Cililitan, dan Pondok Gede.
Pada tanggal 15 oktober 1945 ketika tentara Inggris hendak menduduki Klender, Muallim Haji Darip bersama BARA melakukan penyerangan dengan gagah berani dan mendapat bantuan dari satu kompi TKR yang bersenjatakan karaben. Maka berkobarlah pertempuran hebat, di mana kelewang dan sangkur ikut digunakan dalam pertempuran jarak dekat seorang lawan seorang. Banyak korban yang jatuh akibat pertempuran tersebut. Untuk menghormati jasa-jasa mereka yang gugur dalam peristiwa tersebut, pemerintah dan rakyat jakarta mengibarkan bendera setengah tiang. Tentara Inggris rupanya tidak menduga akan mendapat serangan semacam itu. Banyak di antara mereka yang gugur menghadapi serangan massal dari segala jurusan sehingga mereka tidak dapat bertempur sebagaimana mestinya. Akibatnya di pihak Inggris pun tidak sedikit jatuh korban. Mereka kemudian melakukan serangan balasan yang menimbulkan tidak sedikit korban di kalangan rakyat, dan akhirnya mereka berhasil juga menduduki Klender. Akan tetapi di malam hari tentaranya selalu di tarik kembali ke dalam kota. Mungkin mereka masih kuatir akan menghadapi lagi serangan massal seperti tempo hari, karena rakyat tidak lagi menghiraukan bahaya.
Pada tanggal 16 Oktober 1945 pangkalan Belanda di pondok gede mendapat giliran serangan rakyat. Dan bersamaan dengan itu kedudukan musuh di Pasar Minggu dan Klender juga di serang. Serangan terhadap Pondok Gede di pelopori dengan tiga kompi pasukan penggempur yang bersenjata lengkap, terdapat pula senapan-senapan otomatis. Pasukan Belanda yang akan di serang. Kekuatannya terdiri dari dua kompi bersenjata lengkap. Mereka telah membangun perbentengan di sekeliling tangsinya.
BARA yang di persenjatai dengan bom-bom batok (sebutan untuk ranjau darat) dan granat tangan di tempatkan antara Cawang dan Pondok Gede dengan tujuan untuk menghadang musuh atau bala bantuan musuh yang mungkin di datangkan dari Jatinegara.
Pertempuran segera berkobar. Dan setelah berlangsung kurang lebih 3 Jam, BARA berhasil memperoleh kemajuan. Mereka berhasil merampas beberapa pucuk senapan dan membakar tiga buah truk musuh. Tetapi mereka tidak berhasil memasuki perbentengan.
Untuk meningkatkan perlawanan rakyat, maka pada bulan November 1945, wakil presiden Muhammad Hatta, mengadakan pertemuan dengan para pemuka perjuangan seluruh Jakarta dalam rangka mengkoordinasi mereka. Pertemuan itu di langsung kan di rumah kediaman beliau (Bung Hatta) sendiri. Hadir dalam pertemuan itu para utusan badan-badan perjuangan Jakarta dan sekitarnya. Jakarta diwakili oleh Kusno Utomo, Pohan, dan Hasibuan. Klender diwakili oleh Muallim Haji Darip dan Pak Asa. Jatinegara diwakili oleh Tohir Mangkudijaya dan Simbangan; Tanjung Priuk diwakili oleh Abdul Malik dan Abdul Rakhman. Bekasi diwakili oleh Muhayyar. Tambun diwakili oleh Tabrani. Cibarusa dan Cileungsi diwakili oleh Manaf Roni, Pak Macan, dan Wahidin. Menteng 31 diwakili oleh Amir Syarifuddin dan Hendromartono.
Petang harinya pertemuan itu dilanjutkan di kediaman Bung Karno dan dipimpin sendiri oleh Bung Karno. Semua anggota kabinet ikut hadir. Juga Kepala Kepolisian Negara ikut hadir.
