Minggu, 29 Oktober 2017

Intisari Manaqib Muallim Haji Darip Klender

Kedua orang tuanya adalah orang yang taat beragama. Ketika ia menginjak usia remaja, dikirimkannya ke Mekkah untuk Belajar Agama. Selama kurang lebih empat tahun dia tinggal disana. Pada Tahun 1916, sekembalinya dari menimba ilmu agama dan beribadah haji di Mekkah dan Madinah Arab Saudi, dalam Usianya yang genap mencapai 30 tahun adalah bertepatan dengan pecahnya perang dunia pertama menjadi salah satu bekal kepahitan hidup yang ia bawa pulang kerumahnya. Dalam keadaan negrinya yang sedang terjajah, penderitaan saudaranya seagama, sebangsa, dan setanah air yang tidak luput dari pandangan matanya karna kesewenang-wenangan dan kebiadaban penjajah kolonial beserta kaki tangannya yang menyebabkan kematian, kemiskinan, kesulitan hidup, dan kelaparan, hingga menjadikan saudaranya sebangsa, seagama ditanah kelahirannya terpaksa harus melakukan tindak kriminal (bajingan, maling,  pencoleng, dan perampok) demi menghidupi keluarganya dan menuruti hawa nafsunya, namun demikian tidak menyurutkan niatnya untuk berdakwah menyebarkan ilmu agama islam sebagai amanat Tuhannya untuk disampaikan kepada saudaranya seagama muslimin muslimat tanpa memandang status sosialnya yang berbeda-beda ditanah kelahirannya. Berbekal dari ilmu yang didapatnya saat bermukim di tanah suci Mekkah dan Madinah, Ia pun memulai dakwah dan perjuangannya itu dari musholla yang terdekat dengan rumahnya yang kini telah menjadi masjid megah bernama Al Makmur, dan dari musholla ke musholla antar desa di sekitar tanah kelahirannya. Dia adalah H. Muhammad Arif yang dilahirkan di Klender pada tahun 1886,  yang kemudian menjadi terkenal dengan panggilan Muallim Haji Darip sebagai salah satu pelopor perjuangan rakyat Jakarta melawan penjajah dari Klender sebelah timur kota Jakarta. Seorang putra bungsu dari pasangan H. Kurdin dan Hj. Ma 'ih yang juga sebagai pemuka agama sekaligus orang berpengaruh (jago pukul) di Klender.
Hiduplah Muallim Haji Darip sebagai pribadi yang jujur, polos, sederhana, santun,  rendah hati, beradab, murah tangan, penolong, dan sangat menyayangi ayah ibunya serta kerabat dan sanak saudaranya, diiringi pula dengan sifat baktinya yang tinggi kepada ibu dan ayahnya hingga kedua orang tuanya wafat. Selain mengemban tugas dakwah, Muallim Haji Darip juga terpaksa harus mengemban tugas lain dengan membantu memberikan rasa aman kepada penduduk Klender dari para bajingan, maling,  pencoleng, dan perampok yang kian mengganggu dan menimbulkan keresahan serta membuat Muallim Haji Darip risau. Ayahnya yang memang dikenal juga sebagai Jawara (Jago Pukul/Silat), rupanya menitis kepadanya. Muallim Haji Darip sendiri kala itu belum dikenal sebagai jago silat seperti sang ayah. Tetapi, penduduk banyak yang minta bantuannya karna dipercaya bisa membantu mengatasi persoalan bandit, perampok, dan pencoleng. Hingga akhirnya masyarakat Klender meminta kesediaan Muallim Haji Darip untuk menjadi pelindung pedagang beras di stasiun Klender. Permintaan itu kemudian dipenuhi oleh Muallim Haji Darip. Walau dengan terpaksa harus menempuh jalan perkelahian sebagai upaya mengurangi aksi tindak kriminal, semata-mata demi ketenteraman warga masyarakat Klender, sekalipun harus berurusan dengan kepolisian dibawah pemerintahan Hindia Belanda saat itu sampai rela dimasukkan ke penjara, dipukuli, berulang-ulang kali.
