⌚ Sekitar Proklamasi Kemerdekaan RI 1945, Jakarta Raya ⌚
👣 Napak Tilas Muallim Haji Darip 👣
👉 Pahlawan Betawi Tanpa Pamrih Tanpa Tanda Jasa 👈
✊ Panglima Perang dari Klender ✊
💂 Pemimpin BARA (Barisan Rakyat) Indonesia Jakarta Raya 1945 💂
📚 Dokter Gerilya 📚
👥 Kesaksian Para Pelaku Peristiwa 👥
👮 Dr. Satrio 👮
👉 Pahlawan Nasional Kesehatan 1945 👈
📝 By : Matia Madjiah 📝
⚠ PT. Balai Pustaka (Hak Cipta) ⚠
📅 1997 📅
👌 Semoga Bermanfaat 👌
Pada tanggal 05 Oktober 1945, di Tanjung Priuk telah merapat 7 buah kapal Belanda berisi penuh dengan serdadu-serdadu dan Korps Marinir bersenjata lengkap dan modern. Mereka diangkut dengan mobil-mobil palang merah Belanda ke tangsi-tangsi jagamonyet, Gunung Sahari, dan lain-lain dibawah perlindungan tentara Inggris.
Pada tanggal 12 Oktober 1945 tangsi jagamonyet mendapat serangan dari para pemuda Petojo yang bekerjasama dengan para pemuda Senen dari pasukan OPI (Oesaha Pemuda Indonesia), API batak (Angkatan Pemuda Indonesia), dan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi). Pertempuran berkobar sampai ke Harmoni dan Pintu Air.
Pihak NICA membalas dengan aksi-aksi pembersihan, menggempur markas-markas pemuda kita. Akibatnya setiap hari berkobar pertempuran seru, terutama di daerah-daerah Tanah Tinggi, Senen, Kramat, Gang Sentiong, Jatinegara, Rawa Bangke (sekarang Rawa Bunga), Cilincing, Klender, Kalibaru, Menteng, Jagamonyet, Kebayoran, Kalibata, Cililitan, dan Pondok Gede.
Pada tanggal 15 oktober 1945 ketika tentara Inggris hendak menduduki Klender, tiba-tiba dari rumah-rumah penduduk bermunculan barisan-barisan rakyat yang bersenjatakan golok dan bambu runcing, menyerang mereka. Ternyata barisan rakyat itu dipimpin oleh Muallim Haji Darip. Mereka melakukan penyerangan dengan gagah berani dan mendapat bantuan dari satu kompi TKR yang bersenjatakan karaben. Maka berkobarlah pertempuran hebat, di mana kelewang dan sangkur ikut digunakan dalam pertempuran jarak dekat seorang lawan seorang. Banyak korban yang jatuh akibat pertempuran tersebut. Untuk menghormati jasa-jasa mereka yang gugur dalam peristiwa tersebut, pemerintah dan rakyat jakarta mengibarkan bendera setengah tiang. Tentara Inggris rupanya tidak menduga akan mendapat serangan semacam itu. Banyak di antara mereka yang gugur menghadapi serangan massal dari segala jurusan sehingga mereka tidak dapat bertempur sebagaimana mestinya. Akibatnya di pihak Inggris pun tidak sedikit jatuh korban. Mereka kemudian melakukan serangan balasan yang menimbulkan tidak sedikit korban di kalangan rakyat, dan akhirnya mereka berhasil juga menduduki Klender. Akan tetapi di malam hari tentaranya selalu di tarik kembali ke dalam kota. Mungkin mereka masih kuatir akan menghadapi lagi serangan massal seperti tempo hari, karena rakyat tidak lagi menghiraukan bahaya.
Pada tanggal 16 Oktober 1945 pangkalan Belanda di pondok gede mendapat giliran serangan rakyat. Dan bersamaan dengan itu kedudukan musuh di Pasar Minggu dan Klender juga di serang. Serangan terhadap Pondok Gede di pelopori dengan tiga kompi pasukan penggempur yang bersenjata lengkap, terdapat pula senapan-senapan otomatis. Pasukan Belanda yang akan di serang. Kekuatannya terdiri dari dua kompi bersenjata lengkap. Mereka telah membangun perbentengan di sekeliling tangsinya.
BARA yang di persenjatai dengan bom-bom batok (sebutan untuk ranjau darat) dan granat tangan di tempatkan antara Cawang dan Pondok Gede dengan tujuan untuk menghadang musuh atau bala bantuan musuh yang mungkin di datangkan dari Jatinegara.