Dalam pertemuan itu Bung Karno meminta agar gerakan menghadapi NICA diperhebat. Tetapi disamping itu usaha untuk mencegah terjadinya penggedoran-penggedoran, juga harus di perhebat. Peristiwa penggedoran di daerah Jatinegara dan Bekasi, menurut Bung Karno sangat memalukan dan karenanya harus diusahakan agar jangan sampai terulang kembali. Untuk memudahkan koordinasi, maka rapat memutuskan menetapkan pemuda Wahidin untuk duduk mewakili badan-badan perjuangan di pemerintah pusat. Ketika situasi Jakarta semakin memanas, maka untuk menjaga jangan sampai kehabisan peluru dan menghindarkan jatuhnya korban lebih banyak lagi, API, Menteng31, terpaksa mengundurkan diri ke Klender dan menghimpun kekuatan. atas perintah pemerintah BARA bersama laskar pejuang lainnya terpaksa mengundurkan diri ke pedalaman Tambun, Cikarang, Bekasi, Karawang, hingga Purwakarta. Pada tahun 1946, Muallim Haji Darip dengan rela membubarkan pasukannya untuk di gabungkan dengan TKR. Begitu pula saat Muallim Haji Darip membentuk BPRI (Barisan Perang Rakyat Indonesia) di Cikarang Bekasi yang tersebar hingga ke Karawang, Cikampek, Purwakarta, Bandung dan Cirebon Jawa barat. dengan pangkat Letkol. Penasehat Batalyon AMPI/Res.7/Divisi 1 Siliwangi. Dan ketika resimen Sadikin melakukan penertiban terhadap laskar rakyat jakarta raya (LRJR) di Karawang, BPRI Muallim Haji Darip dilebur menjadi TKR dan masuk kedalam Resimen 7 Divisi 1 Siliwangi dibawah komando Mayor Sadikin. Pada tahun 1948, Muallim Haji Darip tertangkap Belanda di Purwakarta. Lagi-lagi karna di Khianati oleh kawan seperjuangannya sendiri. Namun kali ini, orang yang telah mengkhianati Muallim Haji Darip harus mati ditangan orang-orang yang setia kepada Muallim Haji Darip. Saat dipenjara Muallim Haji Darip mengirim surat kepada Soekarno agar membebaskannya, konon surat itu diterima oleh Fatmawati istri Soekarno di istana negara. namun Soekarno tidak bisa memenuhi permintaan Muallim Haji Darip karna Soekarno yakin bahwa Muallim Haji Darip akan bebas dalam waktu dekat dan tidak akan mati dipenjara. Akhirnya setelah penyerahan kedaulatan pada akhir bulan desember tahun 1949, Muallim Haji Darip bebas dari penjara dan disambut rasa suka cita oleh rakyat Klender.
Kira-kira bulan mei dan Juni 1950, Muallim Haji Darip dipanggil Soekarno ke Istana Cipanas. Beliau dijemput oleh Letnan Ishaq Latief. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Hamengkubuwono. Soekarno menyambut dan memeluk Muallim Haji Darip sambil menangis. Soekarno lalu menjelaskan tentang surat Muallim Haji Darip yang dikirimkan untuknya. Usai perang kemerdekaan dan masa revolusi, timbul masalah baru menyangkut keamanan di ibukota dan sekitarnya, yang disebabkan masalah sosial (social malaise), kemiskinan, ketiadaan lapangan kerja, dan aparat keamanan serta pemerintahan yang belum berfungsi sepenuhnya. Zaman itu dikenal sebagai zaman Nogut (No Good) kriminalitas dan dunia bawah (onderwereld) merajalela, mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat terutama dibidang ekonomi dan perniagaan. Situasi ini pula membuat Muallim Haji Darip didatangi warga masyarakat Klender dan sekitarnya terutama warga dari etnis tionghoa untuk mencari solusinya karna dianggap bisa diandalkan. Maka Muallim Haji Darip memerintahkan warga masyarakat agar memasang foto-foto dirinya dirumah-rumah mereka. Dan ternyata perintah Muallim Haji Darip untuk memasang foto dirinya didalam memberikan solusi bagi masyarakat yang merasa resah membuahkan solusi yang ampuh. Maka tersebar luaslah foto-foto Muallim Haji Darip di Klender, Jatinegara, Pulogadung dan sekitarnya. Dimana Bandit-bandit, pencoleng, maling, perampok, akan berpikir seribu kali jika ingin beraksi pada rumah yang terpampang foto Muallim Haji Darip. Kemudian pada saat pemerintah pusat sedang menghadapi persoalan pemberontakan Kartosoewiryo (DI/TII), Soekarno mengirim surat kepada Muallim Haji Darip. Didalam isi surat itu Soekarno meminta tolong kepada Muallim Haji Darip untuk membantunya menyelesaikan persoalan pemberontakan gerombolan Kartosoewiryo (DI/TII) yang berada dihutan-hutan dan gunung-gunung di Jawa barat. Dan permintaan Soekarno dipenuhi oleh Muallim Haji Darip dan dilaksanakan. Setelah Muallim Haji Darip sampai di markas Kartosoewiryo tiba-tiba, "Jangan Bergerak....Angkat Tangan...!!!!, Siapa Kamu ? " saya Haji Darip...Ohh...Pak Haji...lalu sang penjaga melapor kepada Kartosoewiryo, bahwa Muallim Haji Darip ingin bertemu dengannya. Kemudian Kartosoewiryo memerintahkan anak buahnya untuk mengantar Muallim Haji Darip....terjadilah dialog antara Muallim Haji Darip dan Kartosoewiryo...didalam dialog itu Muallim Haji Darip meminta kepada Kartosoewiryo agar turut bergabung dengan pemerintahan Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Soekarno-Hatta". Namun usaha Muallim Haji Darip tidak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Hingga Pemerintah menggunakan cara yang lebih tegas lagi kepada Kartosoewiryo dan akhirnya ia pun ditangkap dan dihukum mati. Didalam menghabisi masa tuanya Muallim Haji Darip lebih banyak berdakwah, mengajar mengaji, sambil berdagang kelontong dan kain sarung di Pasar Klender yang berdekatan dengan rumahnya. Dan Muallim Haji Darip lebih memilih jalan tawadlu dan tidak ingin terlalu muncul di pemerintahan. Bahkan, dia rela tunjangan dan pensiunnya dicabut dan rumahnya tergusur. Yang perpenting baginya berjuang lillahi ta'ala. "Beliau tidak memiliki tanda jasa karna tak mau mengurusnya. Perjuangannya semata-mata karena Alloh Swt," kata Soetopo Sekretaris umum DHD 45 DKI Jakarta. Namun Muallim Haji Darip tetap memperhatikan nasib anak buahnya yang membutuhkan pensiunan veteran pejuang. Karena ketika anak buahnya akan mengurus pensiunan veteran pejuang harus mendapatkan tanda tangan Muallim Haji Darip selaku atasannya. Sikapnya yang tak mau menonjol, tercermin pula ketika berulang kali menolak untuk diwawancarai wartawan. Tapi pada tahun 1976, berkat bantuan Pak Aseni kawan seperjuangan Muallim Haji Darip, Titiek WS Redaktur Pelaksana Majalah DEWI yang kemudian beralih ke Majalah SERASI, satu-satunya wartawati yang berhasil mewawancarainya. "Kala itu saya bertandang ke rumahnya di belakang Pasar Klender. Sungguh sederhana, sikap hidupnya. Rumahnya pun tak mencerminkan bahwa beliau memiliki kisah perjuangan yang sangat berarti bagi nusa dan bangsanya," kesan Titiek WS. "Puluhan wartawan datang kemari untuk mewawancarai saya, tetapi saya tolak. Perjuangan yang saya baktikan bukan untuk dibicarakan. Saya berjuang semata-mata demi kemerdekaan bangsa dan negara," kata Muallim Haji Darip, seperti yang dikutip Titiek WS. Pada hari sabtu pukul 00.00 dinihari tanggal 13 Juni 1981, Muallim Haji Darip menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta selama beberapa hari. Mendengar berita meninggalnya Muallim Haji Darip yang disiarkan radio RRI, maka pemerintah bersama DHD Angkatan 45 Jakarta melayat dan meminta agar jenazahnya disemayamkan di TMP Kalibata bersama para pejuang lainnya. Namun keluarga Muallim Haji Darip menolak atas wasiat Muallim Haji Darip sebelum meninggalnya agar jasadnya di semayamkan bersama-sama dengan kerabat dan sanak family Muallim Haji Darip di TPU Arrahman Kp.Tanah Koja Jatinegara Kaum Pulogadung. Kemudian pemerintah tetap menghargai wasiat Muallim Haji Darip yang disampaikan keluarganya dan pemerintah pun memberikan penghormatan yang terakhir kalinya untuk Muallim Haji Darip dengan membantu proses pemakaman Muallim Haji Darip yang dilakukan secara militer sebagaimana umumnya para pejuang yang dimakamkan di TMP Kalibata. Demikianlah pemerintah mengenal dan mencatatnya sebagai tokoh pejuang yang dikenal baik oleh kawan seperjuangan Angkatan 45 diseluruh Indonesia, bahkan oleh lawan, terutama tentara Inggris dan Belanda/NICA yang pernah berhadapan dalam medan pertempuran. Muallim Haji Darip tidak memiliki catatan kejahatan sepanjang perjalanan menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan wafatnya Muallim Haji Darip, rakyat dan Bangsa Indonesia kehilangan seorang pejuang yang betul-betul penuh ketauladanan. Pangkat, jabatan, simpati, puja puji manusia, dan penghargaan apapun tak pernah melintasi benak hati dan pikirannya. Bahkan Muallim Haji Darip berpesan kepada keluarganya agar tidak perlu menuntut apa-apa kepada pemerintah atas segenap perjuangan, pengorbanan, dan pengabdiannya untuk Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bersambung...
Sabtu, 28 Oktober 2017
MUALLIM HAJI DARIP TIDAK MEMILIKI CATATAN KEJAHATAN
- Istilah jago pada awalnya melekat pada masalah perkelahian, sehingga jago diartikan sebagai juara berkelahi. Istilah tersebut kemudian berkembang, sehingga kata jago juga bisa dikaitkan dengan keunggulan. Penduduk asli DKI Jakarta yakni orang Betawi memiliki jago-jago dengan dua pengertian tersebut. Mereka adalah aset Betawi dalam memperkaya khasanah kebudayaan dan sejarah nasional. Pada abad 19, yang disebut jago Betawi, menurut Ridwan Saidi dalam bukunya Orang Betawi dan Modernisasi Jakarta, adalah semacam jawara kampung yang menjadi palang dade, benteng penghalang orang yang datang dari luar dan mencoba mengganggu keamanan kampung, atau yang mau "menjajal" kekuatan jago bersangkutan. Jago Betawi adalah jago silat. Misalnya saja Ja`man dari Sawah Besar, Derahman Jeni dari Tanah Abang, dan Sa`abun dari Kemayoran. Jago Betawi tidak pernah "menjual" atau melontarkan tantangan, tetapi bersedia "membeli" jika ada yang "menjual". "Tradisi tersebut bertahan terus sampai abad ke-20. Yaitu tradisi positif, ketika para jago tidak agresif, apalagi berbuat kriminal," kata Ridwan Saidi yang juga budayawan Jakarta. Kemudian ada juga Muhammad Arif (Muallim Haji Darip) jago asal Klender yang mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat. MUALLIM HAJI DARIP TIDAK MEMILIKI CATATAN KEJAHATAN. Berkat pasukan Muallim Haji Darip, gerak maju pasukan NICA ke arah timur, atau "front" Bekasi-Karawang, dapat dihadang. Selain dikenal sebagai jago, Muallim Haji Darip juga dikenal sebagai seorang ulama dan muballigh. Sehingga dalam waktu singkat Muallim Haji Darip telah berhasil membimbing para pemuda pejuang yang terdiri dari segala lapisan untuk cinta kepada tanah air. Oleh sebab itu Muallim Haji Darip dijuluki 'Panglima Perang dari Klender' dan atau badan penggerak pembina potensi (BPPP) angkatan 45 dewan harian daerah (DHD) DKI Jakarta menganugerahinya dengan gelar 'Generalismo Klender 1945'. Reputasi Muallim Haji Darip di kalangan pejuang yang kian menjulang membuatnya terkenal dan didatangi para tokoh pejuang. Diantaranya Soekarno-Hatta, Sukarni, Chaerul Saleh, Pandu Kartawiguna, Jo Abdurachman, Zus Ratulangie, Kartini Radjasa, Lasmidjah hardi, Ishaq Latief, Ahmad Yani, A.H.Nasution, Sadikin, dll. Bahkan Sukarni, Kamaludin, Syamsudin, dan Pandu Kartawiguna sampai menginap di kediamannya dalam rangka mengatur siasat pengusiran Jepang dari Jakarta hingga peristiwa penculikan Soekarno-Hatta ke Rengas Dengklok Karawang. Muallim Haji Darip menjadi saksi hidup pada peristiwa Rengas Dengklok. Karna ia berada disana saat itu. Bahkan pada saat para tokoh menempatkan Bung Karno dirumah yang tidak layak di pinggir kali, Muallim Haji Darip megusulkan kepada Sukarni dan kawan-kawannya agar soekarno-hatta ditempatkan dirumah yang layak. Usulan Muallim Haji Darip pun didengar kawan-kawannya yang terdiri dari para tokoh pemuda sampai akhirnya soekarno-hatta ditempatkan dirumah warga etnis tionghoa bernama djie kiaw siong. Hal itu dilakukan Muallim Haji Darip sebagai bentuk penghormatan Muallim Haji Darip kepada Soekarno-Hatta yang dianggap sebagai calon pemimpin bangsa yang harus dihormati. Setelah proklamasi kemerdekaan, Belanda bersama tentara sekutu Inggris berusaha kembali menjajah Indonesia. Muallim Haji Darip bersama pasukan BARA (Barisan Rakyat) Indonesia bersiap-siap untuk mempertahankan kemerdekaan sebagaimana yang diamanatkan Bung Karno saat rapat akbar di Klender. Daerah Klender waktu itu masih sangat sepi, apalagi malam hari. Sekitar daerah sana masih merupakan hutan lebat. Waktu itu siapapun yang ingin keluar dari Jakarta, harus berhadapan dengan blokade NICA. Para pemuda yang akan melakukan serangan disiapkan disalah satu markas di Lioneelaan, Jatinegara sebelum menuju sasaran. Muallim Haji Darip bersama-sama Pasukan BARA melakukan pertempuran di seluruh front di kota Jakarta. Suatu malam terjadi pertempuran di Bidara Cina dan stasiun Jatinegara. Maka untuk menjaga jangan sampai kehabisan peluru dan menghindarkan jatuhnya korban lebih banyak, API, Menteng 31, terpaksa mengundurkan diri ke daerah klender. Di Klender dihimpun kembali kekuatan API, banyak anak buah pasukan Muallim Haji Darip yang terpaksa mengundurkan diri dari daerah Jatinegara bergabung dalam API. Kemudian mereka memutuskan untuk mendirikan markas. Mula-mula diusulkan di Cakung - Klender, atau di Tokubetsu-shi (kantor khusus Walikota) di bawah pimpinan Walikota Suwiryo. Muallim Haji Darip, terus mengadakan kontak dengan TNI yang kebanyakan masih berada siap tempur di markasnya masing-masing di daerah perbatasan kota. Inipun juga dalam rangka kesiap siagaan apabila perundingan mendapat jalan buntu. Pada waktu Muallim Haji Darip selesai mengadakan pertemuan di Pondok Gede, ia mendapat kabar bahwa Klender telah diduduki oleh pasukan Belanda sebanyak 14 buah truk. Kemudian diadakan perjanjian antara keduanya, Karena tidak seimbang persenjataannya sehingga pasukan rakyat terpaksa mengundurkan diri ke pedalaman Cikarang, Karawang, hingga Purwakarta. Lalu Muallim Haji Darip membentuk BPRI (Barisan Perang Rakyat Indonesia) Jakarta raya. Dengan pangkat Letnan Kolonel. Penasehat Batalyon AMPI/21/Resimen.7/Brigade 3 Kian Santang/Divisi 1 Siliwangi. Kesatuan BKR dan Muallim Haji Darip benar-benar melaksanakan pertempuran yang berhadapan, yaitu orang lawan orang. Pada tahun 1946 di Karawang terjadi penertiban pasukan laskar rakyat oleh resimen Sadikin. Resimen 6 dan resimen 7 dari mayor sadikin dan mayor omon masing-masing melakukan pengurangan jumlah batalyonnya hingga menjadi 3 batalyon. Sementara itu BPRI Muallim Haji Darip di masukkan menjadi tentara dalam salah satu resimen ini. Muallim Haji Darip dengan rela membubarkan pasukannya itu untuk digabungkan dengan TKR. Selain Muallim Haji Darip, juga ada Kyai Nur Ali Bekasi. Tokoh ulama itu memberikan sugesti agamawi bagi perlawanan rakyat terhadap Belanda. Di pusat kota, yaitu kawasan Senen dan sekitarnya ada Imam Syafi`i yang memimpin para pemuda Senen menghadapi "front" terdepan. Di Kramat Sentiong ada Icang yang pernah menggempur jantung pertahanan Belanda di markas Batalion 10 KNIL, Lapangan Banteng. Mereka sebelumnya dikenal sebagai jago, dan tidak mempunyai catatan yang bernoda. Tatkala dibuka kesempatan bagi pemuda pejuang untuk memasuki ketentaraan maka Syafi`i dan Icang mendaftarkan diri sebagai anggota TNI. Adapun Muallim Haji Darip seusai revolusi fisik terjun dalam partai politik IPKI. Kalau Icang tewas dalam tugas menumpas pemberontakan PKI di Madiun 1948, maka Syafi`i di bidang militer mencapai pangkat Overste. Ia amat mengetahui liku-liku keamanan ibukota, dan ia banyak membantu tugas kepolisian. Mungkin karena itu Bung Karno pada 1966 mengangkat Overste Imam Syafi`i sebagai menteri dalam Kabinet 100 Menteri. Selain mereka itu, juga ada tipe jago yang lain di Betawi, misalnya M Husni Thamrin. Jumlah jago dengan tipe seperti M Husni Thamrin pada saat ini makin banyak dan bidangnya pun makin beragam. Menurut Ridwan Saidi, Husni Thamrin dikenal sebagai tokoh yang pernah ikut serta mengatur pemerintahan kota Batavia di samping sebagai wet hounder, juga sebagai locobur germeester, orang yang mempunyai kekuasaan eksekutif yang bersifat lokal dalam arti penduduk pribumi, bukan dalam pengertian kewilayahan. Orang Betawi lain yang pernah ikut menangani pemerintahan kota Jakarta adalah Syafi`ie yang menjadi wakil gubernur di zaman Ali Sadikin, dan Asmawi Manaf, wakil gubernur di zaman Tjokropranolo. Saat ini muncul jago Betawi, yaitu Fauzi Bowo, yang akrab dipanggil Bang Foke. Dia menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta atau Gubernur DKI Jakarta, setelah sebelumnya ia menjadi wakil gubernur ketika Jakarta dipimpin Sutiyoso. Di bidang ketentaraan juga ada putra Betawi yang pernah mencapai pangkat letnan jenderal. Ia adalah Letjen TNI (Purn) Muhammad Sanif. Semasa aktif, ia pernah menjabat Pangdam Bukit Barisan. Juga ada Mayjen TNI (Purn) H Nachrowi Ramli yang kini memimpin Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi. Selain itu, putra-putra Betawi juga tercatat di bidang lain, seperti di bidang perbankan tampil Abullah Ali yang pernah menjadi Dirut Bank BCA, dan di bidang keilmuan mencuat nama Prof Dr MK Tadjudin yang pernah menjadi Rektor Universitas Indonesia (UI). Zaman telah berubah. Masyarakat Betawi dengan segala kekenyalannya pun berubah. Namun yang pasti jago-jago Betawi itu selalu ada. Salah satu wadah tempat berkumpulnya calon jago-jago Betawi itu adalah Keluarga Mahasiswa Betawi (KMB). Organisasi ekstra kampus yang berdiri pada 1976 itu anggotanya terdiri atas para intelektual Betawi yang merupakan aset bangsa. Setelah lulus dari perguruan tinggi, mereka turut berperan di sejumlah bidang, seperti pemerintahan, parlemen, pendidikan, dunia usaha, dan kebudayaan. Jago-jago Betawi bakal terus bermunculan.
- Sumber : http://www.antaranews.com/print/160927/jago-jago-betawi-bakal-terus-bermunculan, Dien Majid, Darmiati "Jakarta-Karawang-Bekasi dalam gejolak revolusi perjuangan" 1999 Halaman 397, Titiek W.S Majalah Dewi 1975, Lintasan sejarah empat puluh empat tahun BKOW DKI Jakarta (Badan Kerja-sama Organisasi-Organisasi Wanita DKI Jakarta), 1998, Irna Hanny Nastoeti Hadi Soewito, Yayasan Wirawati Catur Panca (Jakarta, Indonesia), 1992., "Lahirnya kelasykaran wanita dan Wirawati Catur Panca", Lasmidjah Hardi, Irna Hanny Nastoeti Hadi Soewito, Gramedia Widiasarana Indonesia, 1997., " Perjalanan Tiga Zaman ", Dinas Museum dan Sejarah Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta, 1993., "Monumen dan patung di Jakarta Raya (Indonesia)", Chaerul Saleh "Tokoh Kontroversial" tim penulis Irna Hanny Nastoeti Hadi Soewito, Bambang Soeprapto, 1993, Sutrisno Kutoyo "Sejarah revolusi fisik Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta"., Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1979, Abdul Haris Nasution DISJARAH-AD, dan Penerbit Angkasa., "Sekitar perang kemerdekaan Indonesia : Periode Linggarjati jilid4", Angkatan Darat, Komando Daerah Militer V/Jaya., Dinas Sejarah Militer Kodam V/Jaya, 1975., "Sejarah perjuangan rakyat Jakarta, Tanggerang dan Bekasi dalam menegakkan kemerdekaan R.I. Indonesia", Lasmidjah Hardi, Yayasan 19 September 1945 (Jakarta, Indonesia),1983., "Samodera merah putih, 19 September 1945"., latar belakang, peristiwa IKADA dan dampaknya, Badan Penggerak Pembina Potensi Angkatan 45 Dewan Harian Daerah DKI Jakarta, 1985 "Riwayat Hidup Haji Darip", G.J. Nawi "Maen Pukulan,"Pencak Silat Khas Betawi".,
Langganan:
Postingan (Atom)
Mengenang dan Meluruskan Sejarah Muallim Haji Darip dan Pertempuran Klender 1945
Di Klender, Klari, Bekasi, Kebayoran lama, Tangerang, dan daerah Banten, para Kyai, dan Alim Ulama mulai menyusun kekuatan untuk menentang ...
-
🔊 Biografi Singkat Murid-murid Muallim Haji Darip Klender Rohimahullohu Ta'ala. ☝Kong Imam Sya'fi'ie Jawara Pejuang Daerah...
-
Oleh : GJ. Nawi (Gusman Natawidjaja) - Maen Pukulan H.Darip Klender Kampung Klender merupakan rawa-rawa tak bertuan. Riwayat keberad...
-
Dikisahkan dari putra ketiga daripada Muallim Haji Darip yakni H.Qomaruddin dengan dua orang rekannya yakni H.Farah dari Kp.Tanah 80, KH...





