Setelah di rasa diperlakukan secara tidak adil oleh pihak kepolisian dan membuat Muallim Haji Darip sangat kesal. "Saya ini bukan pencoleng, tetapi dipenjara kumpul sama mereka, mendapat pukulan seperti juga bajingan-bajingan itu" kisahnya, maka Muallim Haji Darip memutuskan untuk meninggalkan Klender (Jakarta) dan terpaksa menunda perjalanan Dakwahnya. Ditujunyalah tanah Sumatera tepatnya Palembang, Pangkal Pinang, Jambi, dll, dengan menumpang kapal laut tanpa ongkos/tiket bercampur dengan binatang ternak kiriman di kapal tersebut. Kemudian Muallim Haji Darip bekerja sebagai kuli kontrak. Selain itu, selama di Sumatera Muallim Haji Darip mengajar mengaji, menjadi merbot musholla, hingga sampai diangkat menantu oleh kepala suku (orang terpandang) di Pangkal Pinang karna telah berhasil memenangkan proses adu ilmu bela diri/pencak silat (sayembara) yang berlaku kala itu, sebagai budaya melayu berbalas pantun dll. Kira-kira satu setengah tahun kemudian Muallim Haji Darip dipindah kerja ke Martapura, kemudian dipindah dan dipindah lagi, dan berakhir di Tanjung Raja. Sesuatu yang tak disangka datang kepadanya, Muallim Haji Darip bertemu sahabat lama dari Betawi bernama 'Mat Piki' dan menawarkan rumahnya untuk Muallim Haji Darip tinggal selama disana. Namun sahabat yang dikenalnya baik itu ternyata menyimpan rencana tidak baik yang tidak sempat diperhitungkan Muallim Haji Darip. Mat Piki mengajaknya untuk merampok dan tentu saja Muallim Haji Darip menolak dan menasehatinya hingga akhirnya Mat Piki mengurungkan niat dan rencananya itu. Selama di Tanjung Raja, lagi-lagi Muallim Haji Darip mendapat perlakuan semena-mena diantara kuli kontrak yang sok jagoan. Jalan perkelahian pun kembali tak terhindarkan sampai akhirnya Muallim Haji Darip dipanggil atasannya lalu dipindah ditempat lain dan akhirnya Muallim Haji Darip kembali pulang ke Jakarta (Klender).
Sesampainya di Jakarta Muallim Haji Darip terpanggil untuk melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. berangkat dari keridloan ibu, ayah, dan guru-guru, serta orang-orang yang dicintainya, Muallim Haji Darip pergi berjuang bersama-sama Soekarno melawan Belanda di Tanjung Priuk dan Cilincing Jakarta utara, bergerak dibawah tanah. Sejak itulah terjalin hubungan kedekatan dan komunikasi Muallim Haji Darip dengan Soekarno serta tokoh pejuang lainnya dengan sangat baik dan mulai dikenali potensi dan dedikasinya yang tinggi terhadap perjuangan. Muallim Haji Darip pantang menyerah dan tanpa tedeng aling-aling terhadap penjajah. Pada tahun 1942, Jepang berhasil menduduki Indonesia setelah mengalahkan Belanda dalam perebutan kekuasaan. Namun Walau dalam keadaan yang masih terjajah oleh Jepang, bahkan Klender dijadikan sebagai salah satu wilayah Romusha oleh Jepang. Muallim Haji Darip menyempatkan diri untuk melanjutkan dakwahnya dan menambah ilmunya dengan berguru kepada ulama yang berada disekitar Jakarta. Diantara Guru-guru Muallim Haji Darip yang menonjol ialah Al Habib Abdul Qodir bin Muhammad Al Haddad/Wan Kadir (Kp Melayu), Al Habib Abdulloh bin Salim Al Athos (Kebon Nanas), bahkan Al Habib Alwi bin Ahmad Jamalullail (Mangga Besar) sampai mengajar di rumahnya dan berkawan baik dengan para Ulama Tanah Betawi. Tatkala Muallim Haji Darip tak kuasa menyaksikan kebiadaban penjajah Dai Nippon Jepang yang semakin merajalela, korban-korban pembunuhan, penyiksaan, dan pemerkosaan, yang terus berjatuhan, terlebih lagi dengan peristiwa penyuntikan vaksin tetanus yang dilakukan pihak Jepang kepada rakyat di Klender yang sampai memakan korban kurang lebih 1000 orang, ditambah lagi dengan Pidato-pidato Bung Karno yang semakin berkobar-kobar di radio yang didengar Muallim Haji Darip. Maka Muallim Haji Darip kembali menunda dakwah dan belajarnya. Lalu Beliau pun kembali mengejar keridloan orang-orang yang dicintainya, dan memutuskan serta mengambil langkah untuk turut berjuang mengorbankan sepenuh jiwa, raga, harta, dan nyawanya, demi kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia sebagaimana yang di lakukan oleh para pejuang di seluruh Indonesia. Tokoh-tokoh pejuang yang telah melihat potensi Muallim Haji Darip ketika peristiwa perang di Tanjung Priuk melawan Belanda pun datang menemui Muallim Haji Darip mengajaknya untuk sama-sama berjuang mengusir Jepang. Diantaranya Sukarni, Kamaluddin, Pandu Kartawiguna, yang dianggap sebagai tokoh penting dalam pergerakan mewakili golongan muda dari pejuang diseluruh Indonesia serta lainnya. Kemudian Muallim Haji Darip mengumpulkan pengikutnya yang terdiri dari murid dan jamaahnya, pemuda pemudi, yang masih berusia belasan hingga puluhan tahun, dan mengajak para Tokoh-tokoh agama di Klender serta menghimpun narapidana rutan Cipinang dan bajingan-bajingan (buaye-buaye) yang berada dihutan-hutan yang telah tunduk oleh Muallim Haji Darip. Maka terbentuklah BARA (Barisan Rakyat) Indonesia Jakarta raya yang dibentuk dan dipimpin oleh Muallim Haji Darip sendiri. Sebelum berperang, sebagai orang yang mengerti agama, terlebih dahulu ia berdoa dan berikhtiar, berupaya untuk dapat mengimbangi kekuatan musuh (Jepang dan Belanda yang memiliki persenjataan lengkap dan modern), sedangkan Muallim Haji Darip dan Laskarnya yang hanya bermodal keberanian, golok, dan bambu runcing, serta tangan kosong. maka Muallim Haji Darip melakukan ritual membacakan doa dan meminta perlindungan dan keselamatan kepada Alloh SWT untuknya dan anggota BARA melalui wasilah air (air sumur) yang biasa digunakan untuk mensucikan diri, seperti mandi hadats dan wudhu. Kemudian setelah air tersebut telah selesai di doakan, Muallim Haji Darip memandikan seluruh anggota BARA yang telah siap berperang. Selanjutnya sebagai wujud dan untuk meyakinkan dirinya dan Anggota BARA bahwa doanya itu terkabul dan bahwa air yang dibacakan doa itu telah meresap kedalam tubuh, maka Muallim Haji Darip menguji cobanya dengan membacokkan golok disekujur badan anggota laskar BARA. Alhasil, Ikhtiar dan doanya itupun berhasil. Anggota laskar BARA telah mengaugerahi kekebalan dari senjata tajam dan api dari Alloh Swt. Selain itu Muallim Haji Darip juga memberikan modal spiritual lainnya melalui penanaman prinsip perjuangan sebagaimana ajaran agama islam kepada anggota BARA yang diambilnya dari salah satu hadits Nabi Muhammad Saw yang berbunyi "Cinta Tanah Air itu Sebagian Dari Iman," agar kiranya mereka yang terlibat dan dilibatkan Muallim Haji Darip dalam berjuang mengusir penjajah bisa dimengerti anggotanya,  bahwasanya perbuatan membela negara dengan mengorbankan nyawa, itu adalah satu diantara jalan menyempurnakan iman umat islam dan memiliki nilai dan kedudukan pangkat yang tinggi serta pahala yang besar disisi Alloh Swt. Muallim Haji Darip juga melarang mereka didalam peperangan melakukan hal-hal  yang dilarang oleh agama yang dapat menodai dan mencederai kemurnian perjuangannya, serta tidak bertindak melainkan atas perintah darinya. Maka setelah Muallim Haji Darip merasa telah cukup membekali secara mental dan spiritual bagi laskar BARA, mereka mulai melakukan penyerangan terhadap bala tentara Jepang dan  bertempur diseluruh front dikota Jakarta. Terutama di daerah Sunter, Jatinegara, Cipinang Cempedak, Pangkalan Jati, Pondok Gede, dll. Menerima serangan dari BARA, pihak Jepang menjadi geram dan membuatnya merasa terancam. Pihak Jepang kemudian melakukan siasat untuk menundukkan Muallim Haji Darip dengan bujuk rayu harta dan jabatan kepada Muallim Haji Darip. Namun usaha Jepang tidak berhasil, karna Muallim Haji Darip tidak bisa di tundukkan dengan pemberian harta dan jabatan agar menghentikan perjuangannya. Maka Jepang mengambil langkah penangkapan terhadap Muallim Haji Darip sebagai sang ketua BARA. Setelah diketahui bahwa dirinya akan ditangkap, Muallim Haji Darip melarikan diri dan bersembunyi mulai dari daerah Klender, Pulogadung, Bekasi, Karawang, Cikampek, hingga Purwakarta sekitar tahun 1943. Namun akhirnya Jepang berhasil menangkap Muallim Haji Darip, setelah di khianati oleh kawannya sendiri yang memberitahukan tempat persembunyiannya. Dua tahun Muallim Haji Darip mendekam dipenjara dan terpidana mati. Sebelum di eksekusi mati, Muallim Haji Darip menerima penyiksaan secara tak manusiawi dari tentara Jepang. Selama dipenjara Muallim Haji Darip tetap menjadi pribadi yang sabar dan tetap taat beribadah. Menjelang eksekusi mati, tentara Jepang menawarkan satu permintaan terakhir kepada Muallim Haji Darip. Lantas tawaran tentara Jepang langsung disambut dengan perkataan Muallim Haji Darip dengan menyatakan bahwa dirinya bukan Darip yang kalian cari, tapi saya Muhammad Arif. Ternyata Perkataan Muallim Haji Darip membuat bimbang tentara Jepang dan mereka segera mengecek dokumen tentang Muallim Haji Darip. Alhasil tentara yang menyimpan dokumen Muallim Haji Darip sedang pulang ke Jepang, Muallim Haji Darip pun selamat dari eksekusi mati dan dimasukan lagi kedalam tahanan. Ketika tragedi bom atom yang menimpa Hiroshima jatuh pada awal agustus 1945, sebagian tentara Jepang memilih kembali ke negrinya. melihat tentara Jepang yang tersisa di penjara tinggal sedikit, anak buah Muallim Haji Darip kemudian menyusun strategi untuk membebaskan sang pimpinan. perjuangan pun tak sia-sia, akhirnya Muallim Haji Darip berhasil dibebaskan. Setelah bebas dari penjara, Soekarno datang menemui Muallim Haji Darip untuk berkomunikasi mengatur strategi peperangan. Setelah itu Muallim Haji Darip bersama BARA melakukan pembersihan tentara Jepang yang bertugas didaerah pinggiran-pinggiran kota. Sukarni pun datang menemui Muallim Haji Darip dan memberitahukan bahwa Indonesia sebentar lagi akan merdeka. Mendengar berita dari Sukarni, Muallim Haji Darip mengerahkan segenap kekuatan yang ada untuk mempersiapkan Kemerdekaan dengan segala keperluan yang dibutuhkan dan memerintahkan BARA untuk menjaga ketat Klender yang telah menjadi gudang persenjataan dan logistik bagi keperluan para pejuang di Jakarta dari hasil rampasan tentara Jepang. Seiring dengan keberaniannya dalam aksi-aksi heroik yang dilakukan Muallim Haji Darip bersama BARA, membuat reputasinya menjulang tinggi dan terkenal keseluruh pelosok Jakarta. Julukan Panglima Perang pun disandangnya, Generalismo Klender 1945. Tokoh-tokoh seperti Jo Abdurrachman, Kartini Radjasa, Zus Ratulangie, Lasmidjah Hardi, Erna Djajadiningrat, datang kepada Muallim Haji Darip untuk menyampaikan dan membicarakan siasat perjuangan sekitar masalah pertahanan, dan bagaimana koordinasi meningkatkan efisiensi mencari bahan persediaan makanan dan pakaian untuk disuplay kepada pejuang yang bertugas di Jakarta. Setelah Jepang menyerah tanpa syarat, Sukarni, Chaerul Saleh, dll melakukan penculikan terhadap Soekarno-Hatta, untuk dibawa ke Rengas Dengklok, Soekarno meminta agar mereka mengajak Muallim Haji Darip. Maka perjalanan terhenti di Klender untuk menjemput Muallim Haji Darip. Saat tiba di Rengas Dengklok, Soekarno-Hatta ditempatkan dirumah yang tidak layak dipinggir kali. Lalu Muallim Haji Darip mengusulkan kepada Sukarni dan kawan-kawannya agar menempatkan Soekarno-Hatta dirumah yang layak. Maka ditujunyalah rumah warga etnis tionghoa yang bernama Djie Kiaw Siong. Hal itu dilakukan Muallim Haji Darip sebagai bentuk penghormatan Muallim Haji Darip kepada Soekarno-Hatta yang dianggap sebagai calon pemimpin bangsa yang harus dihormati. Setelah proklamasi kemerdekaan berhasil diselenggarakan dikediaman Bung Karno pada 17 Agustus 1945, Soekarno berkunjung ke Klender dan memimpin rapat akbar dalam rangka persiapan menghadapi Belanda yang telah diketahui Soekarno akan kembali menjajah. Soekarno mengobarkan semangat perjuangan rakyat Klender untuk tetap turut mempertahankan kemerdekaan. Kemudian Muallim Haji Darip dan BARA yang mengemban tugas untuk melakukan mobilisasi ke seluruh Jakarta dan sekitarnya, mulai membentuk jaringan-jaringan antar pejuang di Jakarta dan Badan-badan perjuangan pun dibentuk dalam rangka bersiap. Pada tanggal 05 Oktober 1945, di Tanjung Priuk telah merapat 7 buah kapal Belanda berisi penuh dengan serdadu-serdadu dan Korps Marinir bersenjata lengkap dan modern. Mereka diangkut dengan mobil-mobil palang merah Belanda ke tangsi-tangsi jagamonyet, Gunung Sahari, dan lain-lain dibawah perlindungan tentara Inggris.
Pada tanggal 12 Oktober 1945 tangsi jagamonyet mendapat serangan dari para pemuda Petojo yang bekerjasama dengan para pemuda Senen dari pasukan OPI (Oesaha Pemuda Indonesia), API batak (Angkatan Pemuda Indonesia), dan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi). Pertempuran berkobar sampai ke Harmoni dan Pintu Air.
Pihak NICA membalas dengan aksi-aksi pembersihan, menggempur markas-markas pemuda kita. Akibatnya setiap hari berkobar pertempuran seru, terutama di daerah-daerah Tanah Tinggi, Senen, Kramat, Gang Sentiong, Jatinegara, Rawa Bangke (sekarang Rawa Bunga), Cilincing, Klender, Kalibaru, Menteng, Jagamonyet, Kebayoran, Kalibata, Cililitan, dan Pondok Gede.
Pada tanggal 15 oktober 1945 ketika tentara Inggris hendak menduduki Klender, Muallim Haji Darip bersama BARA melakukan penyerangan dengan gagah berani dan mendapat bantuan dari satu kompi TKR yang bersenjatakan karaben. Maka berkobarlah pertempuran hebat, di mana kelewang dan sangkur ikut digunakan dalam pertempuran jarak dekat seorang lawan seorang. Banyak korban yang jatuh akibat pertempuran tersebut. Untuk menghormati jasa-jasa mereka yang gugur dalam peristiwa tersebut, pemerintah dan rakyat jakarta mengibarkan bendera setengah tiang. Tentara Inggris rupanya tidak menduga akan mendapat serangan semacam itu. Banyak di antara mereka yang gugur menghadapi serangan massal dari segala jurusan sehingga mereka tidak dapat bertempur sebagaimana mestinya. Akibatnya di pihak Inggris pun tidak sedikit jatuh korban. Mereka kemudian melakukan serangan balasan yang menimbulkan tidak sedikit korban di kalangan rakyat, dan akhirnya mereka berhasil juga menduduki Klender. Akan tetapi di malam hari tentaranya selalu di tarik kembali ke dalam kota. Mungkin mereka masih kuatir akan menghadapi lagi serangan massal seperti tempo hari, karena rakyat tidak lagi menghiraukan bahaya.
Pada tanggal 16 Oktober 1945 pangkalan Belanda di pondok gede mendapat giliran serangan rakyat. Dan bersamaan dengan itu kedudukan musuh di Pasar Minggu dan Klender juga di serang. Serangan terhadap Pondok Gede di pelopori dengan tiga kompi pasukan penggempur yang bersenjata lengkap, terdapat pula senapan-senapan otomatis. Pasukan Belanda yang akan di serang. Kekuatannya terdiri dari dua kompi bersenjata lengkap. Mereka telah membangun perbentengan di sekeliling tangsinya.
BARA yang di persenjatai dengan bom-bom batok (sebutan untuk ranjau darat) dan granat tangan di tempatkan antara Cawang dan Pondok Gede dengan tujuan untuk menghadang musuh atau bala bantuan musuh yang mungkin di datangkan dari Jatinegara.
Pertempuran segera berkobar. Dan setelah berlangsung kurang lebih 3 Jam, BARA berhasil memperoleh kemajuan. Mereka berhasil merampas beberapa pucuk senapan dan membakar tiga buah truk musuh. Tetapi mereka tidak berhasil memasuki perbentengan.
Untuk meningkatkan perlawanan rakyat, maka pada bulan November 1945, wakil presiden Muhammad Hatta, mengadakan pertemuan dengan para pemuka perjuangan seluruh Jakarta dalam rangka mengkoordinasi mereka. Pertemuan itu di langsung kan di rumah kediaman beliau (Bung Hatta) sendiri. Hadir dalam pertemuan itu para utusan badan-badan perjuangan Jakarta dan sekitarnya. Jakarta diwakili oleh Kusno Utomo, Pohan, dan Hasibuan. Klender diwakili oleh Muallim Haji Darip dan Pak Asa. Jatinegara diwakili oleh Tohir Mangkudijaya dan Simbangan; Tanjung Priuk diwakili oleh Abdul Malik dan Abdul Rakhman. Bekasi diwakili oleh Muhayyar. Tambun diwakili oleh Tabrani. Cibarusa dan Cileungsi diwakili oleh Manaf Roni, Pak Macan, dan Wahidin. Menteng 31 diwakili oleh Amir Syarifuddin dan Hendromartono.
Petang harinya pertemuan itu dilanjutkan di kediaman Bung Karno dan dipimpin sendiri oleh Bung Karno. Semua anggota kabinet ikut hadir. Juga Kepala Kepolisian Negara ikut hadir.
Dalam pertemuan itu Bung Karno meminta agar gerakan menghadapi NICA diperhebat. Tetapi disamping itu usaha untuk mencegah terjadinya penggedoran-penggedoran, juga harus di perhebat. Peristiwa penggedoran di daerah Jatinegara dan Bekasi, menurut Bung Karno sangat memalukan dan karenanya harus diusahakan agar jangan sampai terulang kembali. Untuk memudahkan koordinasi, maka rapat memutuskan menetapkan pemuda Wahidin untuk duduk mewakili badan-badan perjuangan di pemerintah pusat. Ketika situasi Jakarta semakin memanas, maka untuk menjaga jangan sampai kehabisan peluru dan menghindarkan jatuhnya korban lebih banyak lagi, API, Menteng31, terpaksa mengundurkan diri ke Klender dan menghimpun kekuatan. atas perintah pemerintah BARA bersama laskar pejuang lainnya terpaksa mengundurkan diri ke pedalaman Tambun, Cikarang, Bekasi, Karawang, hingga Purwakarta. Pada tahun 1946, Muallim Haji Darip dengan rela membubarkan pasukannya untuk di gabungkan dengan TKR. Begitu pula saat Muallim Haji Darip membentuk BPRI (Barisan Perang Rakyat Indonesia) di Cikarang Bekasi yang tersebar hingga ke Karawang, Cikampek, Purwakarta, Bandung dan Cirebon Jawa barat. dengan pangkat Letkol. Penasehat Batalyon AMPI/Res.7/Divisi 1 Siliwangi. Dan ketika resimen Sadikin melakukan penertiban terhadap laskar rakyat jakarta raya (LRJR) di Karawang, BPRI Muallim Haji Darip dilebur menjadi TKR dan masuk kedalam Resimen 7 Divisi 1 Siliwangi dibawah komando Mayor Sadikin. Pada tahun 1948, Muallim Haji Darip tertangkap Belanda di Purwakarta. Lagi-lagi karna di Khianati oleh kawan seperjuangannya sendiri. Namun kali ini, orang yang telah mengkhianati Muallim Haji Darip harus mati ditangan orang-orang yang setia kepada Muallim Haji Darip. Saat dipenjara Muallim Haji Darip mengirim surat kepada Soekarno agar membebaskannya, konon surat itu diterima oleh Fatmawati istri Soekarno di istana negara. namun Soekarno tidak bisa memenuhi permintaan Muallim Haji Darip karna Soekarno yakin bahwa Muallim Haji Darip akan bebas dalam waktu dekat dan tidak akan mati dipenjara. Akhirnya setelah penyerahan kedaulatan pada akhir bulan desember tahun 1949, Muallim Haji Darip bebas dari penjara dan disambut rasa suka cita oleh rakyat Klender.
Kira-kira bulan mei dan Juni 1950, Muallim Haji Darip dipanggil Soekarno ke Istana Cipanas. Beliau dijemput oleh Letnan Ishaq Latief. Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh Menteri Pertahanan Hamengkubuwono. Soekarno menyambut dan memeluk Muallim Haji Darip sambil menangis. Soekarno lalu menjelaskan tentang surat Muallim Haji Darip yang dikirimkan untuknya. Usai perang kemerdekaan dan masa revolusi, timbul masalah baru menyangkut keamanan di ibukota dan sekitarnya, yang disebabkan masalah sosial (social malaise), kemiskinan, ketiadaan lapangan kerja, dan aparat keamanan serta pemerintahan yang belum berfungsi sepenuhnya. Zaman itu dikenal sebagai zaman Nogut (No Good) kriminalitas dan dunia bawah (onderwereld) merajalela, mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat terutama dibidang ekonomi dan perniagaan. Situasi ini pula membuat Muallim Haji Darip didatangi warga masyarakat Klender dan sekitarnya terutama warga dari etnis tionghoa untuk mencari solusinya karna dianggap bisa diandalkan. Maka Muallim Haji Darip memerintahkan warga masyarakat agar memasang foto-foto dirinya dirumah-rumah mereka. Dan ternyata perintah Muallim Haji Darip untuk memasang foto dirinya didalam memberikan solusi bagi masyarakat yang merasa resah membuahkan solusi yang ampuh. Maka tersebar luaslah foto-foto Muallim Haji Darip di Klender, Jatinegara, Pulogadung dan sekitarnya. Dimana Bandit-bandit, pencoleng, maling, perampok, akan berpikir seribu kali jika ingin beraksi pada rumah yang  terpampang foto Muallim Haji Darip. Kemudian pada saat pemerintah pusat sedang menghadapi persoalan pemberontakan Kartosoewiryo (DI/TII), Soekarno mengirim surat kepada Muallim Haji Darip. Didalam isi surat itu Soekarno meminta tolong kepada Muallim Haji Darip untuk membantunya menyelesaikan persoalan pemberontakan gerombolan Kartosoewiryo (DI/TII) yang berada dihutan-hutan dan gunung-gunung di Jawa barat. Dan permintaan Soekarno dipenuhi oleh Muallim Haji Darip dan dilaksanakan. Setelah Muallim Haji Darip sampai di markas Kartosoewiryo tiba-tiba, "Jangan Bergerak....Angkat Tangan...!!!!, Siapa Kamu ? " saya Haji Darip...Ohh...Pak Haji...lalu sang penjaga melapor kepada Kartosoewiryo, bahwa Muallim Haji Darip ingin bertemu dengannya. Kemudian Kartosoewiryo memerintahkan anak buahnya untuk mengantar Muallim Haji Darip....terjadilah dialog antara Muallim Haji Darip dan Kartosoewiryo...didalam dialog itu Muallim Haji Darip meminta kepada Kartosoewiryo agar turut bergabung dengan pemerintahan Republik Indonesia dibawah kepemimpinan Soekarno-Hatta". Namun usaha Muallim Haji Darip tidak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan. Hingga Pemerintah menggunakan cara yang lebih tegas lagi kepada Kartosoewiryo dan akhirnya ia pun ditangkap dan dihukum mati. Didalam menghabisi masa tuanya Muallim Haji Darip lebih banyak berdakwah, mengajar mengaji, sambil berdagang kelontong dan kain sarung di Pasar Klender yang berdekatan dengan rumahnya. Dan Muallim Haji Darip lebih memilih jalan tawadlu dan tidak ingin terlalu muncul di pemerintahan. Bahkan, dia rela tunjangan dan pensiunnya dicabut dan rumahnya tergusur. Yang perpenting baginya berjuang lillahi ta'ala. "Beliau tidak memiliki tanda jasa karna tak mau mengurusnya. Perjuangannya semata-mata karena Alloh Swt," kata Soetopo Sekretaris umum DHD 45 DKI Jakarta. Namun Muallim Haji Darip tetap memperhatikan nasib anak buahnya yang membutuhkan pensiunan veteran pejuang. Karena ketika anak buahnya akan mengurus pensiunan veteran pejuang harus mendapatkan tanda tangan Muallim Haji Darip selaku atasannya. Sikapnya yang tak mau menonjol, tercermin pula ketika berulang kali menolak untuk diwawancarai wartawan. Tapi pada tahun 1976, berkat bantuan Pak Aseni kawan seperjuangan Muallim Haji Darip, Titiek WS Redaktur Pelaksana Majalah DEWI yang kemudian beralih ke Majalah SERASI, satu-satunya wartawati yang berhasil mewawancarainya. "Kala itu saya bertandang ke rumahnya di belakang Pasar Klender. Sungguh sederhana, sikap hidupnya. Rumahnya pun tak mencerminkan bahwa beliau memiliki kisah perjuangan yang sangat berarti bagi nusa dan bangsanya," kesan Titiek WS. "Puluhan wartawan datang kemari untuk mewawancarai saya, tetapi saya tolak. Perjuangan yang saya baktikan bukan untuk dibicarakan. Saya berjuang semata-mata demi kemerdekaan bangsa dan negara," kata Muallim Haji Darip, seperti yang dikutip Titiek WS. Pada hari sabtu pukul 00.00 dinihari tanggal 13 Juni 1981, Muallim Haji Darip menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Islam Jakarta selama beberapa hari. Mendengar berita meninggalnya Muallim Haji Darip yang disiarkan radio RRI, maka pemerintah bersama DHD Angkatan 45 Jakarta melayat dan meminta agar jenazahnya disemayamkan di TMP Kalibata bersama para pejuang lainnya. Namun keluarga Muallim Haji Darip menolak atas wasiat Muallim Haji Darip sebelum meninggalnya agar jasadnya di semayamkan bersama-sama dengan kerabat dan sanak family Muallim Haji Darip di TPU Arrahman Kp.Tanah Koja Jatinegara Kaum Pulogadung. Kemudian pemerintah tetap menghargai wasiat Muallim Haji Darip yang disampaikan keluarganya dan pemerintah pun memberikan penghormatan yang terakhir kalinya untuk Muallim Haji Darip dengan membantu proses pemakaman Muallim Haji Darip yang dilakukan secara militer sebagaimana umumnya para pejuang yang dimakamkan di TMP Kalibata. Demikianlah pemerintah mengenal dan mencatatnya sebagai tokoh pejuang yang dikenal baik oleh kawan seperjuangan Angkatan 45 diseluruh Indonesia, bahkan oleh lawan, terutama tentara Inggris dan Belanda/NICA yang pernah berhadapan dalam medan pertempuran. Muallim Haji Darip tidak memiliki catatan kejahatan sepanjang perjalanan menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan wafatnya Muallim Haji Darip, rakyat dan Bangsa Indonesia kehilangan seorang pejuang yang betul-betul penuh ketauladanan. Pangkat, jabatan, simpati, puja puji manusia, dan penghargaan apapun tak pernah melintasi benak hati dan pikirannya. Bahkan Muallim Haji Darip berpesan kepada keluarganya agar tidak perlu menuntut apa-apa kepada pemerintah atas segenap perjuangan, pengorbanan, dan pengabdiannya untuk Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bersambung...



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mengenang dan Meluruskan Sejarah Muallim Haji Darip dan Pertempuran Klender 1945

Di Klender, Klari, Bekasi, Kebayoran lama, Tangerang, dan daerah Banten, para Kyai, dan Alim Ulama mulai menyusun kekuatan untuk menentang ...