Pertempuran segera berkobar. Dan setelah berlangsung kurang lebih 3 Jam, BARA berhasil memperoleh kemajuan. Mereka berhasil merampas beberapa pucuk senapan dan membakar tiga buah truk musuh. Tetapi mereka tidak berhasil memasuki perbentengan.
Akibat pertempuran-pertempuran itu regu-regu gerak cepat dari PMI yang dipimpin oleh Dr.Satrio setiap hari sibuk terus. Mereka bukan saja bergerak secara mobil untuk memberikan pertolongan terhadap korban-korban pertempuran, tetapi juga sibuk melatih PPPK kepada para pemuda pemudi anggota PMI di seluruh pelosok Jakarta.
Pada waktu Dr.Satrio membentuk pasukan gerak cepat PMI, perlengkapan yang dimilikinya hanyalah berupa man power yang dipenuhi dengan tekad untuk mengabdi di lapangan yang sesuai dengan kecakapannya. Perlengkapan lainnya belum ada dan masih harus di usahakan.
Melalui CBZ (Centraal Burgerlijk Ziekenhuis / Rumah Sakit Umum Pusat) sekarang RSCM, diusahakan obat-obatan dan perlengkapan keperluan PPPK. Kendaraan-kendaraan untuk keperluan regu-regu gerak cepat diperoleh sebagai pinjaman dari instansi lain dengan jalan diplomasi. Sebagian lagi diperoleh dengan menyerobot kendaraan Jepang dan kendaraan yang dianggap tidak bertuan. Usaha untuk memperoleh kendaraan itu dipelopori oleh mahasiswa Djaka Sutadiwira seorang pemuda energik dengan pembawaan periang. Pemuda ini sangat lincah dalam bergerak dan mudah menarik simpati orang dalam bergaul. Ia memiliki kesanggupan untuk melakukan macam-macam tugas. Menolong yang luka-luka dari medan pertempuran, menjadi pengemudi, berdiplomasi, dan kalau perlu ia juga berani menyerempet-nyerempet bahaya masuk ke daerah musuh. Pemuda inilah yang menjadi pembantu utama Dr.Satrio.
Untuk meningkatkan perlawanan rakyat, maka pada bulan November 1945, wakil presiden Muhammad Hatta, mengadakan pertemuan dengan para pemuka perjuangan seluruh Jakarta dalam rangka mengkoordinasi mereka. Pertemuan itu di langsung kan di rumah kediaman beliau (Bung Hatta) sendiri. Hadir dalam pertemuan itu para utusan badan-badan perjuangan Jakarta dan sekitarnya. Jakarta diwakili oleh Kusno Utomo, Pohan, dan Hasibuan, Klender diwakili oleh Muallim Haji Darip dan Pak Asa, Jatinegara diwakili oleh Tohir Mangkudijaya dan Simbangan, Tanjung Priuk diwakili oleh Abdul Malik dan Abdul Rakhman, Bekasi diwakili oleh Muhayyar, Tambun diwakili oleh Tabrani, Cibarusa dan Cileungsi diwakili oleh Manaf Roni, Pak Macan, dan Wahidin, Menteng 31 diwakili oleh Amir Syarifuddin dan Hendromartono.
Petang harinya pertemuan itu dilanjutkan di kediaman Bung Karno dan dipimpin sendiri oleh Bung Karno. Semua anggota kabinet ikut hadir. Juga Kepala Kepolisian Negara ikut hadir.
Dalam pertemuan itu Bung Karno meminta agar gerakan menghadapi NICA diperhebat. Tetapi disamping itu usaha untuk mencegah terjadinya penggedoran-penggedoran, juga harus di perhebat. Peristiwa penggedoran di daerah Jatinegara dan Bekasi, menurut Bung Karno sangat memalukan dan karenanya harus diusahakan agar jangan sampai terulang kembali. Untuk memudahkan koordinasi, maka rapat memutuskan menetapkan pemuda Wahidin untuk duduk mewakili badan-badan perjuangan di pemerintah pusat.
Pasukan Muallim Haji Darip Klender.
Tentara Inggris Menduduki Klender.
Tentara Inggris mendapat serangan rakyat.
Pemeriksaan yang dilakukan pihak tentara Inggris kepada rakyat Klender.
Setelah pertempuran.
Saksi yang sunyi puing puing bekas pertempuran Klender.
Piagam penghargaan sebagai tanda Muallim Haji Darip seorang Pejuang.
Sumber foto : sobatsbollenstreek.nl , national archief , keluarga Muallim Haji Darip.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar